Pilot Amerika Tewas dalam Pembakaran Pesawat di Yahukimo, Polisi Selidiki Motif
Baca dalam 60 detik
- Seorang pilot warga negara AS ditemukan tewas setelah pesawat perintis yang diterbangkannya dibakar orang tak dikenal di Bandara Ipdeheik, Papua Pegunungan.
- Kementerian Perhubungan masih mendalami penyebab kematian pilot, sementara aparat keamanan fokus mengungkap pelaku dan motif pembakaran.
- Insiden ini menyoroti kerentanan penerbangan perintis di wilayah terpencil Papua yang kerap menghadapi gangguan keamanan.

Seorang pilot berkebangsaan Amerika Serikat, Nicholas F. Goselin, dilaporkan tewas setelah pesawat perintis yang dikemudikannya dibakar oleh orang tak dikenal (OTK) di Bandara Ipdeheik, Distrik Balinggama, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, Kamis (2/7) pagi. Peristiwa ini menambah panjang daftar gangguan keamanan di wilayah timur Indonesia yang kerap menghambat mobilitas udara.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lukman F. Laisa, mengonfirmasi bahwa pilot yang lahir di Connecticut, AS, pada 16 November 1996 itu meninggal dunia dalam insiden tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa penyebab pasti kematian masih diselidiki oleh aparat berwenang. "Laporan awal dari Kepala UPBU Kelas I Wamena menyebutkan pilot atas nama Nicholas F. Goselin dilaporkan meninggal dunia. Dugaan penyebab kejadian masih menunggu konfirmasi lebih lanjut," ujarnya dalam keterangan tertulis.
Pesawat jenis perintis milik PT AMA dengan nomor registrasi PK-RCY itu diketahui mengangkut tujuh penumpang dan lepas landas dari Bandara Wamena pada pagi hari. Setelah mendarat di Balinggama pukul 06.46 WIT, komunikasi dengan pos area lapangan terbang mendadak terputus. Belakangan diketahui, pesawat dibakar oleh OTK di landasan. Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz-2026 Kombes Yusuf Sutejo membenarkan peristiwa tersebut, namun belum merinci jumlah korban lain atau kerugian material.
Konteks keamanan di Papua memang menjadi perhatian serius. Wilayah pegunungan seperti Yahukimo sering kali menjadi lokasi rawan bagi penerbangan perintis yang menjadi tulang punggung konektivitas daerah terpencil. Sejumlah kelompok separatis bersenjata kerap menargetkan infrastruktur sipil, termasuk pesawat, sebagai bentuk protes atau tekanan politik. Meski demikian, otoritas belum mengaitkan insiden ini secara langsung dengan kelompok tertentu.
Bagi Indonesia, insiden ini tidak hanya menimbulkan duka bagi keluarga korban, tetapi juga mengguncang kepercayaan terhadap keselamatan penerbangan di Papua. Maskapai perintis seperti PT AMA berperan vital dalam distribusi logistik dan mobilitas warga di daerah yang minim akses darat. Gangguan semacam ini berpotensi memperlambat pembangunan dan memperparah isolasi wilayah. Pemerintah daerah dan aparat keamanan diharapkan segera mengungkap pelaku serta memperketat pengawasan di bandara-bandara kecil.
Menurut analis keamanan dari Universitas Indonesia, insiden pembakaran pesawat dengan korban warga asing bisa memicu tekanan diplomatik. "Pemerintah AS pasti akan memantau perkembangan kasus ini. Jika penanganannya lamban, bisa berdampak pada citra Indonesia di mata internasional," ujarnya. Ia juga menyoroti perlunya peningkatan sistem keamanan di bandara perintis, termasuk pemasangan CCTV dan patroli rutin.
Ke depan, pertanyaan besar masih menggantung: apakah ini aksi kriminal biasa atau bagian dari gerakan separatis? Sampai aparat berhasil menangkap pelaku dan mengungkap motif, masyarakat Papua dan industri penerbangan perintis akan terus hidup dalam ketidakpastian.



