Polisi AS Puji Perilaku Suporter Inggris di Piala Dunia, Tapi Insiden di Dalam Negeri Melonjak
Baca dalam 60 detik
- Tidak ada laporan kekerasan atau kerusuhan yang melibatkan pendukung Inggris di Amerika Serikat selama fase grup Piala Dunia.
- Insiden terkait sepak bola di Inggris dan Wales mencapai 463 kasus, naik signifikan dibanding Euro 2024 (304) dan Piala Dunia 2022 (291).
- Peningkatan angka penangkapan dan insiden domestik menjadi perhatian, meskipun perilaku suporter di luar negeri mendapat pujian.

Kepolisian Amerika Serikat memberikan pujian setinggi langit kepada para pendukung timnas Inggris yang dinilai berperilaku 'sangat baik' selama fase grup Piala Dunia 2026. Namun di balik citra positif di luar negeri, data kepolisian justru menunjukkan lonjakan tajam insiden terkait sepak bola di dalam negeri Inggris.
Unit Kepolisian Sepak Bola Inggris (UKFPU) melaporkan tidak ada satu pun laporan kekerasan atau kerusuhan yang melibatkan suporter Inggris di Amerika Serikat. Dari total lima penangkapan terhadap warga negara Inggris, hanya dua yang terjadi di lokasi pertandingan. Kelima orang tersebut kini telah dibebaskan oleh otoritas AS dan kasusnya dirujuk ke UKFPU.
Kepala UKFPU, Kepala Konstabel Mark Roberts, menegaskan bahwa reputasi suporter Inggris yang kerap dianggap negatif di masa lalu tidak lagi relevan. "Kami telah menekankan kepada aparat setempat bahwa penggemar kami memiliki catatan positif di turnamen-turnamen sebelumnya. Sungguh menggembirakan melihat hal itu berlanjut, dan para penggemar diperlakukan sesuai perilaku mereka, bukan berdasarkan reputasi usang," ujarnya. Pujian serupa juga diberikan kepada pendukung Skotlandia, meskipun data mereka tidak termasuk dalam laporan ini.
Namun, jika dilihat dari data domestik, situasinya jauh berbeda. Sebanyak 463 insiden terkait sepak bola tercatat di Inggris dan Wales—angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama di Euro 2024 (304) dan Piala Dunia 2022 (291). Sebagian besar insiden terjadi di tempat-tempat berizin seperti pub dan bar (162 kasus), sementara 109 insiden diklasifikasikan sebagai kekerasan domestik yang sering melibatkan anggota keluarga di atas 16 tahun.
Angka penangkapan juga menunjukkan tren peningkatan. Sebanyak 88 orang telah ditangkap, melonjak dari 66 penangkapan di Euro 2024 dan 56 di Piala Dunia 2022. Banyak dari penangkapan ini dilakukan berdasarkan Undang-Undang Ketertiban Umum, yang mencakup berbagai perilaku anti-sosial seperti makian, teriakan, intimidasi, dan kekerasan. Sebelum turnamen dimulai, sebanyak 1.958 suporter yang masih dalam masa larangan menghadiri pertandingan (football banning order) diwajibkan menyerahkan paspor mereka untuk mencegah mereka terbang ke Amerika Serikat.
Fenomena ini menarik untuk dicermati, terutama dalam konteks Indonesia di mana antusiasme terhadap sepak bola juga sangat tinggi. Meskipun tidak ada data langsung yang sebanding, pola peningkatan insiden domestik saat turnamen besar berlangsung kerap terjadi di berbagai negara. Hal ini menunjukkan bahwa euforia sepak bola tidak hanya berdampak positif, tetapi juga dapat memicu perilaku agresif di lingkungan rumah tangga. Bagi penggemar sepak bola Indonesia, momen seperti Piala Dunia atau Piala Asia sering kali menjadi ajang berkumpul dan menonton bersama, namun perlu diingat bahwa pengendalian emosi dan sikap sportif tetap harus dijaga, baik di luar maupun di dalam rumah.
Ke depan, tantangan bagi otoritas sepak bola Inggris adalah bagaimana menekan angka insiden domestik tanpa harus mengorbankan kebebasan penggemar untuk merayakan turnamen. Apakah pendekatan preventif seperti perpanjangan jam operasional pub atau kampanye kesadaran publik akan efektif? Atau justru diperlukan sanksi yang lebih tegas bagi pelanggar? Yang jelas, pujian dari polisi AS tidak boleh membuat pihak berwenang lengah terhadap masalah yang mengakar di dalam negeri.



