Gangguan Global Mastercard Bikin Transaksi Gagal di Australia, Bisnis Lokal Terdampak
Baca dalam 60 detik
- Gangguan pada sistem Mastercard sempat membuat transaksi gagal di Australia, dengan lebih dari 1.900 laporan keluhan tercatat di Downdetector.
- Pemicunya adalah pembaruan sistem terjadwal yang menyebabkan penolakan transaksi sementara, dan kini telah dipulihkan sepenuhnya.
- Insiden ini menyoroti kerentanan infrastruktur pembayaran global dan dampaknya terhadap bisnis yang bergantung pada transaksi non-tunai.

Gangguan teknis pada jaringan pembayaran Mastercard sempat melumpuhkan transaksi di Australia pada Sabtu sore, memicu kekhawatiran di kalangan pelaku usaha yang mengandalkan pembayaran elektronik. Commonwealth Bank of Australia, bank terbesar di negara itu, mengonfirmasi bahwa sebagian pembayaran menggunakan kartu Mastercard gagal diproses akibat masalah global yang terjadi di luar kendali mereka.
Menurut pernyataan resmi Commonwealth, layanan pembayaran Mastercard mulai pulih setelah gangguan yang bersifat global tersebut. Sementara itu, layanan perbankan lain seperti ATM tetap beroperasi normal. Namun, gangguan ini sempat membuat sejumlah nasabah tidak bisa melakukan transaksi, termasuk transfer dana dan akses mobile banking, seperti yang dilaporkan oleh Downdetector, platform pemantau gangguan layanan.
Laporan dari Australian Broadcasting Corporation (ABC) menyebutkan bahwa keluhan datang dari berbagai negara bagian, tidak hanya terbatas pada transaksi kartu kredit. Pengguna juga melaporkan masalah pada Apple Pay, kartu perjalanan Mastercard, dan penarikan tunai di ATM. Hal ini menunjukkan bahwa dampak gangguan tersebut cukup luas, menyentuh berbagai kanal pembayaran yang terhubung dengan jaringan Mastercard.
Bagi para pelaku usaha, terutama yang beroperasi di sektor ritel dan perhotelan, gangguan ini datang di saat yang kurang tepatโmenjelang Sabtu malam yang biasanya menjadi waktu puncak transaksi. Asha Thompson, manajer bar di Kent St. Bar di kawasan Collingwood, Melbourne, mengungkapkan kekhawatirannya bahwa gangguan ini bisa memangkas hingga 40% pendapatan malam itu. "Hari ini, uang tunai adalah raja," ujarnya, menggambarkan situasi di mana pelanggan terpaksa beralih ke pembayaran tunai.
Mastercard sendiri kemudian merilis pernyataan resmi yang menjelaskan bahwa gangguan tersebut disebabkan oleh pembaruan sistem yang terjadwal. "Pembaruan sistem yang terjadwal menyebabkan transaksi Mastercard ditolak untuk sementara waktu," kata juru bicara Mastercard dalam pernyataan email. "Situasi telah teratasi, dan semua sistem berfungsi normal kembali."
Insiden ini menjadi pengingat akan ketergantungan global pada infrastruktur pembayaran elektronik. Di Indonesia, meskipun tidak terdampak langsung, kejadian serupa bisa saja terjadi mengingat banyaknya bank dan fintech yang menggunakan jaringan Mastercard atau Visa. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) mungkin perlu mengevaluasi ketahanan sistem pembayaran nasional terhadap gangguan global semacam ini.
Para analis menilai bahwa gangguan seperti ini, meskipun bersifat sementara, dapat menggerus kepercayaan konsumen terhadap pembayaran non-tunai. Namun, respons cepat Mastercard dalam memulihkan layanan menunjukkan bahwa perusahaan memiliki prosedur darurat yang cukup efektif. Pertanyaannya, apakah infrastruktur pembayaran di negara-negara berkembang seperti Indonesia sudah siap menghadapi gangguan serupa? Ke depan, diversifikasi kanal pembayaran dan penguatan sistem cadangan menjadi kunci untuk meminimalkan risiko gangguan.



