The Big Short Kembali: Michael Burry Bertaruh Besar Melawan Tesla, Nvidia, dan Saham AI
Baca dalam 60 detik
- Investor legendaris Michael Burry memperluas posisi short terhadap saham Tesla, Nvidia, dan ETF semikonduktor, menandai skeptisismenya terhadap keberlanjutan reli AI.
- Langkah ini dipicu oleh investasi besar Samsung dan SK Hynix senilai lebih dari US$500 miliar, yang dinilai Burry sebagai puncak euforia dan awal koreksi pasar.
- Bagi investor Indonesia, taruhan Burry menjadi sinyal waspada terhadap valuasi tinggi saham teknologi global yang juga memengaruhi pergerakan indeks dan reksa dana di dalam negeri.

Investor yang menginspirasi film The Big Short, Michael Burry, kembali mengambil posisi bearish besar-besaran dengan membidik saham-saham unggulan seperti Tesla, Nvidia, Caterpillar, dan dana indeks semikonduktor. Langkah ini menandai keyakinannya bahwa euforia kecerdasan buatan (AI) yang mendorong reli pasar selama dua tahun terakhir akan segera berakhir.
Melalui akun Substack pribadinya, Burry mengungkapkan bahwa pemicu utama keputusannya adalah pengumuman investasi raksasa dari Korea Selatan. Samsung dan SK Hynix berencana menggelontorkan dana lebih dari US$500 miliar untuk membangun pusat manufaktur chip. Sehari setelah berita itu, saham semikonduktor justru memimpin penguatan Nasdaqโsebuah sinyal yang menurut Burry justru menandakan "awal dari akhir".
Burry, yang dikenal sebagai salah satu kritikus paling vokal terhadap reli saham AI, menilai investor terlalu agresif mendorong valuasi tanpa mempertimbangkan risiko. Salah satu posisi terbarunya adalah membeli opsi put pada ETF SOXX, yang berisi saham Micron Technology dan AMD. Taruhan ini akan menguntungkan jika indeks tersebut turun sekitar sepertiga dari level puncaknya pada Maret mendatang. "Indeks SOXX adalah bentuk valuasi berlebihan murni dalam sebuah indeks, bentuk yang jarang terlihat dan tidak pernah mudah dikenali," tulis Burry.
Selain sektor chip, Burry juga memperbesar posisi short terhadap Tesla dengan target harga US$416,22, serta meningkatkan taruhan melawan Nvidia yang telah ia bangun sejak beberapa bulan terakhir. Ia juga mengambil posisi bearish terhadap Caterpillar, meski tanpa penjelasan rinciโpadahal alat berat Caterpillar banyak digunakan dalam pembangunan pusat data AI dan pabrik semikonduktor.
Pandangan Burry sebelumnya sempat menuai kritik. Nvidia membantah adanya masalah dalam skema pendanaannya, sementara CEO Palantir Alex Karp menyebut Burry "gila" dalam wawancara di CNBC. Namun, hingga kini, prediksi Burry belum sepenuhnya meleset: saham Palantir telah anjlok sekitar 40%, meski Nvidia masih bertahan di dekat level awal.
Konteks Indonesia: Bagi investor di Indonesia, langkah Burry menjadi pengingat akan risiko konsentrasi pada saham teknologi global. Banyak reksa dana saham dan ETF di Bursa Efek Indonesia yang memiliki eksposur terhadap saham-saham AS melalui produk linked atau investasi langsung. Jika koreksi terjadi, dampaknya bisa merembet ke portofolio investor ritel di Tanah Air. Selain itu, euforia AI juga mendorong kenaikan saham-saham teknologi di Asia, termasuk di Indonesia, yang valuasinya mulai terasa mahal.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah taruhan Burry akan terbukti tepat, atau justru ia kembali melawan arus terlalu dini. Dengan The Fed yang masih wait-and-see terhadap suku bunga dan belanja AI yang terus mengalir, pasar masih terbelah antara optimisme dan skeptisisme. Satu hal yang pasti: nama Michael Burry kembali menjadi pusat perhatian di Wall Street.



