Visa AS Ditolak, Suporter Ikonik DR Congo Absen di Laga Krusial Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Michel Kuka Mboladinga, superfan DR Congo yang dikenal sebagai ‘Lumumba Vea’, gagal mendapat visa AS sehingga tidak bisa mendukung timnya melawan Uzbekistan.
- Ia terkenal berdiri diam selama pertandingan sebagai penghormatan kepada Patrice Lumumba, dan kemiripannya dengan tokoh nasional itu membuatnya mendapat hadiah mobil dari pemerintah.
- Kedutaan Besar DR Congo di Washington berharap visa bisa diberikan jika tim lolos ke fase gugur, namun hambatan administratif dan wabah Ebola sebelumnya telah menunda kehadirannya.

Suporter paling setia Republik Demokratik Kongo, Michel Kuka Mboladinga, dipastikan absen pada laga hidup mati timnya melawan Uzbekistan di Piala Dunia 2026 setelah permohonan visa Amerika Serikat ditolak. Ketiadaan pria yang dikenal dengan julukan ‘Lumumba Vea’ ini menjadi pukulan moral bagi skuad Leopards yang tengah berjuang merebut tiket ke babak 32 besar.
Mboladinga mencuri perhatian dunia saat Piala Afrika di Maroko awal tahun ini. Berdiri kaku tanpa ekspresi sepanjang pertandingan, ia mengenakan setelan jas warna-warni dengan corak bendera Kongo. Gaya unik itu merupakan penghormatan kepada Patrice Lumumba, perdana menteri pertama Kongo yang dieksekusi mati pada 1961. Kemiripan fisik yang mencolok membuat aksinya semakin ikonik.
Setelah sukses menyaksikan laga kontra Kolombia di Guadalajara, Meksiko, ia gagal terbang ke Atlanta untuk pertandingan penentu melawan Uzbekistan. Duta Besar Kongo untuk AS, Kapinga Yvette Ngandu, menyatakan harapannya agar visa bisa diterbitkan jika DR Congo lolos ke fase knockout. “Saya berharap ia bisa membawa dukungan khasnya untuk tim,” ujarnya kepada Reuters.
Kebisuan Mboladinga di tribun kontras dengan riuhnya suporter lain. Ia hanya mengangkat satu tangan menyerupai patung Lumumba di Kinshasa. Gaya ini membuatnya viral dan dianggap sebagai bentuk protes diam terhadap ketidakadilan sejarah. Namun, di balik popularitasnya, perjalanannya ke Amerika Serikat terbentur aturan imigrasi yang ketat.
Bagi Indonesia, kisah Mboladinga mengingatkan pada tantangan yang dihadapi suporter fanatik ketika harus mengurus visa ke negara-negara dengan persyaratan ketat. Kasus serupa kerap terjadi pada penggemar timnas Indonesia yang ingin menyaksikan laga di luar negeri, terutama ke negara-negara Schengen atau Amerika Serikat. Proses visa yang panjang dan biaya tinggi sering menjadi kendala, apalagi jika dokumen pendukung seperti undangan resmi atau bukti finansial tidak lengkap.
Ke depan, nasib Mboladinga bergantung pada performa DR Congo di lapangan. Jika Leopards mampu melaju ke babak berikutnya, bukan tidak mungkin ia akan mendapat kesempatan kedua. Namun, penolakan visa ini juga membuka diskusi tentang perlunya kebijakan yang lebih akomodatif bagi suporter yang telah membuktikan loyalitasnya tanpa catatan kriminal. Akankah FIFA atau pihak penyelenggara memberikan rekomendasi khusus untuk kasus seperti ini?



