Alergi pada Anak Bisa Reda, Tapi Tak Selamanya Sembuh Total
Baca dalam 60 detik
- Alergi terjadi akibat sistem imun yang salah mengenali zat tertentu sebagai ancaman, memicu reaksi histamin.
- Pada anak, alergi susu sapi dan telur sering membaik seiring usia, dengan tingkat toleransi mencapai 79% dan 89%.
- Namun, alergi kacang tanah dan seafood cenderung menetap hingga dewasa, hanya 20-30% anak yang toleran terhadap kacang.

Harapan bahwa alergi bisa lenyap sepenuhnya dari tubuh kerap muncul di benak penderita, terutama ketika gejala mulai mereda seiring bertambahnya usia atau setelah lama menjauhi pemicu. Namun, realitas medis menunjukkan bahwa sebagian besar alergi bersifat kronis dan tidak dapat dihilangkan secara permanen—yang mungkin terjadi hanyalah pengendalian gejala atau remisi.
Menurut penjelasan dari Mayo Clinic yang dikutip dalam laporan, alergi berakar pada kesalahan sistem imun yang menganggap zat tak berbahaya sebagai ancaman. Tubuh kemudian memproduksi antibodi imunoglobulin E (IgE) yang memicu pelepasan histamin, menyebabkan reaksi seperti gatal, ruam, bersin, hingga sesak napas. Karena respons ini melibatkan memori imun, alergi cenderung bertahan lama dan lebih tepat disebut sebagai kondisi yang dikelola, bukan disembuhkan.
Meski demikian, bukan berarti penderita alergi tidak bisa menjalani hidup normal. Banyak kasus alergi dapat dikendalikan dengan kombinasi strategi: menghindari alergen, mengonsumsi antihistamin dan kortikosteroid, serta menjalani imunoterapi atau suntik alergi. Imunoterapi bekerja dengan melatih tubuh secara bertahap agar lebih toleran terhadap pemicu, sehingga reaksi alergi berkurang seiring waktu.
Perjalanan alergi sangat bergantung pada jenis dan usia penderita. Studi berjudul Natural course of IgE-mediated food allergy in children mengungkapkan bahwa alergi susu sapi termasuk yang paling sering membaik: sekitar 42 persen anak sudah toleran pada usia 8 tahun, dan angka itu melonjak menjadi 79 persen di usia 16 tahun. Alergi telur juga memiliki prognosis lebih baik, dengan 66-71 persen anak mulai toleran pada usia 4-6 tahun, dan hampir 89 persen kasus mengalami resolusi saat remaja.
Sayangnya, tidak semua alergi mengikuti pola optimistis tersebut. Alergi kacang tanah, tree nuts, dan seafood justru cenderung persisten hingga dewasa. Pada alergi kacang tanah, hanya sekitar 20-30 persen anak yang akhirnya menunjukkan toleransi. Sementara itu, alergi seafood memiliki tingkat toleransi penuh yang sangat rendah pada anak prasekolah—hanya 3,4 persen—meskipun meningkat menjadi sekitar 45 persen saat remaja.
Bagi masyarakat Indonesia, data ini relevan mengingat prevalensi alergi makanan di dalam negeri terus meningkat seiring perubahan pola konsumsi. Alergi susu sapi dan telur kerap ditemukan pada anak-anak, sementara alergi seafood menjadi perhatian khusus di daerah pesisir. Pemahaman bahwa alergi bisa dikelola—bukan sekadar dihindari—dapat membantu orang tua dan pasien mengambil langkah penanganan yang tepat, termasuk konsultasi dengan alergi imunologi untuk mempertimbangkan imunoterapi.
Pada akhirnya, setiap individu memiliki perjalanan alergi yang unik. Ada yang gejalanya membaik drastis saat dewasa, ada pula yang tetap sensitif sepanjang hidup. Pertanyaan yang tersisa: akankah riset dan terapi masa depan mampu mengubah alergi dari kondisi kronis menjadi sesuatu yang benar-benar dapat disembuhkan?



