Doku Buka Suara soal Kritik Jurnalis: Saya Tidak Melawan, tapi Memahami
Baca dalam 60 detik
- Pemain sayap Manchester City itu menegaskan tidak menyimpan dendam kepada presenter yang mengecam keputusannya meninggalkan kamp Timnas Belgia demi mendampingi kelahiran anak pertama.
- Kritik keras dari France Pierron memicu gelombang dukungan publik untuk Doku, sekaligus memunculkan perdebatan tentang prioritas pemain profesional antara keluarga dan karier.
- Kasus ini menjadi pengingat bagi pesepak bola Indonesia akan pentingnya keseimbangan hidup, di tengah tuntutan kompetisi yang padat dan sorotan media yang intens.

Jeremy Doku, winger Manchester City yang memperkuat Belgia di Piala Dunia 2022, akhirnya angkat bicara mengenai kontroversi yang menimpanya. Ia menegaskan tidak menyimpan rasa permusuhan terhadap jurnalis yang mengkritik keputusannya meninggalkan kamp pelatihan untuk mendampingi istrinya melahirkan. Dalam video yang diunggah di kanal YouTube pribadinya, Doku menyampaikan pemahaman atas kegaduhan yang terjadi, tetapi menolak untuk membalas dengan kebencian.
Kontroversi bermula ketika Doku, yang saat itu berusia 24 tahun, mengumumkan rencananya untuk terbang ke Inggris jika istrinya, Shireen, melahirkan di tengah turnamen. Keputusan ini sontak menuai kritik pedas dari presenter L'Equipe, France Pierron, yang menyebut seorang ayah yang meninggalkan tim saat anaknya lahir sebagai 'benar-benar tidak berguna'. Pernyataan tersebut memicu reaksi luas, baik dari penggemar maupun rekan sesama pemain, hingga akhirnya L'Equipe menyampaikan permintaan maaf resmi dan menarik Pierron dari siaran untuk sementara waktu.
Bagi Doku, momen kelahiran anak pertamanya adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar. Ia melewatkan laga melawan Iran untuk terbang ke London, tempat putranya, Praise, dilahirkan. Meski keputusan ini dianggap sebagian orang terlalu sempurna untuk menjadi kebetulan, Doku memahami keraguan tersebut. "Saya bisa mengerti mengapa orang merasa ini mungkin diatur, karena terlalu sempurna," ujarnya dalam video tersebut, seperti dikutip BBC.
Yang menarik, Doku justru memilih untuk tidak membalas kritik dengan nada yang sama. Ia bahkan meminta publik untuk tidak terlalu keras terhadap Pierron. "Saya tidak ingin orang terlalu kasar padanya. Kita tidak tahu apa yang dia alami. Itu opininya," kata Doku. Sikap ini menunjukkan kedewasaan yang jarang terlihat di tengah tekanan media yang kerap memojokkan atlet.
Konteks Indonesia: Kisah Doku mengingatkan pada dilema yang kerap dihadapi atlet Tanah Air, terutama mereka yang berkiprah di liga luar negeri. Tekanan untuk tampil maksimal di turnamen besar sering kali berbenturan dengan tanggung jawab keluarga. Di Indonesia, di mana budaya kekeluargaan sangat kuat, keputusan Doku justru mungkin mendapat banyak simpati. Publik cenderung memaklumi jika seorang pemain memilih mendampingi istri melahirkan, meski harus absen dari laga penting. Namun, di sisi lain, sorotan media dan ekspektasi suporter bisa menjadi beban psikologis tersendiri bagi pemain.
Doku sendiri mengaku tidak ingin memperpanjang polemik. Ia lebih memilih mendoakan Pierron daripada membalas dengan kemarahan. "Saya tidak melawannya. Saya tidak marah padanya atau apa pun. Dia hanya menyampaikan opininya," tegasnya. Pernyataan ini tidak hanya meredakan ketegangan, tetapi juga menunjukkan bahwa di balik hiruk-pikuk sepak bola profesional, ada nilai-nilai kemanusiaan yang lebih besar.
Ke depannya, kasus ini membuka ruang diskusi yang lebih luas tentang bagaimana media dan publik memperlakukan atlet sebagai manusia, bukan sekadar mesin pencetak gol. Apakah kritik yang disampaikan dengan nada menghakimi akan terus menjadi budaya dalam jurnalisme olahraga, atau justru mendorong perubahan menuju pendekatan yang lebih empatik? Jawabannya mungkin akan terlihat pada bagaimana kasus serupa ditangani di masa mendatang, baik di kancah internasional maupun di Indonesia.



