Iklan Anti-Narkoba Hong Kong Berujung Bumerang: AI K-pop Justru Dipuji Pengguna
Baca dalam 60 detik
- Hong Kong Correctional Services Department menarik iklan anti-narkoba bergaya K-pop buatan AI setelah menuai cemoohan dan kritik publik.
- Video berdurasi satu menit itu justru dinilai mempromosikan narkoba karena menampilkan efek euforia yang digambarkan secara eksplisit.
- Insiden ini menambah daftar kegagalan kampanye anti-narkoba Hong Kong, menyoroti tantangan komunikasi publik di era digital.

Hong Kong Correctional Services Department (CSD) terpaksa menarik iklan anti-narkoba bergaya K-pop yang dihasilkan kecerdasan buatan (AI) setelah menuai ejekan dan kritik tajam dari warganet. Alih-alih menyadarkan, video berjudul "Obsession: The Sugar-Coated Trap" itu justru dianggap sebagai promosi terselubung bagi zat terlarang.
Video berdurasi satu menit itu menampilkan empat personel grup K-pop fiktif bernama Weedy, Icy, Coke, dan Little Eโyang masing-masing mewakili ganja, sabu, kokain, dan etomidate, anestetik yang disalahgunakan dalam vape. Dalam adegan perkenalan, mereka menyanyikan efek euforia seperti "pengalaman di luar tubuh" dan "asap romantis yang melupakan masalah". Adegan kemudian berubah menjadi empat pria tua di balik jeruji besi dengan slogan "Narkoba sangat berbahaya dan dapat menghancurkan hidup".
Alih-alih efektif, pendekatan ini justru menjadi bumerang. Warganet di Threads dan Instagram mengecam CSD karena dianggap memberikan resep efek narkoba secara gamblang. Seorang pengguna dengan nama mmmmmkit12 berkomentar, "Setelah mendengar perkenalan mereka, saya jadi ingin mencoba." Pengguna lain, an_chai, menambahkan, "Video itu lebih terasa seperti promosi. Mereka menyebutkan nama-nama obat dan bagaimana rasanya yang enak."
CSD awalnya mengunggah video pada 26 Juni, namun segera menghapusnya setelah gelombang kritik. Departemen tersebut kemudian merilis versi suntingan yang juga ditarik. Dalam pernyataan di Facebook, CSD mengakui "kekurangan" dan berterima kasih atas masukan publik. Seorang juru bicara kepada South China Morning Post mengatakan, "Kami menanggapi serius pendapat netizen dan segera menyunting ulang video untuk menjelaskan bahaya narkoba semaksimal mungkin guna menghindari kesalahpahaman."
Ini bukan pertama kalinya kampanye anti-narkoba Hong Kong menuai kontroversi. Pada Maret lalu, Biro Keamanan Hong Kong meminta maaf atas iklan yang justru tampak mendorong penggunaan narkoba jika dilihat dari sudut tertentu. Kegagalan berulang ini menunjukkan tantangan dalam merancang pesan publik yang efektif di era media sosial, di mana kreativitas yang salah sasaran dapat memperkuat stigma atau bahkan memicu rasa penasaran.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat pentingnya riset audiens sebelum meluncurkan kampanye publik. Dengan maraknya penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja, pendekatan yang terlalu artistik atau mengandalkan gimmick tanpa pemahaman psikologis target audiens berpotensi kontraproduktif. Pertanyaannya, akankah lembaga-lembaga di Indonesia belajar dari kesalahan Hong Kong, atau justru mengulangi pola serupa dalam upaya menekan angka penyalahgunaan narkoba?



