Mindy Kaling: Kata-Kata Tina Fey dan Amy Poehler Ubah Pandangan Saya tentang Berat Badan
Baca dalam 60 detik
- Aktris Mindy Kaling mengungkapkan bahwa percakapan dengan Tina Fey dan Amy Poehler di masa lalu membantunya menerima tubuhnya sendiri.
- Dalam podcast Amy Poehler, Kaling bercerita tentang niatnya menurunkan 30 pon yang ditanggapi dengan skeptis oleh kedua komedian tersebut.
- Kaling kini lebih fokus pada kesehatan jangka panjang, seperti mencegah diabetes, ketimbang sekadar penampilan fisik.

Mindy Kaling, aktris yang dikenal lewat perannya di The Office, menyebut Tina Fey dan Amy Poehler sebagai pahlawan komedinya—bukan hanya karena karya mereka, tetapi juga karena pengaruh mereka dalam perjalanan penerimaan diri Kaling. Dalam episode terbaru podcast Good Hang yang dibawakan Amy Poehler, Kaling mengenang momen pertemuan pertamanya dengan kedua idolanya itu dan bagaimana komentar mereka mengubah cara pandangnya terhadap berat badan.
Kaling, yang kini berusia 47 tahun, menceritakan bahwa suatu ketika ia secara spontan menyebut keinginannya untuk menurunkan 30 pon di hadapan Fey dan Poehler. Alih-alih mendukung, kedua komedian itu justru menanggapinya dengan pertanyaan, "Apa kau gila?" Menurut Kaling, respons tersebut justru membuatnya merasa lega. "Saya sangat bahagia selama tiga minggu setelah itu. Saya pikir, 'Wow, Amy dan Tina tidak menganggap saya gendut,'" ujarnya sambil tertawa.
Bagi Kaling, momen itu sangat berarti karena ia sangat mengagumi kedua wanita tersebut. "Mereka bisa saja berkata, 'Kami tidak pernah memikirkan soal berat badan, kami memang kurus secara alami.' Tapi mereka memilih untuk mengakui perjuangan saya. Itu adalah kebaikan yang membuat saya bisa melihat sisi manusiawi dari pahlawan saya," jelas Kaling. Ia juga menambahkan bahwa perubahan budaya yang lebih menerima keragaman tubuh membuat pengalaman seperti itu semakin berharga.
Dalam wawancara terpisah dengan Bustle awal tahun ini, Kaling mengakui bahwa ia tidak selalu menikmati perhatian terhadap berat badannya. "Tidak menyenangkan jika aktor favorit Anda menurunkan berat badan. Anda punya gambaran tentang mereka saat pertama kali menyukainya, dan perubahan itu bisa mengubah rasa sayang Anda," katanya. Namun, ia memahami hal itu sebagai bagian dari budaya pop yang konsumtif.
Yang menarik, Kaling menegaskan bahwa motivasinya kini berbeda. "Dulu saya ingin kurus karena alasan penampilan. Sekarang saya ingin menurunkan berat badan—atau sudah menurunkan—karena saya ingin menghindari penyakit seperti diabetes," ungkapnya. Ini menunjukkan pergeseran dari tekanan sosial menuju kesadaran kesehatan jangka panjang, sebuah pesan yang relevan bagi banyak orang, termasuk di Indonesia di mana angka obesitas dan diabetes terus meningkat.
Di Indonesia, obrolan tentang berat badan dan citra tubuh juga marak di media sosial. Banyak selebriti lokal yang kerap menjadi sorotan karena perubahan fisik mereka. Kisah Kaling bisa menjadi pengingat bahwa tekanan untuk tampil sempurna seringkali tidak sebanding dengan risiko kesehatan mental. Alih-alih terjebak dalam standar kecantikan yang sempit, pendekatan Kaling yang lebih mementingkan kesehatan patut ditiru.
Ke depannya, Kaling berharap industri hiburan bisa lebih fokus pada karya daripada fisik. Namun, ia sadar perubahan itu tidak instan. "Saya sendiri juga konsumen budaya pop, jadi saya mengerti rasa penasaran itu," pungkasnya. Pertanyaannya, mampukah publik dan media menahan diri untuk tidak menjadikan berat badan sebagai bahan perbincangan utama?



