Tes Darah Berbasis RNA Buka Jalan Baru Deteksi Dini Alzheimer
Baca dalam 60 detik
- Peneliti menemukan partikel nano RNA spesifik otak dalam darah yang bisa mendeteksi Alzheimer lebih awal dibanding metode konvensional.
- Teknologi ini memanfaatkan vesikel ekstraseluler yang membawa informasi molekuler dari otak ke aliran darah, memungkinkan diagnosis non-invasif.
- Jika tervalidasi, tes ini berpotensi menjadi alat skrining massal yang murah dan mudah diakses, termasuk di negara berkembang seperti Indonesia.

Deteksi dini penyakit Alzheimer selama ini terkendala oleh prosedur mahal dan invasif, namun sebuah studi terbaru menawarkan terobosan: cukup dengan setetes darah, partikel RNA pembawa pesan dari otak dapat mengungkap tanda-tanda awal neurodegenerasi jauh sebelum gejala berat muncul.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications ini mengidentifikasi biomarker RNA spesifik otak yang terbungkus dalam partikel nano ekstraseluler—disebut SECmere—yang beredar di aliran darah. Tim dari Icahn School of Medicine at Mount Sinai, AS, berhasil mengisolasi partikel tersebut dari sampel darah dan jaringan otak pasien Alzheimer serta individu sehat, lalu membandingkan profil RNA-nya.
“SECmere adalah nanopartikel berukuran di bawah 50 nanometer yang membawa RNA dari sel otak asalnya ke dalam darah,” jelas Navneet Dogra, PhD, asisten profesor patologi dan anggota Icahn Genomics Institute, dalam pernyataannya. Menurut Dogra, temuan ini membuka jalan bagi diagnosis Alzheimer yang lebih awal dan lebih mudah.
Berbeda dengan tes darah berbasis protein yang sudah ada—seperti Lumipulse G pTau217/ß-Amyloid 1-42 Plasma Ratio yang disetujui FDA pada 2025—RNA biomarker diyakini dapat mendeteksi perubahan penyakit pada tahap yang lebih dini. “Kami percaya biomarker RNA bisa mengungkap perubahan terkait penyakit sebelum protein atau patologi terdeteksi,” tambah Dogra.
Konsep “biopsi cair” melalui darah ini sangat relevan bagi Indonesia, di mana akses terhadap alat diagnostik canggih seperti pemindai PET masih terbatas di kota-kota besar. Dengan populasi lansia yang terus bertambah—BPS mencatat jumlah penduduk usia 60+ mencapai lebih dari 30 juta jiwa pada 2024—kebutuhan akan metode skrining yang murah dan mudah diakses menjadi mendesak. Tes darah berbasis RNA bisa menjadi solusi untuk deteksi dini di puskesmas atau klinik primer.
Meski menjanjikan, studi ini masih pada tahap awal. Para peneliti menekankan perlunya uji klinis buta berskala besar untuk memvalidasi akurasi biomarker ini, terutama dalam membedakan Alzheimer dari demensia jenis lain. “Langkah berikutnya adalah studi longitudinal untuk melihat kapan biomarker mulai berdampak dalam kaskade penyakit,” ujar Dogra. Timnya juga berencana mengembangkan uji PCR sederhana dan murah untuk mendeteksi perubahan RNA dalam darah.
Jika berhasil, tes ini tidak hanya akan mempercepat diagnosis, tetapi juga memungkinkan pemantauan individu berisiko tinggi dan seleksi pasien yang lebih tepat untuk uji klinis terapi baru. Pertanyaan besarnya: seberapa cepat teknologi ini bisa diadopsi di negara dengan sistem kesehatan bertingkat seperti Indonesia?



