Alat Skrining Baru Stockholm3 Deteksi 90% Kanker Prostat Berbahaya, Ungguli Tes PSA
Baca dalam 60 detik
- Stockholm3, alat skrining multivariabel, mendeteksi 90% kanker prostat signifikan secara klinis, jauh melampaui PSA yang hanya 74% pada ambang batas umum.
- Dengan menggabungkan PSA, penanda genetik, protein darah, dan data klinis, Stockholm3 mengurangi biopsi tak perlu hingga 45% tanpa mengorbankan akurasi.
- Uji coba pada populasi multietnis menunjukkan performa konsisten, membuka peluang adopsi di sistem kesehatan beragam termasuk Indonesia.

Tes skrining kanker prostat yang selama ini mengandalkan kadar antigen spesifik prostat (PSA) dianggap memiliki banyak kelemahan—mulai dari hasil positif palsu hingga luputnya kanker agresif. Sebuah studi terbaru yang diterbitkan di Annals of Internal Medicine menawarkan harapan baru: alat bernama Stockholm3 mampu mendeteksi 90% kanker prostat yang memerlukan penanganan segera, sementara PSA pada ambang 3 ng/mL hanya menangkap 74% kasus serupa.
Penelitian yang melibatkan lebih dari 12.600 pria berusia 50–74 tahun di Swedia ini membandingkan langsung performa PSA konvensional dengan Stockholm3. Peserta menjalani kedua tes, lalu diikuti selama dua tahun melalui registri kanker nasional. Hasilnya, Stockholm3 hanya melewatkan 10% kanker signifikan secara klinis, sedangkan PSA dengan ambang 3 ng/mL gagal mendeteksi 26% kasus. Angka ini semakin buruk ketika menggunakan ambang batas yang lazim di Amerika Serikat (PSA ≥4 ng/mL), di mana PSA hanya mendeteksi 52% kanker berbahaya.
Stockholm3 bukan sekadar tes darah biasa. Alat ini mengintegrasikan lima komponen: kadar PSA, empat protein biomarker tambahan, informasi klinis seperti usia dan riwayat keluarga, serta skor risiko genetik. Semua data diproses dalam model prediksi tunggal yang menghasilkan skor risiko individual. “Karena menggunakan sampel darah standar, implementasinya mudah bagi sistem kesehatan yang sudah menjalankan tes PSA,” ujar Thorgerdur Palsdottir, peneliti utama dari Karolinska Institutet.
Keunggulan lain dari Stockholm3 adalah kemampuannya menekan angka biopsi yang tidak diperlukan. Dalam studi, alat ini mengurangi prosedur biopsi yang sia-sia hingga 45% dibandingkan PSA, sementara tetap mempertahankan tingkat deteksi yang setara. Ini berarti pasien terhindar dari risiko komplikasi dan kecemasan akibat prosedur invasif yang sebenarnya tidak dibutuhkan. “Kami juga terkesan bahwa performa alat ini tetap kuat selama dua tahun pemantauan, memberi keyakinan bahwa pria berisiko rendah bisa menjalani skrining ulang dengan aman,” tambah Palsdottir.
Bagi Indonesia, temuan ini membuka peluang diskusi tentang pembaruan protokol skrining kanker prostat. Saat ini, PSA masih menjadi andalan di banyak fasilitas kesehatan, meskipun keterbatasannya sudah lama diketahui. Dengan populasi pria usia lanjut yang terus bertambah, adopsi alat seperti Stockholm3 bisa mengurangi beban biaya dan psikologis akibat diagnosis berlebihan. Namun, tantangan infrastruktur dan biaya pengujian genetik perlu dipertimbangkan sebelum penerapan luas.
Meski hasil studi menjanjikan, para peneliti mengingatkan bahwa data jangka panjang masih diperlukan. Pertanyaan kunci yang belum terjawab: apakah peningkatan deteksi ini benar-benar menurunkan angka kematian akibat kanker prostat? Uji lanjutan akan menentukan apakah Stockholm3 layak menjadi standar baru skrining nasional. “Kami optimistis, tetapi perlu bukti lebih kuat sebelum merekomendasikan perubahan kebijakan,” pungkas Palsdottir.



