Jodie Foster: Film F1 Terasa Seperti Buatan AI, Bukan Sutradara Manusia
Baca dalam 60 detik
- Jodie Foster menyebut film balap F1 yang dibintangi Brad Pitt memiliki struktur naratif dan dialog yang terlalu kaku, mirip hasil generasi kecerdasan buatan.
- Pernyataan itu disampaikan dalam diskusi tentang dominasi AI di Hollywood, di mana Foster khawatir teknologi bisa menggantikan peran kreatif manusia.
- Tim produksi F1 membantah, mengklaim efek visual hanya digunakan untuk memperkuat adegan berbahaya, bukan untuk menggantikan akting atau penulisan skenario.

Aktris sekaligus sutradara Jodie Foster melontarkan kritik tajam terhadap film balap F1 yang dibintangi Brad Pitt. Menurutnya, film yang meraup jutaan dolar itu terasa seperti hasil kerja kecerdasan buatan (AI), bukan sentuhan kreatif manusia. Pernyataan itu ia sampaikan dalam sesi diskusi di Aspen Ideas Festival, Colorado, Selasa (30/6/2026), yang membahas dampak AI terhadap industri perfilman.
Foster, yang pernah menyutradarai sejumlah film seperti Money Monster dan Little Man Tate, menilai bahwa struktur naratif F1 terlalu mengikuti pola standar yang diajarkan di sekolah film. โPara aktor menyampaikan dialog persis seperti yang akan ditulis komputer jika diminta menulis sesuatu yang tepat pada momen itu,โ ujarnya. Ia menambahkan, meskipun film tersebut sukses secara komersial dan meraih empat nominasi Oscar termasuk Film Terbaik, kesan buatan mesin sangat kental.
Komentar Foster muncul di tengah kekhawatiran bahwa AI dapat menggantikan penulis naskah dan aktor. Ia mengakui bahwa teknologi face-swapping dan efek visual canggih sudah banyak digunakan, bahkan oleh pembuat film amatir. โKita sudah melakukannya. Pertukaran wajah dan semua hal yang bisa kalian lakukan di iPhone, bisa kami lakukan lebih baik dengan profesional,โ katanya. Namun, ia memperingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada AI bisa menghilangkan keunikan karya manusia.
Di sisi lain, tim produksi F1 membantah bahwa AI mendominasi proses kreatif. Supervisor efek visual Ryan Tudhope menjelaskan bahwa mereka mengutamakan efek praktis di lokasi syuting. โKami memiliki dua atau tiga mobil APXGP di lintasan, lalu secara visual kami mengganti dan menambahkan mobil lain di latar belakang agar terlihat seperti sedang balapan,โ ujarnya kepada The Hollywood Reporter. Tudhope menambahkan bahwa beberapa adegan berbahaya memang menggunakan mobil F3 yang lebih kecil, tetapi kemudian digantikan dengan mobil APXGP melalui efek visual.
Pernyataan Foster memicu perdebatan tentang batas penggunaan AI dalam industri kreatif. Di Indonesia, isu ini relevan mengingat maraknya konten buatan AI di media sosial dan film pendek. Beberapa sineas Tanah Air mulai mengadopsi teknologi serupa untuk efisiensi biaya, namun khawatir akan hilangnya sentuhan artistik. Apakah AI akan menjadi alat bantu atau justru pengganti kreativitas manusia? Jawabannya mungkin bergantung pada sejauh mana industri film bersedia mempertahankan esensi karya buatan manusia.



