Menabung untuk Pensiun: Target Baru yang Lebih Realistis di Tengah Inflasi Kesehatan
Baca dalam 60 detik
- Para ekonom Malaysia menilai target tabungan pensiun saat ini belum memperhitungkan biaya kesehatan dan tanggungan keluarga, sehingga perlu direvisi.
- Hanya 38,3% peserta EPF yang mencapai target tabungan dasar, menunjukkan kesenjangan besar antara kebutuhan dan kesiapan finansial.
- Revisi target pensiun harus mempertimbangkan inflasi medis dan skenario jangka panjang, sejalan dengan tantangan serupa yang dihadapi Indonesia.

Kebutuhan biaya kesehatan, komitmen rumah tangga, dan pengeluaran hidup sehari-hari menjadi faktor yang kerap terlewat saat seseorang menetapkan target dana pensiun. Para ekonom menilai, ukuran kecukupan dana pensiun yang selama ini dipakai terlalu sederhana dan belum mencerminkan realitas yang dihadapi para pensiunan, terutama di tengah laju inflasi medis yang terus meningkat.
Profesor dari Putra Business School, Dr. Ahmed Razman Abdul Latiff, mengusulkan agar penilaian kecukupan dana pensiun tidak hanya berpatokan pada angka nominal, tetapi juga memasukkan proyeksi inflasi layanan kesehatan serta kemungkinan seseorang membutuhkan perawatan medis di masa tua. Menurutnya, situasi finansial pensiunan lajang sangat berbeda dengan mereka yang masih menanggung pasangan atau anggota keluarga lain. Demikian pula, mereka yang sudah melunasi rumah memiliki posisi yang jauh lebih ringan dibandingkan yang masih mencicil atau mengontrak.
Dalam kerangka yang dipakai oleh Kumpulan Wang Simpanan Pekerja (EPF) Malaysia, terdapat tiga jenjang tabungan: Basic Savings sebesar RM390.000, Adequate Savings RM650.000, dan Enhanced Savings RM1,3 juta. Namun, data parlemen yang disampaikan Wakil Menteri Keuangan Liew Chin Tong pada Juli lalu menunjukkan hanya 38,3% dari 7,94 juta peserta EPF berusia 18โ60 tahun yang berhasil mencapai ambang Basic Savings per 31 Mei. Artinya, sekitar 3,04 juta orang baru mencapai level terendah, sementara mayoritas lainnya masih jauh dari kata siap.
Profesor ekonomi dari Sunway University, Dr. Yeah Kim Leng, memperkirakan penarikan bulanan untuk Basic Savings berkisar antara RM1.300 hingga RM1.650 dengan masa pensiun sekitar 20 tahun. Dengan asumsi inflasi dan imbal hasil investasi saat ini, angka tersebut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan paling pokok, belum untuk gaya hidup yang nyaman. Ia menekankan bahwa target kecukupan dana pensiun bersifat dinamis dan harus direvisi secara berkala mengikuti kondisi ekonomi dan keuangan. Setelah mencapai Basic Savings, peserta disarankan mengejar target Adequate, lalu Enhanced.
Dr. Yeah juga menyoroti tantangan pemerintah dalam memperkuat jaring pengaman sosial, tidak hanya bagi pekerja formal tetapi juga sektor informal. Sementara itu, ekonom Bank Muamalat Malaysia, Dr. Mohd Afzanizam Abdul Rashid, menilai pencapaian target yang ada menunjukkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menabung pensiun mulai meningkat. Namun, ia mengingatkan agar peserta tidak menarik dana EPF secara prematur karena akan mengganggu efek bunga majemuk dan menghambat akumulasi dana hingga masa pensiun tiba.
Pelajaran yang bisa ditarik untuk Indonesia cukup relevan. BPJS Ketenagakerjaan dan program dana pensiun di Tanah Air menghadapi tantangan serupa: tingkat kecukupan dana pensiun yang rendah dan kesadaran menabung yang belum merata. Inflasi kesehatan di Indonesia juga tergolong tinggi, seringkali di atas inflasi umum, sehingga target dana pensiun yang tidak memperhitungkan faktor ini berisiko membuat pensiunan kesulitan memenuhi kebutuhan medis di usia senja.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah pemerintah dan lembaga pengelola dana pensiun di kawasan ini akan berani merevisi target tabungan secara berkala, atau justru memilih mempertahankan angka yang ada demi menjaga daya beli peserta. Dengan dinamika ekonomi yang berubah cepat, keputusan ini akan menentukan kualitas hidup jutaan pensiunan di masa mendatang.



