Hadapi Messi di Piala Dunia, Bek Cape Verde Justru 'Menikmati' Tantangan
Baca dalam 60 detik
- Cape Verde, negara kepulauan terkecil yang lolos ke fase gugur Piala Dunia, akan berhadapan dengan Argentina dan Lionel Messi di babak 32 besar.
- Roberto 'Pico' Lopes, bek tengah Cape Verde, dinilai ibunya tidak gentar menghadapi Messi berkat pengalaman dan ketenangannya di bawah tekanan.
- Pertandingan ini menjadi ujian besar bagi pertahanan Cape Verde yang hanya kebobolan dua gol sepanjang fase grup.

Lionel Messi, pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia, akan menjadi momok bagi sebagian besar bek. Namun, tidak bagi Roberto 'Pico' Lopes. Bek tengah Cape Verde itu justru disebut akan 'menikmati' duel melawan megabintang Argentina pada Jumat (30/7) di Miami, dalam laga penentuan tiket ke babak 16 besar.
Pernyataan itu datang dari sang ibu, Judy Lopes, yang yakin putranya tidak akan gentar menghadapi tekanan. "Dia akan menikmati tantangan melawan Messi. Pico selalu tenang, percaya diri, dan tampil baik dalam situasi tertekan," ujar Judy kepada BBC Sport NI. Menurutnya, pengalaman Pico bermain di dua Piala Afrika dan 10 tahun bersama Shamrock Rovers membuatnya siap secara mental.
Cape Verde memang menjadi kejutan di Piala Dunia ini. Untuk pertama kalinya tampil di turnamen akbar, mereka menjadi negara dengan populasi terkecil yang berhasil lolos ke fase gugur. Bermain di Grup H yang beratโbersama Spanyol, Uruguay, dan Arab Saudiโmereka mampu bertahan tanpa terkalahkan: tiga kali imbang, hanya kebobolan dua gol. Kiper veteran Vozinha, 40 tahun, tampil gemilang, termasuk saat menahan gempuran Spanyol di laga pembuka.
Namun, ujian sesungguhnya kini menanti. Argentina datang sebagai juara bertahan dengan pertahanan tangguh yang baru kebobolan satu gol. Messi sendiri telah mengoleksi enam gol di turnamen ini, dan ini adalah Piala Dunia keenamnya serta penampilan ke-30 di ajang tersebut. "Tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Rasanya seperti menonton dari luar," aku Judy, yang masih tidak percaya putranya akan berduel dengan pemain terbaik dunia.
Kisah unik juga datang dari sisi keluarga. Judy, yang bekerja sebagai sekretaris di sebuah sekolah di Dublin, harus kembali bekerja setelah menyaksikan tiga laga grup. "Kami hanya merencanakan tiga pertandingan grup karena peluang lolos hanya 1%," katanya. Namun, ia akan kembali ke Amerika bersama suami dan anak-anaknya untuk mendukung Pico. Poster dukungan dari murid-murid sekolahnya bahkan sudah ditandatangani seluruh tim Cape Verde.
Bagi Indonesia, perjalanan Cape Verde menjadi inspirasi bahwa keterbatasan bukan halangan. Dengan sumber daya terbatas, mereka mampu bersaing di level tertinggi. Pelajaran tentang manajemen tekanan dan pertahanan disiplin bisa menjadi contoh bagi timnas Indonesia yang tengah membangun skuad muda.
Judy mengakui Argentina adalah favorit, tetapi ia percaya pada keajaiban. "Sepak bola itu 90 menit, 11 lawan 11. Apa pun bisa terjadi. Semoga dongeng ini berlanjut," tutupnya. Bisakah Cape Verde menaklukkan raksasa Argentina dan melanjutkan mimpi indah mereka?



