Penembakan Sekolah di Filipina: Jejak Jaringan Ekstremis Global yang Merekrut Anak Lewat Gim
Baca dalam 60 detik
- Dua siswa berusia 14 dan 15 tahun menembaki sekolah di Tacloban, menewaskan tiga orang, diduga dipengaruhi jaringan ekstremis daring '764' yang menargetkan anak-anak melalui gim video.
- Jaringan ini menggunakan algoritma platform untuk menjangkau anak-anak yang kesepian, kemudian memindahkan mereka ke aplikasi pesan terenkripsi untuk proses radikalisasi bertahap.
- Filipina kini menghadapi tekanan untuk merevisi batas usia pertanggungjawaban pidana dan memperketat regulasi konten daring, sementara Indonesia perlu mewaspadai modus serupa.

Penembakan massal di sebuah sekolah menengah di Tacloban City, Filipina, pada 22 Juni lalu tidak hanya mengguncang negeri itu, tetapi juga membuka tabir gelap jaringan ekstremis global yang secara sistematis merekrut anak-anak melalui gim video populer. Dua siswa pelaku, masing-masing berusia 14 dan 15 tahun, dilaporkan telah terpapar oleh kelompok bernama “764”, sebuah faksi dalam ekosistem ancaman daring yang dikenal sebagai “The COM” atau “The Community”. Kelompok ini telah ditetapkan sebagai ancaman keamanan nasional oleh otoritas federal Amerika Serikat.
Dalam sidang Senat Filipina pada 1 Juli, penyidik dan pakar keamanan siber mengungkapkan bahwa serangan ini kemungkinan merupakan aksi penembakan massal pertama di Filipina yang terkait langsung dengan jaringan tersebut. Korban tewas mencapai tiga siswa, sementara 20 lainnya luka-luka. Pelaku utama, anak berusia 14 tahun, diketahui telah memainkan gim sandbox bergenre kekerasan bernama Gorebox dan mengunggah konten tembak-menembak sesaat sebelum aksi. Sandbox game adalah jenis gim yang memungkinkan pemain menjelajah, membangun, atau menghancurkan dunia virtual dengan sedikit aturan.
Senator Risa Hontiveros, ketua komite senat yang membidangi perempuan, anak, dan keluarga, mengungkapkan bahwa kedua tersangka diduga diradikalisasi oleh “764” melalui akun Facebook pengguna bernama “Sedykh Ryazanov”, yang diduga sebagai penggiat dewasa di balik serangan. Tangkapan layar yang diperlihatkan dalam sidang menunjukkan akun tersebut memberikan instruksi kepada salah satu tersangka untuk menghapus akun Discord, Reddit, dan Telegram guna memusnahkan barang bukti. Akun Ryazanov kini telah dinonaktifkan.
Pakar keamanan siber Angel Redoble dari Philippine Institute of Cybersecurity Professionals memaparkan secara rinci bagaimana jaringan ini merekrut anak. Prosesnya berlangsung dalam tiga lapisan dan tujuh tahap radikalisasi. Lapisan pertama adalah platform gim daring, di mana para penggiat menargetkan anak-anak yang kesepian, terisolasi secara sosial, atau memiliki masalah kesehatan mental. Algoritma platform, menurut Redoble, justru mempermudah perburuan ini. “Algoritma belajar apa yang direspons setiap pengguna dan menyajikan konten yang semakin ekstrem. Ini telah menjadi senjata,” ujarnya. Dari gim, anak-anak dipindahkan ke lapisan kedua: server gim pribadi dan aplikasi pesan terenkripsi seperti Discord dan Telegram, tempat hubungan diperdalam secara privat. Lapisan ketiga adalah manipulasi yang melibatkan paksaan psikologis, isolasi dari keluarga, dan pemerasan.
Tujuh tahap radikalisasi dimulai dari penargetan awal, pertemanan, pembangunan kepercayaan, isolasi, pemaksaan, hingga apa yang disebut Redoble sebagai “status melalui kebrutalan” — di mana anggota mendapatkan kedudukan berdasarkan seberapa ekstrem tindakan mereka. Tahap berikutnya adalah normalisasi kekerasan, dan puncaknya adalah aksi kekerasan di dunia nyata. Analis intelijen sumber terbuka Bret Morales, yang mengaku telah menyusup ke “764” pada 2025, mengonfirmasi bahwa penggiat lokal sudah beroperasi di Filipina, termasuk melalui pertemuan fisik di lokasi yang dirahasiakan. Ia juga mengatakan bahwa beberapa jam setelah penembakan Tacloban menjadi viral, unggahan yang mengagungkan para pelaku mulai bermunculan di berbagai platform.
Deputi Direktur Kepolisian Kolonel Richmond Tadina melaporkan bahwa Satuan Anti-Kejahatan Siber Kepolisian Filipina telah melakukan 17 operasi penyelamatan yang melibatkan anak di bawah umur sejak Oktober 2025, dan berhasil menarik 24 anak dari jangkauan jaringan The COM. Semua anak yang diselamatkan telah terpapar konten kekerasan ekstrem, dan lima di antaranya melakukan tindakan menyakiti diri sendiri. Pakar keamanan siber Ashley Acedillo dari Stratbase Institute menekankan bahwa ekosistem keamanan siber Filipina tidak dirancang untuk mendeteksi atau mencegah ancaman nihilistic violent extremism (NVE) ini. “Undang-undang kita ditulis untuk dunia analog. Kerangka anti-perundungan Departemen Pendidikan dirancang untuk menangani mata hitam atau perkelahian, bukan anak yang duduk diam di mejanya sambil diradikalisasi secara sistematis melalui ponselnya,” kata Acedillo. “Ada senjata fisik dalam penembakan Tacloban, tetapi pelatuknya ditarik di dunia digital.”
Pemerintah Filipina telah memblokir sementara gim Gorebox untuk mencegah aksi tiruan. Namun, Redoble mengingatkan bahwa langkah ini memiliki keterbatasan karena anak-anak yang paham teknologi dapat dengan mudah menghindari blokade. Setiap saluran yang ditutup, kata dia, akan segera digantikan oleh saluran baru. Senator Hontiveros menyatakan komite senat akan menyusun rekomendasi yang mencakup setiap lapisan ancaman, mulai dari platform gim, aplikasi pesan, toko aplikasi, sekolah, hingga keluarga. Beberapa senator telah mendorong regulasi yang lebih ketat untuk melindungi anak dari konten berbahaya dalam gim daring. Presiden Senat Win Gatchalian kembali mendorong larangan akses media sosial bagi anak di bawah umur dan larangan penggunaan ponsel pintar di sekolah. Ia juga mengecam platform yang dianggap memperlakukan keselamatan anak sebagai kalkulasi bisnis. “Bagaimana bisa ini menjadi keputusan bisnis ketika anak-anak kita menjadi sasaran dan dimangsa? Ini adalah kesejahteraan anak-anak kita,” tegasnya.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi alarm dini. Dengan penetrasi gim daring dan media sosial yang tinggi di kalangan remaja, modus rekrutmen serupa berpotensi terjadi. Regulasi perlindungan anak di ranah digital, termasuk pembatasan konten kekerasan dalam gim dan pengawasan algoritma, perlu segera diperkuat. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah Indonesia sudah siap menghadapi ancaman radikalisasi daring yang menargetkan generasi muda?



