Studi Wharton: Bos Narsis Jadi Penghalang Utama Work From Home
Baca dalam 60 detik
- Riset Wharton School menemukan bahwa penolakan terhadap kerja jarak jauh lebih dipicu oleh ego atasan daripada alasan produktivitas.
- Para eksekutif narsis kehilangan panggung kekuasaan dan status saat karyawan bekerja dari rumah, sehingga mereka memaksakan wajib kantor.
- Fenomena ini menegaskan bahwa perdebatan work from home bukan soal lokasi, melainkan pertarungan kekuasaan di lingkungan kerja.

Sejumlah besar atasan yang memaksa karyawan kembali ke kantor lima hari seminggu ternyata bukan semata-mata demi produktivitas atau kolaborasi, melainkan karena ego dan kebutuhan akan pengakuan. Temuan ini diungkap dalam riset terbaru dari Wharton School, University of Pennsylvania, yang menyoroti hubungan antara sifat narsis seorang pemimpin dan resistensinya terhadap kerja jarak jauh.
Penelitian yang dilakukan Marissa Shandell, Courtney Elliott, dan Adam Grant ini menguji tiga studi terpisah, termasuk analisis terhadap CEO perusahaan Fortune 500. Dengan mengukur tingkat narsisme melalui besaran gaji, tanda tangan, dan foto dalam laporan tahunan, para peneliti menemukan korelasi kuat: semakin besar ego seorang eksekutif, semakin keras ia menolak kerja dari rumah. Mereka yang mendapat skor narsisme tinggi cenderung menjadi ketua perusahaan sendiri, duduk di dewan direksi perusahaan lain, dan kerap melontarkan komentar merendahkan tentang work from home, seperti “Jika Anda ingin dibayar tarif New York, Anda harus bekerja di New York.”
Fenomena ini terjadi di tengah pergeseran kekuasaan pascapandemi. Setelah periode di mana karyawan memiliki daya tawar tinggi akibat pasar tenaga kerja ketat, kini manajer kembali memegang kendali. Banyak atasan menggunakan berbagai dalih—inovasi, budaya perusahaan, mentoring—untuk membenarkan kewajiban masuk kantor. Namun, riset Wharton menunjukkan bahwa alasan-alasan itu sering kali hanya kedok untuk memuaskan kebutuhan akan status dan kontrol.
Mengapa para pemimpin narsis begitu menentang kerja jarak jauh? Peneliti menjelaskan bahwa lingkungan kerja digital menghilangkan panggung kekuasaan yang biasa mereka nikmati. Taktik seperti memotong pembicaraan, berbicara keras, kontak mata intens, atau rapat mendadak tidak lagi efektif di layar. Sebaliknya, karyawan justru memiliki cara baru untuk menunjukkan otonomi: mengabaikan pesan Slack, menghapus email, atau mematikan kamera Zoom. Simbol status seperti ukuran ruang kantor dan bagan tempat duduk pun lenyap. “Ini menempatkan pemimpin narsis pada risiko jatuh dari balok keseimbangan otoritas,” tulis para peneliti.
Bagi pekerja Indonesia, temuan ini relevan di tengah maraknya kebijakan return-to-office (RTO) di berbagai perusahaan, termasuk startup dan korporasi besar. Banyak karyawan yang menikmati fleksibilitas kerja hibrida selama pandemi kini dihadapkan pada tuntutan masuk kantor penuh. Jika resistensi terhadap WFH lebih banyak dipengaruhi oleh ego atasan, maka negosiasi berbasis data produktivitas mungkin tidak akan cukup. Karyawan perlu memahami dinamika kekuasaan ini dan mencari cara untuk menjaga fleksibilitas tanpa memicu konflik langsung.
Penelitian ini tidak menyatakan bahwa semua eksekutif yang mewajibkan kerja kantor adalah narsis. Namun, temuan ini menjelaskan mengapa mandat RTO menjadi simbol kuat dalam kehidupan korporat pascapandemi. Perdebatan tentang work from home sejatinya bukan tentang lokasi kerja, melainkan tentang siapa yang memegang kendali. Pertanyaannya kini: akankah perusahaan di Indonesia mulai mengevaluasi ulang kebijakan RTO mereka, atau justru semakin memperkuat hierarki kekuasaan?



