Coca-Cola dan FIFA Luncurkan 'Every Throw-In Counts': Aksi Sehari-hari Jadi Gol untuk Timnas Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Coca-Cola dan FIFA meluncurkan program interaktif yang mengubah aktivitas ramah lingkungan dan sosial menjadi 'gol' untuk tim favorit di Piala Dunia 2026.
- Lebih dari 2.200 penggemar telah mendaftar dan mencatatkan 12.000 gol sejak peluncuran, dengan verifikasi foto ala VAR untuk menjaga kejujuran.
- Program ini membuka peluang bagi penggemar di Indonesia untuk berkontribusi pada papan peringkat global dan memenangkan hadiah eksklusif.

Coca-Cola dan FIFA resmi meluncurkan 'Every Throw-In Counts', sebuah tantangan global yang memungkinkan penggemar sepak bola di seluruh dunia berkontribusi pada turnamen Piala Dunia 2026 melalui aksi sederhana sehari-hari—mulai dari mendaur ulang sampah, menggunakan transportasi umum, hingga sekadar bermain bola di lingkungan sekitar. Setiap aktivitas yang terdokumentasi akan dikonversi menjadi 'gol' untuk tim nasional favorit peserta, menciptakan kompetisi paralel di luar lapangan hijau.
Program yang berlangsung hingga 19 Juli 2026 ini tidak hanya menyasar penggemar di Amerika Serikat dan Kanada, tetapi juga membuka partisipasi global. Penggemar dari Indonesia, misalnya, dapat mendaftar di situs everythrow.com, memilih tim yang didukung, dan mulai mengumpulkan poin. Setiap unggahan foto yang memverifikasi aktivitas—seperti menghadiri pesta nonton atau mengikuti tantangan daur ulang—akan menambah skor tim tersebut di papan peringkat nasional. Inisiatif ini menjadi jembatan antara euforia sepak bola dan kesadaran lingkungan, dua hal yang kerap berjalan sendiri-sendiri.
Menurut Francisco Balbuena, Wakil Presiden Keberlanjutan Coca-Cola Amerika Utara, program ini melanjutkan warisan perusahaan dalam menghubungkan penggemar dengan sepak bola secara bermakna. "Dengan mendaftar dan memilih negara, penggemar dapat menyelesaikan aktivitas yang merayakan sepak bola, menginspirasi aksi positif di komunitas mereka, dan menjadi bagian dari turnamen di mana pun mereka berada," ujarnya dalam siaran pers. Pendekatan ini mengubah partisipasi pasif menjadi aksi nyata, di mana setiap lembar botol plastik yang didaur ulang setara dengan satu tendangan ke gawang.
Untuk menjaga kredibilitas kompetisi, platform menggunakan sistem verifikasi foto yang terinspirasi dari teknologi VAR (Video Assistant Referee) di sepak bola. Setiap gambar yang diunggah akan diperiksa untuk memastikan kesesuaian dengan aktivitas yang diklaim. Langkah ini mencegah kecurangan dan memastikan bahwa setiap gol benar-benar merepresentasikan partisipasi autentik. Sistem serupa pernah diterapkan dalam kampanye keberlanjutan Olimpiade Tokyo 2020, namun 'Every Throw-In Counts' menjadi yang pertama mengintegrasikan mekanisme VAR untuk penggemar awam.
Bagi penggemar di Indonesia, program ini membuka peluang unik untuk terlibat dalam atmosfer Piala Dunia meskipun Timnas Garuda belum lolos kualifikasi. Dengan memilih tim favorit—entah itu Brasil, Argentina, atau Jerman—setiap aksi kecil seperti menggunakan botol minum isi ulang atau berjalan kaki ke warung kopi dapat menyumbang gol ke papan peringkat negara tersebut. Selain itu, penggemar di AS dan Kanada berkesempatan memenangkan hadiah seperti bola resmi TRIONDA Piala Dunia 2026, merchandise bertanda tangan, dan hadiah eksklusif lainnya yang akan diumumkan secara bertahap.
Christian Karembeu, legenda timnas Prancis yang memenangkan Piala Dunia 1998, menyambut baik inisiatif ini. "Yang saya suka dari program ini adalah ia memberikan cara sederhana dan menyenangkan bagi penggemar untuk terlibat. Baik itu mendaur ulang, bermain sepak bola, atau mengikuti tantangan bersama teman dan keluarga, setiap aksi membantu tim Anda mencetak gol dan menambah semangat Piala Dunia," katanya. Dukungan dari figur seperti Karembeu dan bintang muda Lamine Yamal serta pelatih kenamaan José Mourinho—yang tampil dalam konten kampanye—diharapkan mampu mendorong partisipasi massal.
Dengan lebih dari 2.200 penggemar yang telah mendaftar dan 12.000 gol tercatat dalam pekan pertama, 'Every Throw-In Counts' menunjukkan potensi besar sebagai alat engagement. Namun, pertanyaan yang mengemuka adalah: sejauh mana program ini mampu mempertahankan minat penggemar selama turnamen berlangsung? Terlebih, dengan sistem verifikasi yang ketat, apakah partisipasi akan tetap organik atau justru menjadi beban administratif? Hanya waktu yang akan menjawab, namun satu hal pasti: Piala Dunia 2026 tidak lagi sekadar tontonan, melainkan ajang aksi kolektif.



