Kebakaran TPA Jatiwaringin: Polusi Udara Tembus Level Sangat Tidak Sehat, KLH Imbau Warga Pakai Masker
Baca dalam 60 detik
- Konsentrasi PM2.5 di sekitar TPA Jatiwaringin mencapai 1.000, 18 kali lipat dari baku mutu 55.
- Kebakaran sampah plastik menghasilkan gas beracun NOx dan SOx yang lebih berbahaya dari karhutla.
- Petugas masih berupaya memadamkan api melalui jalur darat dan udara, sementara warga diimbau membatasi aktivitas luar.

Kebakaran yang melanda Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Kabupaten Tangerang sejak Selasa (30/6) telah mendorong kualitas udara di wilayah tersebut ke level sangat tidak sehat, dengan konsentrasi partikel halus (PM2.5) menembus angka 1.000โjauh melampaui ambang batas aman 55. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) pun mengeluarkan imbauan darurat bagi warga sekitar untuk membatasi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker guna menghindari gangguan pernapasan akut.
Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup KLH, Rasio Ridho Sani, mengungkapkan bahwa pemantauan dilakukan menggunakan dua unit mobil stasiun pemantauan kualitas udara yang ditempatkan di titik-titik strategis di sekitar lokasi kebakaran. Hasilnya, selain PM2.5 yang mencapai level ekstrem, konsentrasi PM10 tercatat 750โsekitar sepuluh kali lipat dari baku mutu 75. Kedua jenis partikel ini dapat menembus paru-paru dan masuk ke aliran darah, memicu berbagai penyakit kardiovaskular dan pernapasan.
Yang lebih mengkhawatirkan, kebakaran TPA tidak hanya membakar biomassa seperti sampah organik, tetapi juga material plastik dan limbah lainnya. Proses pembakaran tersebut menghasilkan gas beracun seperti nitrogen oksida (NOx) dan sulfur oksida (SOx), yang dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan, hujan asam, dan dampak jangka panjang terhadap lingkungan. Menurut Rasio, polusi dari kebakaran TPA ini lebih berbahaya dibandingkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) karena kandungan gas metana dan zat kimia berbahaya yang dilepaskan.
KLH mengimbau masyarakat di radius terdampak untuk mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit paru. Penggunaan masker, khususnya tipe N95 atau setara, sangat dianjurkan untuk menyaring partikel halus. "Kami minta warga menggunakan alat pelindung diri agar dampak kesehatan bisa diminimalkan," ujar Rasio saat meninjau lokasi, Kamis (2/7).
Proses pemadaman sendiri masih berlangsung melalui dua jalur: darat oleh petugas pemadam kebakaran dan udara menggunakan helikopter water bombing. Namun, hingga hari ketiga, api belum sepenuhnya padam. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan meluasnya dampak polusi ke permukiman padat di sekitar TPA, yang sebagian besar warganya menggantungkan hidup pada sektor informal dan sulit untuk sepenuhnya tinggal di dalam rumah.
Kejadian ini kembali menyoroti kerentanan sistem pengelolaan sampah di Indonesia, di mana banyak TPA masih menggunakan metode open dumping yang rawan kebakaran, terutama saat musim kemarau. Para pengamat lingkungan menilai insiden seperti ini seharusnya menjadi momentum untuk mempercepat transisi ke teknologi pengolahan sampah yang lebih modern, seperti sanitary landfill atau waste-to-energy, guna mengurangi risiko bencana serupa di masa depan. Pertanyaannya, akankah pemerintah daerah dan pusat mengambil langkah konkret setelah api padam?



