Keamanan Terancam, Pangeran Harry Batalkan Rencana Bawa Keluarga ke Inggris
Baca dalam 60 detik
- Pangeran Harry urung membawa Meghan dan anak-anak ke Inggris setelah permohonan pengamanan negara ditolak.
- Keluarga kerajaan hanya mendapat perlindungan polisi jika berada di dalam properti kerajaan, membuat pergerakan mereka berisiko.
- Insiden penguntit berulang dalam setahun terakhir memicu kekhawatiran serius terhadap keselamatan anak-anak Harry.

Pangeran Harry dipastikan membatalkan rencana membawa istri dan kedua anaknya dalam kunjungan ke Inggris bulan depan setelah pemerintah setempat menolak memberikan perlindungan kepolisian. Keputusan ini memutus harapan pertemuan antara Pangeran Archie dan Putri Lilibet dengan kakek mereka, Raja Charles III, yang sudah lama dinantikan.
Duke of Sussex itu dijadwalkan menghadiri rangkaian acara Invictus Games dan kegiatan amal lainnya selama lima hari di Inggris. Awalnya, Meghan Markle serta kedua buah hati mereka—Archie (7) dan Lilibet (5)—direncanakan ikut serta. Namun, penolakan paket keamanan dari Komite Eksekutif Perlindungan Kerajaan dan Pejabat (RAVEC) mengubah segalanya. Sumber internal menyebut langkah tersebut sebagai "upaya sengaja menciptakan kondisi yang hampir mustahil" bagi keluarga Sussex untuk menjalankan agenda mereka.
Menurut laporan The Telegraph, keluarga yang kini menetap di California itu hanya akan mendapat pengamanan yang didanai pembayar pajak jika berada di dalam kediaman kerajaan. Raja Charles telah menawarkan salah satu properti kerajaan untuk mereka tinggali, tetapi lokasinya tidak diungkapkan. Namun, sumber dekat Sussex menekankan bahwa keterbatasan wewenang pengamanan swasta membuat situasi semakin genting. "Telah terjadi tiga insiden terpisah di Inggris dalam 12 bulan terakhir, masing-masing melibatkan orang terobsesi yang berhasil mendekati Duke dalam jarak beberapa kaki," ungkap sumber tersebut.
Kekhawatiran terbesar bukan pada Harry sendiri—yang dikenal tegar sebagai mantan tentara—melainkan dampak psikologis pada anak-anak. "Yang menjadi perhatian semua orang adalah bagaimana momen seperti itu memengaruhi anak-anak," tambah sumber itu. Situasi ini memaksa Harry untuk mempertimbangkan opsi alternatif, seperti terbang dari daratan Eropa hanya untuk satu hari dan kembali lagi, mengingat keluarga diperkirakan sedang berlibur di benua tersebut.
Pemerintah Inggris, melalui juru bicaranya, menegaskan bahwa sistem keamanan protektif mereka bersifat ketat dan proporsional. "Kebijakan kami sejak lama adalah tidak memberikan informasi rinci tentang pengaturan tersebut, karena dapat mengompromikan integritas dan memengaruhi keamanan individu," ujar juru bicara tersebut. Namun, sumber Sussex menilai pendekatan itu tidak memadai. "Perlindungan keamanan selalu tentang risiko, bukan jabatan. Peran seseorang mungkin berubah, tetapi ancaman yang dihadapi karena siapa dirinya, dari mana asalnya, dan apa yang telah dilakukannya untuk negara tidak begitu saja hilang."
Bagi publik Indonesia, kisah ini mengingatkan pada dilema keamanan yang kerap dihadapi figur publik di negara sendiri versus perlindungan negara. Di tengah hiruk-pikuk politik dan keamanan global, kasus Harry menunjukkan bahwa status kerajaan pun tak menjamin keselamatan tanpa dukungan aparat. Pertanyaan besarnya: akankah Raja Charles mampu menjembatani kesenjangan ini, atau justru memperlebar jarak dengan putra bungsunya?



