Kebakaran TPA Jatiwaringin Meluas, 154 Warga Terpapar ISPA
Baca dalam 60 detik
- Api di TPA Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, belum padam setelah tiga hari, mengakibatkan 154 warga menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
- Petugas pemadam kebakaran masih berjuang menjinakkan api di tengah tumpukan sampah yang sulit dijangkau, sementara asap tebal menyelimuti permukiman sekitar.
- Dampak kesehatan yang meluas memicu kekhawatiran akan krisis lingkungan dan urgensi pengelolaan sampah yang lebih baik di wilayah penyangga Jakarta.

Kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, yang telah berlangsung selama tiga hari, belum juga dapat dipadamkan. Peristiwa ini tidak hanya melumpuhkan aktivitas pengelolaan sampah di kawasan tersebut, tetapi juga telah menyebabkan 154 warga sekitar mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat paparan asap tebal yang terus membubung.
Berdasarkan laporan dari petugas di lapangan, api masih membara di sejumlah titik tumpukan sampah yang sulit dijangkau. Upaya pemadaman terus dilakukan dengan mengerahkan puluhan personel pemadam kebakaran dan alat berat, namun kondisi cuaca dan karakteristik sampah yang mudah terbakar menjadi kendala utama. Asap yang dihasilkan tidak hanya mengganggu pernapasan warga, tetapi juga membatasi jarak pandang di sekitar lokasi.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang menyatakan bahwa 154 warga yang terdiagnosis ISPA telah mendapatkan perawatan medis di puskesmas terdekat. Sebagian besar pasien adalah anak-anak dan lansia, kelompok yang paling rentan terhadap gangguan pernapasan. Pemerintah setempat telah mendirikan posko kesehatan darurat untuk mengantisipasi lonjakan jumlah pasien, serta membagikan masker kepada warga di radius 2 kilometer dari TPA.
Kebakaran TPA Jatiwaringin menjadi pengingat akan lemahnya infrastruktur pengelolaan sampah di Indonesia, khususnya di daerah penyangga Jakarta. TPA ini menerima ribuan ton sampah setiap hari dari Jakarta dan sekitarnya, namun sistem pengelolaan yang belum optimal membuatnya rentan terhadap kebakaran, terutama di musim kemarau. Peristiwa serupa pernah terjadi di TPA Bantar Gebang dan TPA Cipeucang, menunjukkan pola masalah yang berulang.
Menurut pengamat lingkungan dari Universitas Indonesia, kebakaran TPA tidak hanya berdampak pada kesehatan warga, tetapi juga melepaskan gas rumah kaca dan polutan berbahaya ke atmosfer. Ia menilai bahwa peristiwa ini seharusnya mendorong pemerintah untuk mempercepat transisi menuju teknologi pengolahan sampah yang lebih modern, seperti gasifikasi atau daur ulang mekanis, guna mengurangi ketergantungan pada tempat pembuangan terbuka.
Di sisi lain, warga sekitar TPA Jatiwaringin mulai mengeluhkan dampak ekonomi akibat kebakaran. Banyak yang tidak bisa bekerja karena harus mengungsi atau merawat anggota keluarga yang sakit. Beberapa sekolah terpaksa diliburkan untuk menghindari risiko kesehatan pada anak-anak. Pemerintah Kabupaten Tangerang berjanji akan memberikan kompensasi dan bantuan logistik bagi warga terdampak, namun belum ada kepastian kapan api benar-benar dapat dipadamkan.
Ke depan, pertanyaan besar yang mengemuka adalah apakah insiden ini akan menjadi titik balik dalam pengelolaan sampah di Indonesia, atau hanya akan menjadi catatan kaki dari bencana yang terus berulang. Tanpa kebijakan yang tegas dan investasi yang memadai, warga di sekitar TPA akan terus menjadi korban dari sistem yang gagal.



