Nvidia Siapkan Investasi US$3 Miliar di SB Energy untuk Proyek Data Center OpenAI di Ohio
Baca dalam 60 detik
- Nvidia dikabarkan akan menanamkan modal hingga US$3 miliar di SB Energy, anak usaha SoftBank, untuk mendukung pembangunan kampus data center OpenAI di Ohio.
- Investasi ini menjadi bagian dari skema dukungan kredit senilai sekitar US$100 miliar, dengan setengah dana diberikan saat penandatanganan dan sisanya saat SB Energy melantai di bursa.
- Jika terealisasi, langkah ini akan memperkuat posisi Nvidia di rantai pasok infrastruktur AI global sekaligus membuka peluang bagi pasar Indonesia untuk menarik investasi serupa.

Nvidia dikabarkan tengah menjajaki investasi hingga US$3 miliar di SB Energy, anak usaha SoftBank Group yang menggarap proyek kampus data center untuk OpenAI di Ohio, Amerika Serikat. Kabar ini diungkapkan oleh The Information pada Sabtu (15/8) dengan mengutip sumber yang dekat dengan negosiasi, menandai langkah besar Nvidia dalam memperkuat ekosistem kecerdasan buatan (AI) global.
Investasi tersebut merupakan bagian dari pembicaraan yang lebih luas antara Nvidia, OpenAI, dan SB Energy untuk menyediakan dukungan kredit sekitar US$100 miliar bagi pembangunan kampus data center raksasa di Ohio. Menurut laporan itu, Nvidia telah membahas pembagian investasi menjadi dua tahap: setengah dari US$3 miliar akan digelontorkan saat kesepakatan proyek ditandatangani, sementara separuh lainnya akan dialokasikan melalui rencana penawaran umum perdana (IPO) SB Energy.
SB Energy sendiri menargetkan untuk melantai di bursa secepatnya pada bulan depan, dengan potensi perolehan dana minimal US$5 miliar. Perusahaan yang didirikan pada 2019 ini fokus mengembangkan infrastruktur listrik dan data center berskala besar untuk menjawab lonjakan permintaan komputasi AI. Selain didukung SoftBank, SB Energy juga memiliki keterlibatan OpenAI sebagai salah satu pendukungnya.
Kabar ini muncul di tengah laporan The Wall Street Journal pada Jumat (14/8) yang menyebutkan bahwa Nvidia telah merevisi rencana dukungannya untuk proyek data center OpenAI di Ohio. Awalnya, Nvidia diisukan akan memberikan jaminan hingga US$250 miliar, namun kini angka tersebut dipangkas menjadi kurang dari US$120 miliar. Revisi ini menunjukkan adanya penyesuaian strategi di tengah ketidakpastian ekonomi global dan kebutuhan modal yang besar.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal penting tentang bagaimana raksasa teknologi global mengalokasikan modal untuk infrastruktur AI. Investasi semacam ini tidak hanya mencerminkan keyakinan pada pertumbuhan permintaan komputasi awan dan AI, tetapi juga membuka peluang bagi negara berkembang untuk menarik investasi serupa. Indonesia, dengan populasi digital yang besar dan ekonomi yang tumbuh, memiliki potensi untuk menjadi tujuan investasi data center, asalkan regulasi dan infrastruktur pendukungnya memadai.
Para analis menilai bahwa langkah Nvidia ini merupakan upaya untuk mengamankan pasokan kapasitas komputasi bagi OpenAI, yang membutuhkan daya komputasi sangat besar untuk melatih model AI generatif. Dengan berinvestasi langsung di SB Energy, Nvidia tidak hanya menjadi pemasok chip, tetapi juga turut memiliki infrastruktur yang menjadi tulang punggung operasional OpenAI. Ini adalah pergeseran strategis dari sekadar vendor menjadi mitra strategis.
Namun, perlu dicatat bahwa kabar ini belum diverifikasi secara independen oleh Reuters, dan baik Nvidia maupun SB Energy belum memberikan tanggapan resmi. Ketidakpastian masih menyelimuti kesepakatan ini, terutama terkait struktur pendanaan dan jadwal realisasi investasi. Meski demikian, jika terealisasi, investasi ini akan menjadi salah satu yang terbesar di sektor infrastruktur AI dan dapat memicu gelombang investasi serupa di berbagai kawasan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah Nvidia akan memperluas pola investasi serupa ke kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Dengan meningkatnya kebutuhan data center di kawasan ini, bukan tidak mungkin Nvidia atau perusahaan teknologi lain akan melirik pasar Indonesia sebagai basis ekspansi. Namun, hal tersebut sangat bergantung pada stabilitas regulasi, ketersediaan energi bersih, dan insentif fiskal yang ditawarkan pemerintah. Apakah Indonesia siap menangkap peluang ini?



