Transformasi BUMN di Bawah Danantara: Laba Puluhan Perusahaan Tumbuh, Ada yang Tembus Ribuan Persen
Baca dalam 60 detik
- Hingga April 2026, sebanyak 22 BUMN yang dikelola BPI Danantara mencatatkan pertumbuhan laba signifikan, dengan kenaikan tertinggi mencapai 1.339% pada Bank BTN.
- Pertamina dan Bank Mandiri menjadi kontributor laba terbesar secara nominal, sementara Pupuk Indonesia dan Krakatau Steel berhasil membalikkan rugi menjadi untung berkat restrukturisasi.
- Kinerja positif ini menandai efektivitas model pengelolaan terpusat Danantara dalam mendorong efisiensi dan transparansi BUMN, meski tantangan keberlanjutan masih perlu diuji.

Kinerja keuangan perusahaan pelat merah di bawah naungan Badan Pengelolaan Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menunjukkan akselerasi signifikan pada periode April 2025 hingga April 2026. Sebanyak 22 BUMN mencatatkan pertumbuhan laba, dengan beberapa di antaranya bahkan membukukan lonjakan hingga ribuan persen, menandai babak baru dalam transformasi badan usaha milik negara.
Data yang dihimpun menunjukkan bahwa laba bersih agregat BUMN tersebut mengalami peningkatan substansial dibandingkan periode sebelumnya. Bank BTN misalnya, mencatatkan kenaikan laba sebesar 1.339%—dari Rp1,3 triliun menjadi Rp1,4 triliun—meskipun secara nominal masih relatif kecil. Sementara itu, Adhi Karya menorehkan pertumbuhan 667%, dan Krakatau Steel berhasil membalikkan rugi Rp981 miliar menjadi laba Rp635 miliar setelah menjalani restrukturisasi dan mendapatkan capital support dari Danantara.
Pencapaian ini tidak terlepas dari peran Danantara sebagai holding investasi yang menerapkan tata kelola lebih ketat dan orientasi profit yang jelas. Direktur Utama BPI Danantara, dalam berbagai kesempatan, menekankan bahwa transformasi BUMN tidak hanya soal efisiensi biaya, tetapi juga perbaikan struktur modal dan diversifikasi bisnis. Hal ini tercermin dari keberhasilan Krakatau Steel, Kimia Farma, dan Semen Indonesia yang keluar dari zona merah setelah mendapatkan suntikan modal dan restrukturisasi utang.
Bagi investor dan pelaku pasar di Indonesia, kinerja ini memberikan sinyal positif bahwa BUMN mulai mampu bersaing secara sehat dengan sektor swasta. Pertamina dan Bank Mandiri tetap menjadi motor utama dengan kontribusi laba masing-masing Rp24,9 triliun dan Rp21,3 triliun. Namun, yang menarik perhatian adalah pertumbuhan eksponensial dari BUMN kecil seperti Agrinas Pangan yang berhasil membalikkan rugi Rp12 miliar menjadi laba Rp465 miliar—sebuah lonjakan yang mencerminkan efektivitas intervensi manajemen baru.
Meski demikian, para analis mengingatkan bahwa pertumbuhan laba yang tinggi pada beberapa entitas perlu dilihat secara hati-hati. Sebagian besar kenaikan berasal dari basis yang rendah atau efek one-off dari restrukturisasi. Ke depan, konsistensi profitabilitas dan kemampuan BUMN untuk bertahan di tengah tekanan global menjadi ujian sesungguhnya. Pertanyaan yang mengemuka: apakah Danantara mampu mempertahankan momentum ini hingga akhir tahun fiskal 2026, atau justru akan menghadapi koreksi akibat normalisasi harga komoditas dan suku bunga?



