Ketika Warga Inggris Mendukung Revolusi Amerika: Sejarah yang Terlupakan
Baca dalam 60 detik
- Banyak warga Inggris, termasuk pedagang dan intelektual, mendukung perjuangan koloni Amerika melawan kebijakan pemerintah Inggris pada abad ke-18.
- Dukungan ini didorong oleh keyakinan bahwa perjuangan melawan tirani di Amerika terkait erat dengan upaya reformasi politik di Inggris sendiri.
- Meskipun akhirnya kalah, gerakan pro-Amerika di Inggris meninggalkan warisan pemikiran tentang kedaulatan rakyat dan representasi politik.

Revolusi Amerika bukanlah pertarungan sederhana antara koloni dan negara induk. Di seberang Atlantik, sejumlah warga Inggris justru memihak para pemberontak, didorong oleh kepentingan ekonomi dan prinsip kebebasan yang sama.
Para pedagang dan pengusaha yang bergantung pada perdagangan dengan Amerika menjadi penentang paling vokal terhadap kebijakan agresif pemerintah Inggris pada 1760-an dan 1770-an. Ketika pertempuran pecah pada 1775, mereka mengorganisir petisi yang menuntut perdamaian dan rekonsiliasi. Namun, dukungan terhadap revolusi juga merupakan soal prinsip—pergulatan tentang hakikat dan batas kebebasan—dan banyak warga Inggris memperlakukannya demikian.
Sejak 1760-an, perselisihan koloni Amerika dengan pemerintah telah terkait erat dengan isu korupsi, oligarki, dan tirani eksekutif di Inggris sendiri. Jurnalis dan politisi London, John Wilkes, menggerakkan gerakan oposisi populer dengan menjadi juara koalisi pedagang dan buruh London. Mereka percaya raja mengumpulkan terlalu banyak kekuasaan, menggunakan suap dan jabatan untuk mengendalikan parlemen dan mencegahnya mewakili rakyat secara sungguhan.
Latar belakang politik inilah yang melahirkan Thomas Paine, yang pindah ke Philadelphia pada 1774 dengan rekomendasi Benjamin Franklin. Kumpulan tulisan Paine yang baru ditemukan menunjukkan bahwa ia jauh lebih aktif dalam perdebatan surat kabar dan pamflet pada 1760-an dan awal 1770-an. Ia tidak menjadi revolusioner di Amerika, melainkan di Inggris.
Argumen koloni Amerika tentang kurangnya representasi dan penyalahgunaan kekuasaan oleh menteri korup bergema di seberang Atlantik. Arthur Lee dari Virginia, yang tinggal di London antara 1770 dan 1776, sering menulis di surat kabar oposisi. Ia memperingatkan bahwa jika "kekuasaan sewenang-wenang" ditegakkan di koloni, ia akan "segera melintasi lautan dan akhirnya menetap di Inggris."
Di antara mereka yang menghubungkan krisis Amerika dengan persoalan pemerintahan perwakilan adalah aktivis antiperbudakan Granville Sharp. Ia menerbitkan pamflet pada 1774 yang menyatakan "hak alami rakyat untuk mendapat bagian dalam legislatif," dengan argumen bahwa "semua subjek Inggris," termasuk di Amerika dan Irlandia, "sama-sama bebas menurut hukum alam." Kemerdekaan legislatif Irlandia memang menjadi salah satu hasil dari perjuangan revolusioner transatlantik.
Sejarawan Catharine Macaulay menuduh pemerintah mempercepat "kemajuan despotisme yang lambat namun stabil" di seluruh Inggris dan kekaisarannya. Karya Macaulay, History of England, membela kaum revolusioner republik abad ke-17 dan, menurut sejarawan Mary Sarah Bilder, menginspirasi teks Deklarasi Kemerdekaan Thomas Jefferson.
Kaum Protestan nonkonformis di Inggris juga memberikan dukungan kuat bagi perjuangan patriot di koloni. Mereka memiliki tradisi memperjuangkan kebebasan yang menyatu dengan perjuangan bersama untuk reformasi parlemen dan hak-hak Amerika. Guru sekolah nonkonformis James Burgh menerbitkan tiga jilid katalog "kesalahan, cacat, dan penyalahgunaan publik" dalam sistem politik Inggris. "Ketika rakyat mengambil tindakan perbaikan ke tangan mereka sendiri," ramalnya, "celakalah para tiran."
Namun, risalah pro-Amerika yang paling berpengaruh di Inggris adalah karya Richard Price. Ia menekankan bahwa kebebasan bergantung pada kedaulatan rakyat—pemerintahan semua orang secara setara—yang menurutnya disalahgunakan di kedua sisi lautan. Revolusi di Amerika, menurut Price, adalah bagian dari "revolusi dalam urusan kerajaan ini" yang sudah di ambang pintu.
Buku Price, menurut para pengkritiknya, membekas di kalangan pekerja biasa Inggris, seperti penjahit, pembuat lilin, pembuat sabun, penyapu cerobong asap, dan bahkan "patriot perempuan." Salah satu pembacanya adalah James Aitken, seorang tukang cat yang menjadi radikal setelah tinggal di koloni Amerika. Ia membakar galangan kapal Portsmouth pada akhir 1776 sebagai bagian dari kampanye melumpuhkan Angkatan Laut Kerajaan, lalu ditangkap dan dieksekusi pada 1777. Otoritas Inggris saat itu sangat khawatir dengan dampak Revolusi Amerika di dalam negeri.
Meskipun sebagian besar warga Inggris tidak pernah memihak pemberontak, dan dukungan terhadap pemerintah menguat setelah Prancis memasuki perang pada 1778, kemarahan terhadap politik korup dan oligarkis masih meluas. Pada Kerusuhan Gordon dua tahun kemudian, orang-orang dilaporkan berteriak: "Damai dengan Amerika, dan perang dengan Prancis!"
Setelah kekalahan di Yorktown pada 1781, pemerintahan baru yang dipimpin oleh para penentang perang mengambil alih dan mengambil beberapa langkah reformasi sebelum runtuh karena pertikaian internal. Price dan banyak orang yang sepaham dengannya mengambil harapan dari hasil tersebut. "Perjuangan telah mulia di pihak Amerika," tulisnya kepada temannya Benjamin Rush pada 1783, "dan kini berakhir persis seperti yang saya harapkan, yaitu emansipasi negara-negara bagian Amerika dan tegaknya kemerdekaan mereka."
Bagi Indonesia, kisah ini mengingatkan bahwa perjuangan kemerdekaan tidak pernah berdiri sendiri; selalu ada sekutu di pihak penjajah yang memperjuangkan nilai-nilai yang sama. Revolusi Amerika bukan hanya peristiwa lokal, melainkan bagian dari gelombang pemikiran kebebasan yang mengguncang tatanan global—sebuah pelajaran bahwa solidaritas lintas batas dapat mengubah sejarah.



