Pesawat Perintis Dibakar di Yahukimo, Pilot WNA Tewas
Baca dalam 60 detik
- Pesawat AMA PK-RCY terbakar di Bandara Ipdeheik, Yahukimo, menewaskan pilot asing dan mengangkut tujuh penumpang.
- Komunikasi putus setelah pilot melaporkan pendaratan; penyebab kematian pilot masih diselidiki.
- Insiden ini menyoroti kerentanan penerbangan perintis di Papua dan pentingnya pengamanan bandara terpencil.

Seorang pilot warga negara asing tewas setelah pesawat perintis yang dikemudikannya dibakar oleh orang tak dikenal di Bandara Ipdeheik, Distrik Balinggama, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, Kamis (2/7) pagi. Pesawat bermesin tunggal milik PT AMA dengan nomor registrasi PK-RCY itu mengangkut tujuh penumpang dan baru saja mendarat dari Wamena sebelum insiden terjadi.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lukman F. Laisa, mengungkapkan bahwa pesawat lepas landas dari Bandara Wamena pukul 06.30 WIT dan tiba di Lapangan Terbang Balinggama 16 menit kemudian. Cuaca dilaporkan baik sepanjang rute. Namun, setelah pilot melaporkan pendaratan, komunikasi dari pos area bandara tiba-tiba terputus. โSetelah pilot melaporkan bahwa pesawat telah mendarat, komunikasi dari pos area di lapangan terbang tersebut dilaporkan terputus,โ ujarnya dalam keterangan tertulis.
Korban pilot diidentifikasi sebagai Nicholas F. Goselin, yang diduga berkewarganegaraan asing. Hingga berita ini diturunkan, penyebab kematiannya masih didalami oleh aparat keamanan setempat. Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz-2026, Kombes Yusuf Sutejo, membenarkan peristiwa pembakaran tersebut. โKejadiannya betul (pesawat dibakar),โ katanya singkat.
Insiden ini kembali menyoroti tingginya risiko operasional penerbangan perintis di wilayah terpencil Papua. Bandara Ipdeheik sendiri merupakan lapangan terbang kecil yang melayani akses transportasi bagi masyarakat di pegunungan tengah Papua. Akses yang sulit dan minimnya pengamanan kerap menjadi celah bagi aksi kriminal. Sebelumnya, sejumlah kasus pembakaran pesawat dan serangan terhadap infrastruktur penerbangan juga pernah terjadi di wilayah konflik Papua.
PT AMA bersama Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas I Wamena dan instansi terkait masih melakukan pendalaman serta verifikasi kronologi kejadian. โKami masih mengumpulkan fakta di lapangan untuk memastikan kronologi lengkap,โ ujar Lukman. Belum ada pernyataan resmi mengenai nasib tujuh penumpang yang ikut dalam penerbangan tersebut.
Kejadian ini menimbulkan pertanyaan besar tentang efektivitas pengamanan bandara perintis di Papua, terutama di tengah meningkatnya ketegangan keamanan di wilayah tersebut. Akankah pemerintah dan operator penerbangan mampu menjamin keselamatan penerbangan di daerah rawan? Ataukah insiden ini akan menjadi titik balik untuk mereformasi sistem keamanan penerbangan di Papua?



