Karnival Wisata Sabah 2026: Strategi Baru Dongkrak Pariwisata Domestik di Tengah Tekanan Ekonomi
Baca dalam 60 detik
- Star Karnival Cuti-Cuti Malaysia 2026 di Kota Kinabalu menargetkan 200.000 pengunjung dengan 41 stan promosi wisata lokal.
- Para pelaku industri optimistis meski harga tiket pesawat dan biaya perjalanan naik, melihat potensi besar pasar domestik.
- Acara ini menjadi barometer kesiapan Malaysia menyambut Visit Malaysia Year 2026-2027, dengan agenda berlanjut ke Penang, Selangor, dan Sarawak.

KOTA KINABALU โ Gelaran Star Karnival Cuti-Cuti Malaysia (SKCCM) 2026 yang berlangsung tiga hari di Sabah menjadi panggung baru bagi para pelaku industri pariwisata untuk menguji daya tarik destinasi lokal di tengah gejolak ekonomi global. Lebih dari sekadar pameran, ajang ini diharapkan mampu mengonversi minat pengunjung menjadi transaksi nyata yang menghidupkan usaha mikro hingga korporasi.
Manajer Produk MalaysiaTravel.com, Yee Harng, menilai respons positif dari pengunjung yang ditunjukkan melalui interaksi digital merupakan sinyal awal yang menjanjikan. Ia menekankan bahwa target utama bukan sekadar menambah jumlah wisatawan, melainkan memperpanjang durasi tinggal dan meningkatkan belanja mereka di usaha lokal. "Harapan saya, kita tidak hanya fokus mendatangkan turis, tetapi membuat mereka betah lebih lama dan berkontribusi lebih banyak pada ekonomi setempat," ujarnya. Ia pun mendorong pemanfaatan data perilaku wisatawan untuk menghubungkan permintaan dengan pengalaman yang tepat.
Senada, Manajer Trip.com, Darren Khaw, melihat pergeseran minat masyarakat Malaysia ke destinasi domestik sebagai peluang besar. Meski harga tiket pesawat terus merangkak naik, permintaan perjalanan ke Asia Tenggara dinilai tetap stabil. "Kami melihat potensi besar di pasar domestik, dan karnival seperti ini adalah platform yang tepat untuk mempromosikannya," kata Khaw. Optimisme serupa diungkapkan Ashely Thong Lee Phing, eksekutif operasional Fastrack Car Rental and Holidays, yang berharap acara ini mampu menarik lebih banyak wisatawan ke Sabah dan meningkatkan pendapatan sewa kendaraan. Ia mengakui kenaikan harga bahan bakar global membuat sebagian calon wisatawan berpikir ulang, tetapi produk wisata yang menarik diyakini tetap mampu memikat.
Di sisi lain, Suriati Osman dari RV Motorhome melihat Sabah sebagai lahan eksplorasi yang belum tergarap maksimal. Ia optimistis menjajaki pasar baru ini dengan menjalin kemitraan bersama operator lokal. Menurutnya, masalah utama sektor ini bukan pada atraksi atau kuliner, melainkan biaya perjalanan seperti tiket pesawat yang perlu segera diatasi agar industri terus tumbuh. Pengalaman langsung ditunjukkan Arasu Kasinathan, warga Penang, yang awalnya datang ke mal untuk keperluan lain, justru tergoda memesan paket river cruise Kinabatangan-Sukau. "Ini pembelian impulsif, tapi saya yakin ada yang menggerakkan," katanya sambil tersenyum.
Pembukaan karnival yang mengusung tema "Explore, Experience, Excite" ini diresmikan Wakil Menteri Pertanian dan Ketahanan Pangan, Datuk Chan Foong Hin. Ia mengajak warga Sabah untuk lebih mengenal kekayaan alamnya sendiri, mulai dari pantai Kota Kinabalu hingga keindahan Semporna dan ekosistem budaya yang tersebar. "Kami ingin warga lokal menikmati dan menghargai keindahan alam, sekaligus mendorong warga Malaysia dari negeri lain menjadikan Sabah pilihan utama wisata domestik," tegas Foong Hin yang juga anggota parlemen Kota Kinabalu.
CEO Star Media Group, Chan Seng Fatt, menyatakan harapannya agar karnival ini mampu menghasilkan pendapatan yang diinginkan serta umpan balik positif dari peserta dan pelanggan. Momentum Visit Malaysia Year 2026-2027 diyakini menjadi pendorong pertumbuhan industri. Sementara itu, Wakil Direktur Jenderal Perencanaan Tourism Malaysia, Wizani Rosmin, mengungkapkan optimisme melihat hasil yang lebih baik dibanding edisi sebelumnya. "Platform ini memberi ruang bagi industri, hotel, agen perjalanan, dan operator wisata berbasis komunitas untuk memberikan diskon dan nilai tambah langsung ke konsumen. Bahkan di tengah krisis, kami bisa mencapai hasil lebih baik dari tahun lalu," ujarnya.
Bagi Indonesia, geliat pariwisata domestik Malaysia ini menjadi cermin yang relevan. Saat biaya perjalanan global meningkat, strategi menggenjot pasar lokal dan memperkuat daya tarik destinasi regional menjadi kunci. Pertanyaan yang muncul kemudian: apakah Indonesia siap mengadopsi pendekatan serupa untuk menjaga denyut industri pariwisata nasional di tengah ketidakpastian ekonomi?



