Gen 'Pemalas' Kungkang: Rahasia Evolusi yang Bisa Mengubah Pengobatan Manusia
Baca dalam 60 detik
- Penelitian genomik terbaru mengungkap bahwa kungkang memiliki 'gen loncat' aktif yang mengatur metabolisme lambat, memungkinkan mereka bertahan dengan energi minimal.
- Gen-gen ini terkait dengan mitokondria dan jalur metabolisme, menciptakan 'sistem cadangan' genetik yang mengompensasi mitokondria yang kurang efisien.
- Temuan ini membuka potensi pemahaman baru tentang penyakit manusia seperti diabetes dan kanker yang terkait disfungsi mitokondria.

Kungkang, hewan yang identik dengan gerakan lambat dan tidur hingga 20 jam sehari, ternyata menyimpan rahasia evolusi yang justru bisa menjadi kunci bagi pengobatan penyakit manusia. Bukan sekadar pemalas, kungkang memiliki adaptasi genetik unik yang memungkinkannya bertahan dengan metabolisme sangat rendah selama puluhan juta tahun.
Sebuah studi genomik yang dipimpin Marcela Uliano-Silva dari Wellcome Sanger Institute, Inggris, bersama tim internasional dari Brasil dan Jerman, mengungkap bahwa genom kungkang dipenuhi oleh "gen loncat" atau transposon yang masih aktif. Pada sebagian besar mamalia, termasuk manusia, elemen genetik ini umumnya tidak aktif. Namun pada kungkang, gen-gen tersebut justru terus bergerak dan membentuk ulang susunan genom, terutama terkait dengan mitokondria—organel penghasil energi sel—dan jalur metabolisme.
"Gen-gen loncat kungkang terhubung dengan mitokondria dan jalur metabolisme, yang mengisyaratkan keterlibatan mereka dalam evolusi metabolisme yang sangat lambat," tulis para peneliti dalam jurnal BMC Biology edisi 19 Mei 2026. Analisis menunjukkan bahwa ledakan gen loncat ini terjadi sekitar 30 juta tahun lalu, tepat setelah garis evolusi kungkang berpisah dari trenggiling dan armadillo. Sejak itu, gen-gen tersebut menjadi ciri tetap identitas genetik kungkang.
Para ilmuwan menjelaskan bahwa rendahnya kebutuhan energi sel kungkang memungkinkan akumulasi mutasi pada DNA mitokondria. Pada kondisi normal, mutasi berlebihan pada mitokondria bisa berbahaya, tetapi pada kungkang, gen loncat berperan sebagai "sistem cadangan" genetik yang mengompensasi mitokondria yang "santai". Inilah yang mendukung gaya hidup hemat energi mereka.
Implikasi studi ini melampaui sekadar keunikan hewan. Berbagai penyakit modern seperti diabetes, Parkinson, penuaan dini, penyusutan otot, dan beberapa jenis kanker melibatkan disfungsi mitokondria atau gangguan produksi energi sel. Memahami bagaimana kungkang tetap sehat meskipun mitokondrianya "santai" dan genomnya dipenuhi gen loncat—yang pada manusia justru bisa memicu kanker—dapat membuka perspektif baru dalam biologi medis.
"Lini sel kungkang dapat menjadi model alami untuk memahami bagaimana organisme bertahan dalam kondisi energi rendah, dan apa yang salah saat penyakit terjadi," ungkap para peneliti. Ini berarti, kungkang bisa menjadi kunci untuk mengembangkan terapi baru bagi penyakit metabolik dan degeneratif.
Namun, di balik potensi besarnya, kungkang menghadapi ancaman serius. Studi sebelumnya oleh Rebecca Cliffe dari The Sloth Conservation Foundation dan kolega (PeerJ, 2024) menemukan bahwa metabolisme rendah membuat kungkang sangat rentan terhadap perubahan suhu. Jika suhu rata-rata hutan tropis Amerika Selatan dan Tengah naik beberapa derajat saja, laju metabolisme kungkang akan meningkat, sementara pasokan makanan tidak bertambah. Akibatnya bisa fatal bagi kelangsungan populasi mereka.
Bagi Indonesia, meskipun kungkang tidak hidup di alam liar Nusantara, penelitian ini relevan karena Indonesia memiliki kukang (slow loris), primata nokturnal yang juga bergerak lambat dan dilindungi. Kukang kerap menjadi korban perdagangan ilegal karena penampilannya yang menggemaskan. Studi genomik serupa pada kukang mungkin dapat mengungkap adaptasi unik mereka dan membantu upaya konservasi.
Pertanyaan selanjutnya adalah: dapatkah manusia memanfaatkan mekanisme genetik kungkang untuk mengatasi penyakit metabolik tanpa harus mengorbankan kecepatan metabolisme? Atau, akankah perubahan iklim memusnahkan hewan ini sebelum rahasia genetiknya sepenuhnya terungkap?



