Fandom Online di Indonesia: Antara Komunitas Hangat dan Perang Penggemar
Baca dalam 60 detik
- Perilaku toksik di komunitas penggemar sering kali dipicu oleh kompetisi, algoritma media sosial, dan anonimitas, bukan sekadar sifat dasar penggemar.
- Fandom besar seperti ARMY BTS menunjukkan bahwa minoritas kecil yang berisik bisa mendominasi persepsi publik, padahal mayoritas anggota justru aktif dalam kegiatan sosial.
- Para penggemar kini semakin sadar untuk memilih ruang digital yang sehat, beralih ke interaksi langsung, dan menyeimbangkan kecintaan mereka dengan kehidupan nyata.

Di balik gemerlap konser dan euforia media sosial, komunitas penggemar—dari ARMY BTS hingga Swifties—kerap dilabeli sebagai sarang perilaku toksik. Namun, anggapan itu terlalu menyederhanakan realitas yang jauh lebih kompleks: fanatisme yang tampak agresif sering kali merupakan produk dari tekanan kompetisi, desain platform digital, dan dinamika sosial yang membentuk cara penggemar mengekspresikan dukungan mereka.
Fenomena fan war, review bombing, hingga perundungan siber memang bukan isapan jempol belaka. Pada 2020, penyanyi Charlie Puth secara terbuka meminta penggemar BTS berhenti melecehkannya, sementara kritikus Taylor Swift kerap menerima banjir kebencian di kolom komentar. Namun, para penggemar yang berbicara kepada CNA Lifestyle menegaskan bahwa toksisitas bukanlah karakter bawaan dari sebuah fandom, melainkan hasil interaksi antara jenis konten yang dipuja, cara partisipasi yang didorong, dan algoritma media sosial yang mengutamakan sensasi.
Kim, seorang gamer profesional berusia 28 tahun yang juga penggemar Twice dan Genshin Impact, menilai fandom musik pop cenderung lebih agresif karena penggemar diajak untuk aktif mendongkrak popularitas idola—melalui streaming, voting, atau membanjiri media sosial. "Kesuksesan terasa seperti sesuatu yang bisa dipengaruhi, sehingga persaingan menjadi tidak sehat," ujarnya. Sebaliknya, komunitas game dan anime lebih fokus pada diskusi tentang gameplay dan cerita, bukan kompetisi antarpenggemar. Namun, Kim juga menyoroti sisi lain: rasa protektif terhadap karya yang dicintai bisa berubah menjadi serangan terhadap kreator, seperti yang dialami aktor Star Wars, Ahmed Best dan Kelly Marie Tran.
Jolin, penggemar serial Heated Rivalry, memilih untuk membatasi interaksinya di dunia maya. "Saya lebih suka membahas cerita dan para pemain secara langsung, seperti di klub buku," katanya. Menurutnya, pertemuan tatap muka memungkinkan perbedaan pendapat diselesaikan dengan empati, bukan perpecahan. Ia juga menyoroti bagaimana algoritma platform seperti X atau TikTok justru mempromosikan konten yang memicu kemarahan, sehingga suara paling keras dan paling konfrontatif selalu tampak dominan, meski hanya mewakili sebagian kecil komunitas.
Jade Hee, penggerak komunitas ARMY Singapura The Bora Dot, menggarisbawahi bahwa anonimitas internet memperparah perilaku buruk. "Ada sisi gelap di setiap fandom, tetapi internet memberi tempat bersembunyi tanpa akuntabilitas," tuturnya. Ia juga mengingatkan teori '1 persen': dalam fandom sebesar ARMY—dengan 36 juta pengguna terdaftar di Weverse dan 81 juta pengikut di Instagram—satu persen yang berisik akan terlihat sangat besar. "Saya berharap orang juga melihat 99 persen lainnya," imbuhnya.
Fenomena ini relevan bagi Indonesia, di mana fandom K-pop dan Taylor Swift tumbuh subur. Komunitas seperti ARMY Indonesia kerap menggelar aksi sosial, namun juga tak luput dari perang penggemar di media sosial. Psikolog klinis Dr Lynn Zubernis menggambarkan fandom sebagai "ruang aman untuk mengekspresikan diri". Di tengah hiruk-pikuk digital, penggemar Indonesia perlu meniru langkah Jolin: memilih interaksi yang sehat dan tidak terjebak dalam permusuhan maya. Seperti diingatkan Kim, "Jika fandom membuatmu lebih benci, lebih marah, atau posesif pada orang yang tak mengenalmu, saatnya berhenti."
Ke depan, pertanyaannya bukan apakah fandom bisa bersih dari toksisitas, melainkan apakah penggemar dan platform mau bersama-sama membangun ruang yang lebih sehat. Dengan meningkatnya kesadaran akan dampak negatif media sosial, mungkin saatnya fandom kembali ke akarnya: merayakan karya, bukan berperang atas namanya.



