Startup AI Crusoe Dikabarkan Kumpulkan Dana Rp48 Triliun, Valuasi Melonjak Tiga Kali Lipat
Baca dalam 60 detik
- Crusoe, perusahaan rintisan infrastruktur AI, dikabarkan tengah merundingkan pendanaan senilai US$3 miliar yang berpotensi melipatgandakan valuasinya menjadi sekitar US$30 miliar.
- Dengan kontrak penyediaan daya komputasi untuk Meta dan Oracle, Crusoe menjadi pemain kunci di tengah gempuran belanja modal raksasa teknologi untuk pusat data AI.
- Pendanaan ini menandai pergeseran Crusoe dari bisnis kripto ke penyedia layanan cloud AI khusus, tren yang juga mulai dilirik investor di Asia Tenggara.

Crusoe, perusahaan rintisan yang fokus pada infrastruktur pusat data kecerdasan buatan (AI), dikabarkan sedang dalam pembicaraan untuk mengumpulkan dana segar sekitar US$3 miliar atau setara Rp48 triliun. Pendanaan tersebut berpotensi meningkatkan valuasi perusahaan hingga tiga kali lipat dari nilai sebelumnya, menurut laporan Bloomberg News yang mengutip sumber yang mengetahui masalah ini.
Jika terealisasi, valuasi Crusoe diperkirakan mencapai kisaran US$30 miliar, termasuk suntikan modal baru. Angka ini melonjak signifikan dibandingkan valuasi US$10 miliar yang diperoleh perusahaan saat mengantongi US$1,38 miliar dalam putaran Seri E tahun lalu. Putaran itu digalang oleh Valor Equity Partners dan Mubadala Capital, menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek bisnis AI.
Crusoe bukanlah pemain baru di dunia komputasi. Didirikan pada 2018 sebagai perusahaan kripto, startup ini kemudian berbelok arah menjadi penyedia infrastruktur AI. Kini Crusoe masuk dalam jajaran "neocloud" โ istilah untuk penyedia layanan cloud dan pusat data khusus AI yang menawarkan kapasitas komputasi terdedikasi. Perusahaan mengklaim telah memiliki kontrak untuk 4,9 gigawatt daya komputasi dan total proyek mencapai lebih dari 40 gigawatt.
Lonjakan valuasi Crusoe mencerminkan gelombang besar investasi di sektor AI. Raksasa teknologi seperti Meta dan Oracle telah meneken kontrak untuk membeli kapasitas komputasi dari Crusoe. Meta, misalnya, disebut telah mengikat kontrak di dua pusat data Crusoe di Childress, Texas, dan Warrenton, Missouri. Fenomena ini sejalan dengan belanja modal besar-besaran perusahaan teknologi global untuk memenuhi kebutuhan komputasi masif model AI generatif.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membawa implikasi strategis. Investasi di infrastruktur AI seperti yang dilakukan Crusoe menandakan bahwa persaingan penyediaan daya komputasi tidak lagi hanya dikuasai oleh raksasa cloud tradisional. Peluang bagi perusahaan lokal untuk menjadi "neocloud" di kawasan Asia Tenggara pun terbuka, terutama dengan meningkatnya adopsi AI di sektor korporasi dan pemerintahan. Namun, tantangan seperti ketersediaan energi dan regulasi data tetap menjadi pekerjaan rumah.
Meski negosiasi masih berlangsung dan belum ada kesepakatan final, minat investor terhadap Crusoe menunjukkan bahwa pasar yakin terhadap permintaan jangka panjang infrastruktur AI. Pertanyaan selanjutnya: akankah gelombang pendanaan serupa juga menyentuh startup AI di Indonesia, atau justru memperlebar kesenjangan digital?



