Mantan PM China Zhu Rongji Wafat: Arsitek Reformasi Ekonomi yang Meninggalkan Warisan Bagi Asia
Baca dalam 60 detik
- Zhu Rongji, tokoh kunci liberalisasi ekonomi China dan arsitek masuknya negeri itu ke WTO, meninggal dunia pada usia 97 tahun.
- Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong menyampaikan belasungkawa, menyebut Zhu sebagai 'sahabat lama' yang visioner dalam memperkuat hubungan bilateral.
- Kepergian Zhu menandai berakhirnya era reformis yang meletakkan fondasi bagi kebangkitan ekonomi China, dengan implikasi bagi dinamika perdagangan regional.

Mantan Perdana Menteri China, Zhu Rongji, yang dikenal sebagai arsitek reformasi ekonomi dan kebangkitan negeri itu menjadi kekuatan global, meninggal dunia pada Rabu pagi (13/8) karena sakit. Kabar duka ini disampaikan langsung oleh Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, yang menyebut Zhu sebagai "sahabat lama" yang berperan penting dalam mempererat hubungan kedua negara.
Zhu, yang menjabat sebagai perdana menteri dari 1998 hingga 2003, meninggalkan jejak yang tak terhapuskan dalam lanskap ekonomi China. Di bawah kepemimpinannya, ia berani melakukan privatisasi perusahaan-perusahaan milik negara yang tidak efisien, mereformasi sektor perumahan perkotaan, dan mendorong kepemilikan rumah. Kebijakan-kebijakan ini, meski kontroversial pada masanya, menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi China yang pesat dalam dua dekade terakhir.
Di panggung global, Zhu adalah tokoh kunci di balik masuknya China ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada 2001. Negosiasi yang ia pimpin berlangsung alot dan penuh konsesi, yang pada saat itu memicu kekhawatiran di kalangan pejabat China bahwa ekonomi mereka akan terpuruk. Namun, langkah berani ini justru membuka pintu bagi China untuk menjadi raksasa ekspor dunia dan menarik investasi asing dalam jumlah besar.
Bagi Indonesia, warisan Zhu memiliki resonansi yang mendalam. Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia telah merasakan langsung dampak dari transformasi ekonomi China. Kemitraan dagang yang erat antara kedua negara, yang kini mencapai miliaran dolar, tidak terlepas dari visi Zhu yang melihat China sebagai mesin pertumbuhan yang akan menguntungkan seluruh kawasan. Gagasannya tentang kawasan perdagangan bebas ASEAN-China, yang ia usulkan pada 1999, kini menjadi kenyataan dan telah mengubah lanskap ekonomi regional.
Dalam surat belasungkawa yang ditujukan kepada Perdana Menteri China, Li Qiang, Wong mengenang Zhu sebagai pemimpin dengan "visi jauh ke depan dan tekad yang kuat". Wong juga menyoroti peran Zhu dalam memperkuat hubungan bilateral, termasuk menjadi pemimpin China pertama yang menyampaikan Singapore Lecture pada 1999. Dalam pidato bersejarah itu, Zhu menegaskan keyakinannya bahwa pertumbuhan ekonomi China akan membawa manfaat bagi Asia dan dunia.
Zhu juga merupakan pendukung awal Suzhou Industrial Park, proyek kerja sama pemerintah-ke-pemerintah pertama antara China dan Singapura. Sebelumnya, saat menjabat sebagai wali kota Shanghai, ia aktif mendorong pertukaran pejabat antara Singapura dan Shanghai, yang menurut Wong menjadi fondasi bagi hubungan erat kedua negara saat ini.
"Hari ini, visinya telah terbukti, dengan China menjadi mitra ekonomi penting bagi Singapura dan negara-negara di kawasan ini," demikian pernyataan Wong, menggarisbawahi relevansi warisan Zhu bagi tatanan ekonomi regional.
Obituari yang dirilis oleh badan-badan politik tertinggi China menggambarkan Zhu sebagai "anggota luar biasa dari Partai Komunis China" yang hidupnya didedikasikan untuk revolusi, perjuangan, dan kemuliaan. "Kepergiannya merupakan kehilangan besar bagi partai dan negara," demikian bunyi pernyataan resmi tersebut.
Kepergian Zhu Rongji menutup satu babak penting dalam sejarah ekonomi China. Namun, pertanyaannya kini adalah: bagaimana generasi penerus akan melanjutkan warisan reformasi yang ia rintis, terutama di tengah tantangan ekonomi global yang semakin kompleks? Bagi Indonesia dan Asia Tenggara, jejak Zhu akan terus terasa dalam arsitektur perdagangan dan investasi yang ia bantu bangun.



