Kronologi Baru dari Anggota DPRD TTU: Kunjungan Tak Terencana yang Berujung Petaka bagi Dokter Icha
Baca dalam 60 detik
- Veronika Lake, anggota DPRD TTU, membantah kunjungan ke RSU Leona pada 13 Juni 2026 direncanakan, mengklaim hanya ikut rombongan menjenguk pasien gigitan ular.
- Ia mengakui sempat mengucapkan 'panggil wartawan saja' dalam perdebatan, tetapi membantah kalimat itu ditujukan kepada Dokter Icha, melainkan sebagai usul perbaikan layanan.
- Polres TTU segera memeriksa tiga anggota DPRD yang diduga mengintimidasi dokter hingga depresi berat dan bunuh diri, sementara Veronika menyatakan siap kooperatif.

Anggota DPRD Timor Tengah Utara (TTU), Veronika Lake, akhirnya memberikan pernyataan resmi terkait kematian dr Eliza Princila Utami Pakaenoni, yang dikenal sebagai Dokter Icha, di RSU Leona. Dalam klarifikasinya, Veronika mengungkapkan bahwa kunjungannya ke rumah sakit pada 13 Juni 2026 sama sekali tidak direncanakan, melainkan terjadi secara spontan saat ia ikut dalam rombongan menjenguk pasien.
Veronika, politikus PDIP, menuturkan bahwa setelah menghadiri acara arisan istri-istri anggota DPRD TTU di Kecamatan Insana, ia pulang ke Kefamenanu dengan menumpang kendaraan bersama dua koleganya, Therensius Lazakar dan Norbertus Tubani, serta seorang istri anggota DPRD. Di tengah perjalanan, Lazakar mengajak singgah di IGD RSU Leona untuk menjenguk keponakannya yang dirawat akibat gigitan ular berbisa. Veronika mengaku hanya mengikuti rombongan dan tidak memiliki agenda khusus di rumah sakit.
Menurut Veronika, saat tiba di IGD, ia masih berada di luar ruangan bersama istri anggota DPRD, sementara Lazakar dan Tubani lebih dulu masuk. Perdebatan antara kedua rekannya dengan seorang dokter, yang diduga adalah Dokter Icha, sudah berlangsung ketika ia masuk. Veronika mengakui ikut menanyakan soal tindak lanjut penanganan pasien, standar pelayanan, dan kualitas pelayanan. Ia juga membenarkan sempat mengucapkan 'panggil wartawan saja', namun membantah keras bahwa ucapan itu ditujukan kepada Dokter Icha secara pribadi.
Veronika menjelaskan bahwa pernyataan 'panggil wartawan saja' ia maksudkan sebagai usulan kepada salah satu rekannya agar ada liputan eksternal yang investigatif terkait transparansi pelayanan kesehatan. "Itu saya maksudkan sebagai usulan kepada salah satu rekan DPRD agar ada liputan eksternal dan investigatif terkait transparansi pelayanan kesehatan, evaluasi, dan perbaikan kualitas pelayanan. Jadi, tidak ditujukan kepada personal atau pribadi," ujarnya. Setelah perdebatan, manajemen RSU Leona dan dokter lain datang memberikan penjelasan, dan persoalan dianggap selesai. Veronika mengklaim kedua rekannya sudah meminta maaf kepada manajemen dan Dokter Icha, dan ia sendiri tidak kembali ke rumah sakit keesokan harinya.
Kasus ini mencuat setelah Dokter Icha ditemukan tewas, diduga bunuh diri akibat depresi berat yang dipicu oleh intimidasi dari sejumlah anggota DPRD TTU. Polres TTU di bawah pimpinan AKBP Eliana Papote telah memeriksa rekan-rekan Dokter Icha yang berada di IGD saat insiden, dan berencana memanggil tiga anggota dewan yang namanya disebut, yaitu Veronika Lake, Norbertus Bani, dan Therensius Lazakar. Veronika menyatakan menghormati proses hukum dan siap memberikan keterangan jika dipanggil. "Saya, Veronika Lake, dengan penuh kerendahan hati menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya Dokter Icha. Semoga almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa," tutupnya.
Ke depan, publik menanti apakah klarifikasi Veronika akan mengubah arah penyelidikan kepolisian, atau justru memperkuat dugaan bahwa tekanan dari para wakil rakyat menjadi faktor utama di balik tragedi ini. Pertanyaan besarnya: akankah ada sanksi etik atau hukum yang dijatuhkan kepada anggota DPRD yang terbukti melakukan intimidasi terhadap tenaga kesehatan?



