Norris Rela 'Derita' demi Gelar Juara: Performa McLaren Jauh dari Harapan
Baca dalam 60 detik
- Lando Norris mengakui awal musim 2026 bersama McLaren sangat berat akibat masalah keandalan, namun ia menerima konsekuensi dari perjuangan meraih gelar ganda musim lalu.
- Pembalap Inggris itu tertinggal 92 poin dari pemuncak klasemen Kimi Antonelli, dengan satu-satunya peluang menang di Miami gagal karena kesalahan strategi.
- Norris menegaskan komitmennya pada McLaren dan tidak menutup kemungkinan menjadi pembalap seumur hidup, meski rumor Max Verstappen bergabung terus berhembus.

Lando Norris mengaku ikhlas menjalani musim 2026 yang penuh kesulitan bersama McLaren, karena ia menilai penderitaan tahun ini adalah harga yang harus dibayar atas kejayaan musim lalu. Dalam wawancara eksklusif dengan BBC Sport menjelang Grand Prix Inggris di Silverstone, pembalap berusia 26 tahun itu menyebut awal musim ini sebagai "dreadful" dalam hal keandalan, meski kecepatan mobilnya tidak seburuk itu.
Norris, yang musim lalu merebut gelar juara dunia pembalap dan konstruktor bersama McLaren, kini tercecer di peringkat kelima klasemen dengan selisih 92 poin dari pemimpin sementara Kimi Antonelli (Mercedes). Satu-satunya peluang kemenangan grand prix musim ini, saat ia memimpin di Miami, sirna akibat kesalahan strategi tim. Lebih dari itu, serangkaian masalah keandalan—sebagian berasal dari mesin Mercedes, sebagian dari kesalahan internal McLaren—menyebabkan beberapa kali gagal finis.
"Saya senang memiliki rasa sakit tahun ini demi kemuliaan tahun lalu," ujar Norris. Ia menjelaskan bahwa energi besar yang dikerahkan untuk mempertahankan gelar di akhir musim 2025, terutama saat menghadapi tekanan sengit dari Max Verstappen dan Red Bull, berdampak pada persiapan musim ini. "Kami tetap berusaha keras untuk siap tahun ini, tapi tidak sekuat yang kami harapkan. Itu harga yang harus dibayar di dunia yang sangat kompetitif," tambahnya.
Meski frustrasi, Norris menegaskan bahwa cintanya pada McLaren tidak pernah pudar. Ia telah menghabiskan seluruh karier F1-nya bersama tim asal Woking itu—delapan tahun dan terus bertambah—dan dibimbing oleh CEO McLaren Racing Zak Brown selama lebih dari satu dekade. Norris mengaku lebih memilih kebahagiaan di tempat yang ia cintai daripada pindah ke tim lain demi peluang menang yang lebih besar. "Ada garis tipis antara sekadar ingin menang dan ingin bersama orang-orang yang saya cintai, tim yang saya cintai, dan berjuang bersama mereka," katanya.
Menariknya, Norris tidak menutup kemungkinan menjadi pembalap seumur hidup di McLaren. "Saya tidak menentangnya sama sekali. Saya akan senang. Mereka memberi saya kesempatan pertama. Kami menang bersama. Kami ingin menang lebih banyak lagi," ujarnya. Namun, rumor perpindahan pembalap mulai mencuat di "silly season" F1, termasuk spekulasi Max Verstappen ke McLaren setelah pertemuan antara Brown dan manajemen Verstappen. Brown sendiri telah membantah niat mengubah lini pembalap. Norris menanggapi santai: "Selalu ada rumor. Tapi saya tahu nama kami sudah tertulis di McLaren untuk waktu yang lebih lama."
Norris bahkan menyambut baik kemungkinan Verstappen menjadi rekan setimnya. "Saya menyambut siapa pun sebagai rekan setim. Max, Lewis (Hamilton), Fernando (Alonso) adalah yang terbaik. Cara terbaik membuktikan diri adalah dengan memiliki mereka sebagai rekan setim," katanya. Namun ia mengakui filosofi McLaren yang mengedepankan kesetaraan akan menjadi "vibe yang berbeda" bagi Verstappen yang terbiasa dengan fokus tunggal di Red Bull.
Menjelang Grand Prix Inggris yang ia menangi tahun lalu, Norris realistis bahwa untuk mengulang sukses itu "kami butuh banyak keberuntungan". Namun ia tetap antusias. "Ini adalah tempat yang membuat Anda merasa benar-benar menjadi bagian. Penggemar, dukungan, sorakan—semua itu luar biasa. Ini akan menjadi balapan yang paling saya rindukan suatu hari nanti," tutupnya.



