Ramsay-Peaty Tumbang di Final 100m Dada: Rekor 16 Emas Eropa Terhenti di Paris
Baca dalam 60 detik
- Adam Ramsay-Peaty finis kelima di final 100m dada Kejuaraan Eropa, mengakhiri dominasi 16 medali emasnya di ajang tersebut.
- Nicolo Martinenghi merebut emas dengan catatan 58,58 detik, sementara Ramsay-Peaty mencatat waktu 59,10 detik, lebih cepat dari penampilannya di Commonwealth Games.
- Kekalahan ini menandai pertama kalinya perenang andalan Inggris itu kalah di Kejuaraan Eropa, memunculkan pertanyaan tentang persiapannya menuju Olimpiade Paris 2024.

Paris, 12 Juni 2024 โ Rentetan 16 medali emas Adam Ramsay-Peaty di Kejuaraan Akuatik Eropa akhirnya terputus. Pada final 100 meter gaya dada yang digelar di Paris, perenang berusia 31 tahun itu harus puas menempati posisi kelima, sebuah hasil yang mengejutkan banyak pengamat mengingat rekor impresifnya yang tak pernah terkalahkan di ajang tersebut sejak debutnya.
Kemenangan kali ini diraih oleh Nicolo Martinenghi, peraih emas Olimpiade asal Italia, yang mencatat waktu 58,58 detik. Di belakangnya, Ivan Kozhakin dan Simone Cerasuolo melengkapi podium, sementara Ramsay-Peaty hanya mampu finish dengan catatan 59,10 detik โ terpaut 0,52 detik dari sang juara. Hasil ini sekaligus menjadi sinyal bahwa persaingan di nomor andalannya semakin ketat menjelang Olimpiade Paris 2024.
Kekalahan ini menjadi yang pertama bagi Ramsay-Peaty di Kejuaraan Eropa, baik di babak penyisihan, semifinal, maupun final. Sebelumnya, ia selalu tampil dominan dan dianggap sebagai penguasa nomor 100 meter dada dunia. Namun, performa di Paris kali ini menunjukkan adanya tren penurunan, terutama setelah ia hanya meraih dua medali perunggu di Commonwealth Games bulan lalu โ sebuah hasil yang ia akui membuatnya frustrasi. "Tidak ada yang masuk akal," ujarnya, menggambarkan kebingungannya atas performa yang belum stabil.
Menariknya, waktu 59,10 detik yang ia catat di Paris sebenarnya lebih cepat 0,55 detik dibandingkan saat Commonwealth Games. Namun, lawan-lawannya juga tampil lebih cepat, sehingga perbaikan waktu tersebut tidak cukup untuk mengamankan podium. Salah satu nama yang patut diwaspadai adalah Filip Nowacki, rekan setimnya di tim Inggris yang baru berusia 18 tahun. Nowacki-lah yang mengalahkan Ramsay-Peaty di Glasgow, sekaligus membuat sejarah untuk Jersey dengan meraih emas di nomor 200 meter dada.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik untuk dicermati. Meskipun tidak ada perenang Indonesia yang berlaga di Kejuaraan Eropa, performa para atlet top dunia ini menjadi barometer persaingan di Olimpiade. Federasi Renang Indonesia (PRSI) tentu dapat mengambil pelajaran dari konsistensi dan strategi latihan para atlet Eropa, terutama dalam menghadapi tekanan di ajang multievent. Selain itu, dengan Olimpiade Paris yang tinggal menghitung bulan, persaingan di nomor 100 meter dada dipastikan akan berlangsung sengit, dan Indonesia perlu mempersiapkan atletnya dengan matang jika ingin bersaing di level tertinggi.
Di sisi lain, Inggris tetap punya alasan untuk tersenyum. Katie Shanahan, perenang 22 tahun, tampil dominan di nomor 200 meter punggung dengan meraih emas dan unggul 1,49 detik dari pesaing terdekatnya. Ini merupakan peningkatan signifikan setelah ia hanya meraih perak di Kejuaraan Eropa 2022 di Roma. Sementara itu, Angharad Evans mencatatkan rekor baru di semifinal 100 meter dada putri dengan waktu 1:04.97, menunjukkan bahwa regenerasi perenang Inggris berjalan baik.
Kekalahan Ramsay-Peaty ini tentu menjadi bahan evaluasi besar bagi tim Inggris. Dengan Olimpiade Paris yang akan digelar dalam waktu dekat, pertanyaan besarnya adalah: mampukah ia bangkit dan mempertahankan statusnya sebagai salah satu perenang terbaik dunia? Atau akankah generasi baru seperti Nowacki mengambil alih tongkat estafet? Jawabannya akan terungkap di kolam renang Olimpiade, di mana tekanan dan persaingan akan jauh lebih besar.



