Afrika Selatan Bangkit dari Mimpi Buruk 2010: Lolos ke Fase Gugur Piala Dunia untuk Pertama Kalinya
Baca dalam 60 detik
- Bafana Bafana mencatat sejarah dengan lolos ke babak gugur Piala Dunia 2026, mengubur trauma sebagai tuan rumah pertama yang gagal di fase grup pada 2010.
- Pelatih Hugo Broos, yang diremehkan setelah kekalahan perdana dari Meksiko, berhasil membalikkan keadaan dengan merekrut pemain muda dan mengandalkan skuad domestik.
- Afrika Selatan akan menghadapi Kanada di babak 32 besar, sebuah laga yang dinilai sangat terbuka dan berpotensi membawa mereka lebih jauh.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Afrika Selatan melaju ke fase gugur Piala Dunia—sebuah pencapaian yang seharusnya sudah diraih sejak 16 tahun lalu saat mereka menjadi tuan rumah. Kala itu, gol pembuka Siphiwe Tshabalala ke gawang Meksiko sempat disebut sebagai "gol untuk seluruh Afrika", namun euforia itu sirna setelah Bafana Bafana tersingkir lebih awal karena selisih gol. Kini, di Piala Dunia 2026, tim besutan Hugo Broos berhasil mematahkan kutukan tersebut dengan finis sebagai runner-up Grup A.
Kegagalan di 2010 tidak hanya menyisakan luka bagi para penggemar, tetapi juga membuat sepak bola domestik Afrika Selatan terpuruk. Jurnalis olahraga Mark Gleeson menggambarkan kondisi sepak bola lokal sebagai "sedikit mati suri" pasca-turnamen. Minimnya sponsor dan aliran dana membuat kompetisi dalam negeri lesu, sementara tim nasional absen di Piala Afrika (Afcon) pada 2012, 2017, dan 2021. Namun, kebangkitan mulai terlihat ketika Mamelodi Sundowns merebut gelar juara Liga Champions Afrika pada 2016 dan mengulanginya pada Mei lalu.
Kunci kebangkitan ini tidak lepas dari tangan dingin Hugo Broos. Pelatih asal Belgia yang pernah membawa Kamerun juara Piala Afrika 2017 itu direkrut setelah Afsel gagal lolos ke Afcon 2021. Langkah pertamanya adalah membuang pemain senior dan membangun skuad muda. Keputusan itu sempat dikritik, terutama setelah kekalahan 2-0 dari Meksiko di laga pembuka—ulangan skenario 2010—yang diperparah dengan dua kartu merah. Namun, Broos membungkam para pengkritiknya dengan membawa tim bangkit: imbang melawan Republik Ceko dan menekuk Korea Selatan untuk memastikan tempat di babak 32 besar.
"Dia layak mendapatkan patung," puji kapten dan kiper Ronwen Williams. "Penghargaan tertinggi untuk keyakinan yang dia tunjukkan. Saat punggung kami menempel ke tembok, dia selalu ada." Mantan kapten timnas Dean Furman, yang menjadi salah satu korban perombakan Broos, mengakui bahwa keputusan itu adalah yang terbaik. "Apa yang dia lakukan—finis ketiga di Afcon, lolos ke Piala Dunia, dan kini mencapai fase gugur—sungguh fenomenal," ujarnya.
Prestasi ini hadir di tengah situasi sosial-politik yang tidak mudah bagi Afrika Selatan. Gelombang protes anti-imigran dan kekerasan terhadap warga negara asing sempat memicu reaksi negatif dari negara-negara Afrika lain. Beberapa pihak bahkan menggelar "pesta benci" saat Meksiko mengalahkan Afsel di laga pembuka. Williams dan Furman menyerukan persatuan antar pendukung Afrika. "Kami selalu bangga dengan Senegal, Nigeria, Ghana saat mereka berprestasi di Piala Dunia. Terlepas dari gejolak politik, saya berharap Bafana bisa menjadi tim yang dibanggakan seluruh benua," kata Furman.
Langkah selanjutnya: Afrika Selatan akan berhadapan dengan Kanada, sesama debutan di fase gugur, di Los Angeles Stadium pada Minggu (19:00 GMT). Kedua tim belum pernah bertemu sebelumnya. Kanada kehilangan keunggulan kandang setelah dikalahkan Swiss di laga terakhir grup, membuka peluang bagi Afsel untuk melaju ke babak 16 besar. "Anda harus percaya ini adalah pertandingan yang berpotensi dimenangkan Afrika Selatan," kata Gleeson. Broos, yang kemungkinan besar pensiun setelah turnamen ini, menegaskan timnya akan bertarung habis-habisan. "Anda akan melihat tim yang percaya diri dan berjuang selama 90 menit, bahkan lebih jika perlu. Ini seharusnya menjadi momen yang lebih bersejarah lagi."



