EMMI IPO Rp470 per Saham, Dana Segar Rp245 Miliar untuk Ekspansi Alat Kesehatan
Baca dalam 60 detik
- PT Esa Medika Mandiri mematok harga IPO Rp470 per saham dan akan mencatatkan sahamnya di BEI pada 8 Juli 2026.
- Dana hasil IPO sebesar Rp245,74 miliar akan digunakan untuk melunasi utang, membangun pabrik Cikupa, dan memperkuat modal kerja.
- Kinerja keuangan EMMI melesat: laba 2025 naik tiga kali lipat menjadi Rp34,13 miliar, didorong lonjakan penjualan alat kesehatan.

PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) akan melantai di Bursa Efek Indonesia pada 8 Juli 2026 dengan harga penawaran Rp470 per saham, mengumpulkan dana segar Rp245,74 miliar yang akan digunakan untuk memperkuat struktur keuangan dan menggenjot bisnis alat kesehatan di tengah meningkatnya permintaan fasilitas kesehatan nasional.
Emiten yang bergerak di bidang distribusi alat kesehatan ini menawarkan 522,857 juta saham baru, setara 30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Masa penawaran umum berlangsung pada 2โ6 Juli 2026, dengan penjatahan pada 6 Juli dan distribusi saham pada 7 Juli. Penjamin pelaksana emisi efek adalah PT BRI Danareksa Sekuritas dan PT INA Sekuritas Indonesia dengan skema full commitment, menjamin seluruh saham terserap.
Direktur Utama EMMI, Florian Chris Widjaja, menilai penguatan modal kerja dan kapasitas usaha menjadi krusial seiring meningkatnya kebutuhan fasilitas kesehatan terhadap alat kesehatan. Dana IPO setelah dikurangi biaya emisi akan dialokasikan secara terukur: Rp50 miliar untuk pembayaran sebagian pokok pinjaman, sekitar 6,4% untuk belanja modal pembangunan gedung pabrik Cikupa, dan 72,3% untuk modal kerjaโtermasuk pembelian barang terkait proyek soft loan serta bahan baku dan persediaan operasional.
Kinerja keuangan EMMI menunjukkan tren positif. Pada tahun buku 2025, perseroan membukukan laba Rp34,13 miliar, melonjak signifikan dari laba tahun sebelumnya yang hanya Rp11 miliar. Penjualan bersih sepanjang 2025 mencapai Rp454,63 miliar. Lonjakan ini mencerminkan permintaan alat kesehatan yang tinggi pasca-pandemi dan ekspansi rumah sakit di Indonesia.
Struktur kepemilikan EMMI saat pendirian dikuasai oleh Surya Gunawan Widjaja (55%), Eddy Lie (35%), dan Andre Fajar Surya Gunawan (10%). Dengan masuknya investor publik melalui IPO, komposisi kepemilikan akan berubah, namun para pendiri tetap memegang kendali mayoritas.
IPO EMMI menjadi salah satu aksi korporasi yang menarik di sektor kesehatan, sejalan dengan program pemerintah memperkuat kemandirian alat kesehatan dalam negeri. Ke depan, investor akan mencermati realisasi penggunaan dana dan kemampuan EMMI mempertahankan pertumbuhan laba di tengah persaingan industri alat kesehatan yang semakin ketat.



