Bintang The Ring dan Lilo & Stitch Meninggal karena AIDS, Riwayat Hidup Penuh Lika-liku
Baca dalam 60 detik
- Daveigh Chase, aktris cilik yang dikenal lewat film horor The Ring dan suara Lilo di Lilo & Stitch, meninggal pada 16 Juni lalu karena AIDS.
- Kantor pemeriksa medis Los Angeles mencatat penyebab kematiannya adalah acquired immunodeficiency syndrome, dengan riwayat penyalahgunaan zat adiktif.
- Ayahnya mengaku tidak terkejut dengan temuan tersebut, mengingat perjuangan panjang putrinya melawan kecanduan narkoba sejak usia 13 tahun.

Daveigh Chase, aktris cilik yang namanya melambung lewat peran sebagai Samara dalam film horor The Ring dan pengisi suara Lilo di Lilo & Stitch, meninggal dunia pada 16 Juni lalu. Kantor pemeriksa medis Los Angeles County mengonfirmasi bahwa penyebab kematiannya adalah AIDS (acquired immunodeficiency syndrome).
Menurut catatan yang dirilis pekan ini, Chase yang berusia 35 tahun meninggal dengan nama belakang Schwallier. Dalam laporan tersebut, “penyalahgunaan zat adiktif kronis” juga tercantum sebagai kondisi signifikan lain. Sebelumnya, ayahnya, John David Schwallier, sempat menyatakan kepada The New York Times bahwa putrinya meninggal akibat komplikasi meningitis bakteri dan infeksi darah. Ia juga mengungkapkan bahwa Chase hidup tunawisma di Los Angeles bersama kekasihnya.
Karier Chase dimulai sejak usia dini. Ia mengikuti audisi untuk Lilo & Stitch saat berusia 8 tahun dan berhasil memerankan karakter utama. Perannya sebagai Samara Morgan—gadis berambut panjang yang merayap keluar dari layar kaca—dalam The Ring (2002) membuatnya meraih MTV Movie Award untuk kategori penjahat terbaik. Selain itu, ia juga mengisi suara tokoh dalam film animasi Spirited Away (2001) dan tampil dalam Donnie Darko (2001) serta serial Oliver Beene (2003).
Di balik gemerlap layar, kehidupan Chase jauh dari kata bahagia. Sang ayah mengungkapkan bahwa putrinya telah berjuang melawan kecanduan narkoba sejak usia 13 tahun. Hubungannya dengan orang tua yang bercerai pun renggang. Dalam pesan teks kepada Associated Press, Schwallier mengatakan, “Saya tahu dengan gaya hidupnya, mungkin itulah kesimpulannya, jadi saya tidak terkejut.” Ia menyebut kematian putrinya tragis dan menambahkan, “Akan lebih baik jika kalian semua menemukannya dan mencoba membantunya—itu akan menjadi cerita yang lebih baik daripada ini.”
Kisah Chase menjadi pengingat pahit tentang tekanan yang dihadapi mantan aktor cilik. Di Indonesia, fenomena serupa juga kerap terjadi di industri hiburan, di mana anak-anak yang dibesarkan di depan kamera sering kali kesulitan beradaptasi dengan kehidupan normal setelah popularitas meredup. Minimnya pendampingan psikologis dan rentannya eksploitasi menjadi faktor risiko yang perlu diwaspadai. Kasus Chase bisa menjadi pelajaran bagi orang tua dan industri kreatif untuk lebih memperhatikan kesejahteraan mental para bintang cilik.
Lahir di Las Vegas dan besar di Albany, Oregon, Chase mulai bernyanyi dan menari sejak usia 3 tahun. Bakatnya membawanya ke puncak popularitas, namun juga menjerumuskannya ke dalam lingkaran gelap. Pertanyaan yang tersisa: akankah industri hiburan belajar dari tragedi ini untuk melindungi talenta mudanya?



