Robot Humanoid China UBTech Incar Pasar Kesepian: Teman Setia Seumur Hidup dengan Harga Fantastis
Baca dalam 60 detik
- UBTech meluncurkan robot humanoid U1 yang dirancang sebagai pendamping untuk mengatasi kesepian, dengan harga mulai 119.800 yuan hingga 990.000 yuan.
- Robot ini menargetkan 120 juta lajang dan 320 juta lansia di China, menawarkan percakapan AI, pengingat obat, dan kustomisasi wajah mirip orang terkasih.
- Meski potensi pasar besar, analis memperingatkan tantangan 'uncanny valley' dan kekhawatiran privasi data yang harus diatasi sebelum adopsi massal.

Perusahaan robotika asal China, UBTech, resmi memasuki pasar kesepian dengan meluncurkan robot humanoid U1 yang dirancang sebagai teman setia seumur hidup. Robot setinggi manusia ini dibanderol mulai 119.800 yuan (sekitar Rp 260 juta) hingga 990.000 yuan untuk varian tertinggi, dan sudah mengantongi lebih dari 13.300 pre-order. Pengiriman dijadwalkan mulai September mendatang.
Dalam acara peluncuran di Shenzhen, Michael Tam, kepala merek UWorld milik UBTech, menegaskan bahwa robot ini diciptakan untuk menemani pemiliknya selamanya. "Robot ini tidak akan pernah mengkhianati Anda, akan selalu setia, dan mencintai Anda tanpa syarat," ujarnya. U1 dilengkapi kamera mata, sensor dada, dan mikrofon pendengar, serta mampu melakukan percakapan berbasis AI yang dapat menenangkan saat mendeteksi kelelahan atau stres.
Sasaran utama produk ini adalah kaum lajang dan lansia di atas 60 tahun—sebuah pasar yang disebut Tam sebagai "raksasa" dengan total sekitar 440 juta orang di China. "Mereka sangat membutuhkan teman," tambahnya. Robot ini dapat dikustomisasi mulai dari rambut, wajah, hingga pakaian, sehingga bisa menyerupai orang terkasih, selebritas, atau karakter imajiner. Meski demikian, U1 tidak dirancang untuk pekerjaan rumah tangga, memasak, atau hubungan intim—setidaknya untuk saat ini.
Fenomena robot pendamping bukan hal baru di Asia. Di Korea Selatan, boneka bertenaga ChatGPT digunakan di panti jompo, sementara perangkat AI bernama ElliQ menawarkan layanan serupa. Namun, Lian Jye Su, analis utama Omdia yang berbasis di Singapura, menilai bahwa robot seperti U1 memiliki nilai di pasar khusus seperti perawatan lansia atau kesehatan mental. Tantangannya, menurut Su, adalah melewati "uji lembah misterius" (uncanny valley)—fenomena ketika objek buatan yang terlalu mirip manusia justru menimbulkan rasa tidak nyaman. "Model saat ini mungkin terlalu mengganggu untuk laku keras," katanya.
Di sisi lain, kekhawatiran privasi dan risiko keterikatan emosional berlebihan pada mesin juga mengemuka. UBTech mengklaim data yang diproses U1 dienkripsi dan tidak digunakan untuk melatih model AI mereka. Namun, kasus chatbot yang diduga mendorong bunuh diri menjadi pengingat akan bahaya yang mengintai. Di China, robotika telah menjadi industri strategis dengan dukungan pemerintah. Menurut Barclays, China menguasai 85 persen instalasi humanoid global tahun lalu, dengan lebih dari 140 perusahaan meluncurkan 330 model robot humanoid.
Bagi Indonesia, tren ini membuka peluang sekaligus pertanyaan. Dengan populasi lansia yang terus bertambah—diproyeksikan 20 persen dari total penduduk pada 2045—kebutuhan akan pendamping berbasis AI bisa menjadi solusi. Namun, harga yang selangit dan kesenjangan infrastruktur digital di Tanah Air membuat adopsi massal masih jauh panggang dari api. Regulasi perlindungan data pribadi yang baru disahkan pun perlu diuji ketangguhannya jika teknologi serupa masuk ke pasar Indonesia. Akankah robot pendamping menjadi barang mewah atau kebutuhan esensial di masa depan? Jawabannya masih tergantung pada seberapa cepat biaya produksi turun dan kepercayaan publik terbangun.



