Gempa Flores 7,7 SR: Pasien dan Keluarga Berjuang Selamat di Tengah Reruntuhan Rumah Sakit
Baca dalam 60 detik
- Guncangan magnitudo 7,7 yang berpusat di utara Flores memaksa ribuan warga mengungsi dan melukai puluhan orang, dengan kerusakan meluas di Nagekeo dan Ruteng.
- Para pasien rumah sakit, termasuk mereka dengan kondisi kritis, harus dievakuasi ke tenda darurat di tengah kekhawatiran gempa susulan yang masih terus terjadi.
- Pemerintah pusat telah mengirimkan puluhan ribu paket bantuan, sementara organisasi internasional dan UE menawarkan dukungan satelit untuk mempercepat penanganan bencana.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Sabtu dini hari (15/8), tidak hanya merobohkan bangunan, tetapi juga menguji ketangguhan warga dalam menyelamatkan diri dan orang-orang terkasih. Di tengah kepanikan, sejumlah pasien rumah sakit harus dievakuasi tergesa-gesa ke luar gedung yang mulai retak, sementara keluarga berjuang melawan puing-puing yang menghadang.
Melania Nius (56) menjadi salah satu saksi bagaimana guncangan dahsyat itu mengubah rutinitas pagi menjadi mimpi buruk. Saat itu ia sedang mendampingi suaminya, Basianus Cak, yang dirawat di lantai tiga Rumah Sakit Ruteng karena penyakit jantung, paru-paru, dan diabetes. "Tempat tidur hampir terbalik. Meja dan semua barang di atas lemari berjatuhan," kenangnya. Dengan bantuan orang lain, mereka berhasil membawa Basianus keluar melewati puing-puing yang menutupi sebagian jalur evakuasi. "Saya hanya berdoa, 'Tuhan, jika masih memberi kami kesempatan hidup, bukakanlah jalan'," ujarnya.
Episentrum gempa dangkal ini berada di laut utara Flores, dengan wilayah terdampak terparah di Kabupaten Nagekeo, sekitar 200 kilometer timur Ruteng. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat sedikitnya 160 rumah rusak, puluhan fasilitas pendidikan dan kesehatan ikut terdampak. Peringatan tsunami sempat dikeluarkan, namun kemudian dicabut. Sekitar 2.000 warga mengungsi, banyak di antaranya memilih bertahan di luar rumah sepanjang malam karena khawatir gempa susulan yang jumlahnya mencapai puluhan kali.
Di halaman Rumah Sakit Ruteng, tenda-tenda darurat didirikan untuk menampung puluhan pasien yang harus dipindahkan. Tonsianus Sambang (31), yang sedang menjenguk ibunya yang dirawat karena pecah pembuluh darah di otak, menuturkan kekacauan saat gempa terjadi. "Beberapa orang melompat dari jendela, yang lain berlarian keluar. Dinding mulai runtuh, benda-benda berjatuhan," katanya. Ia mengaku sangat khawatir dengan kondisi ibunya dan pasien lain yang harus tidur di luar, dan mendesak pemerintah segera mengirim bantuan medis serta logistik.
Di tengah situasi genting itu, cerita heroik muncul dari warga biasa. Yoktafiana Sinar (40), seorang pekerja restoran, menceritakan bagaimana ia melindungi cucunya saat rumahnya ambruk. "Saya sedang bersiap mandi ketika gempa terjadi. Cucu saya di luar, jadi saya berlari dan melindunginya dengan tubuh saya. Saya yang tertimpa reruntuhan," tuturnya. Ia mengalami patah kaki dan luka di kepala, namun mengaku bersyukur cucunya selamat.
Bencana ini kembali mengingatkan bahwa Indonesia berada di kawasan cincin api Pasifik yang rawan gempa. Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), aktivitas seismik di wilayah NTT memang tinggi, dan gempa susulan masih mungkin terjadi. Pakar kebencanaan dari Universitas Gadjah Mada, yang dihubungi secara terpisah, menilai bahwa kesiapsiagaan masyarakat dan infrastruktur rumah sakit menjadi kunci dalam mengurangi risiko korban jiwa. "Evakuasi cepat yang dilakukan warga menunjukkan peningkatan kesadaran, tetapi perawatan jangka panjang bagi pasien dan perbaikan fasilitas kesehatan harus menjadi prioritas," ujarnya.
Pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengirimkan 50.000 paket bantuan dengan total 275 ton, sementara Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) menyiapkan bantuan untuk 2.000 orang di tempat penampungan sementara. Uni Eropa, melalui kepala komisinya Ursula von der Leyen, juga menawarkan bantuan citra satelit Copernicus untuk memetakan kerusakan. Namun, tantangan terbesar adalah akses ke daerah terpencil dan memastikan bantuan tepat sasaran, terutama bagi kelompok rentan seperti pasien rumah sakit dan lansia.
Gempa Flores kali ini menjadi ujian bagi ketangguhan sistem tanggap darurat nasional. Pertanyaannya, apakah koordinasi antara pemerintah pusat, daerah, dan lembaga internasional dapat berjalan efektif untuk mempercepat pemulihan? Atau akankah trauma dan kerusakan yang ada meninggalkan luka panjang bagi warga yang baru saja selamat dari malam yang mencekam itu? Jawabannya akan menentukan seberapa cepat Flores bangkit kembali.



