Jerman Depak Nagelsmann Usai Gagal di Piala Dunia 2026, Klopp Jadi Target Utama
Baca dalam 60 detik
- Julian Nagelsmann resmi mundur sebagai pelatih timnas Jerman setelah tersingkir di babak 32 besar Piala Dunia 2026 oleh Paraguay.
- DFB langsung bergerak mendekati Jürgen Klopp, yang saat ini menjabat Head of Global Soccer Red Bull, untuk mengisi kursi pelatih yang kosong.
- Kegagalan di turnamen besar memperpanjang tren inkonsistensi Jerman pasca-era Joachim Löw, dengan tantangan regenerasi pemain dan tekanan publik yang tinggi.

Kekalahan dramatis dari Paraguay melalui adu penalti di babak 32 besar Piala Dunia 2026 menjadi titik akhir perjalanan Julian Nagelsmann sebagai arsitek tim nasional Jerman. Pelatih berusia 38 tahun itu memilih mengundurkan diri, dan Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) langsung mengonfirmasi akan merayu Jürgen Klopp untuk mengambil alih kendali.
Nagelsmann, yang ditunjuk pada September 2023 menggantikan Hansi Flick, meninggalkan Die Mannschaft dengan catatan 23 kemenangan, enam hasil imbang, dan tujuh kekalahan dari 37 laga. Meski sempat membawa Jerman ke perempat final Euro 2024 di kandang sendiri dan semifinal Nations League, kegagalan di Piala Dunia—turnamen yang diperluas menjadi 48 tim—menjadi pukulan telak. “Saya sudah memikirkan ini selama beberapa hari sejak tersingkir. Keputusan ini tidak mudah,” ujar Nagelsmann dalam pernyataan perpisahannya.
DFB, melalui presiden Bernd Neuendorf, menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Nagelsmann. “Ia adalah pribadi yang sangat berkomitmen dan ambisius. Kami semua sangat menghormatinya,” kata Neuendorf. Namun, kegagalan di babak awal Piala Dunia dianggap sebagai kemunduran yang tidak bisa ditoleransi, terutama setelah Jerman tampil meyakinkan di fase grup.
Langkah DFB mendekati Jürgen Klopp bukanlah kejutan. Pelatih legendaris asal Jerman itu telah menganggur dari klub sejak meninggalkan Liverpool pada akhir musim 2023/24. Saat ini ia menjabat Head of Global Soccer di Red Bull dan bertugas sebagai pandit di Piala Dunia. Menurut pernyataan resmi DFB, Klopp telah menyatakan kesediaannya untuk mendiskusikan peran tersebut. Jika terealisasi, ini akan menjadi tugas pertamanya melatih tim nasional, setelah sukses besar bersama Mainz, Borussia Dortmund, dan Liverpool.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, langkah ini menarik untuk dicermati. Jerman selama ini menjadi salah satu acuan pengembangan sepak bola modern, dengan sistem akademi yang menjadi kiblat. Kegagalan Nagelsmann dan potensi kedatangan Klopp bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya kesinambungan proyek jangka panjang—sebuah isu yang juga relevan bagi PSSI dalam membangun timnas Indonesia. Regenerasi pemain dan tekanan hasil instan kerap menjadi batu sandungan, sebagaimana dialami Jerman pasca-era Joachim Löw.
“Setelah kekecewaan pahit seperti ini, tim pantas mendapatkan awal yang baru tanpa beban,” ujar Nagelsmann, menekankan bahwa keputusannya demi kebaikan skuad.
Pertanyaan besar kini: mampukah Klopp membawa Jerman kembali ke papan atas sepak bola dunia? Dengan pengalamannya membangun tim di Liverpool dan Dortmund, ia diyakini bisa menyuntikkan kembali identitas bermain yang agresif dan penuh intensitas. Namun, tantangan di level internasional berbeda: waktu persiapan terbatas, dan tekanan untuk segera meraih trofi sangat besar. Laga uji coba melawan Belanda pada September mendatang akan menjadi ujian awal bagi era baru Jerman—dengan atau tanpa Klopp di bangku cadangan.



