Kejuaraan Atletik Eropa di Birmingham: Tiket Mahal, Stadion Sepi
Baca dalam 60 detik
- Hampir 10.000 kursi kosong di Alexander Stadium pada malam pembukaan Kejuaraan Atletik Eropa, memicu kritik publik.
- Harga tiket kategori premium yang melambung dibandingkan edisi Roma 2022 menjadi sorotan utama para penggemar.
- Penyelenggara mengklaim penjualan tiket melampaui target, namun okupansi stadion baru mencapai 59% pada sesi malam.

Birmingham, Inggris — Gelaran Kejuaraan Atletik Eropa 2026 yang baru pertama kali digelar di Inggris justru diwarnai pemandangan memprihatinkan: ribuan kursi kosong di Alexander Stadium pada malam pembukaan, Senin (9/6). Dari kapasitas 23.000 penonton, hanya 13.623 orang yang hadir menyaksikan sprinter Inggris Amy Hunt meraih gelar internasional senior pertamanya. Fenomena ini langsung memicu perdebatan publik mengenai keterjangkauan harga tiket dan strategi pemasaran acara olahraga besar di tengah krisis biaya hidup.
Kritik paling tajam datang dari para penggemar atletik yang menilai kebijakan penetapan harga tiket tidak masuk akal. Tiket kategori A di tribun utama pada hari kerja dibanderol £150 (sekitar Rp3 juta) tanpa diskon untuk pelajar atau junior. Sebagai perbandingan, tiket serupa untuk final 100 meter putra di Roma dua tahun lalu hanya €88 (sekitar Rp1,5 juta). Padahal, untuk final 100 meter putra yang berlangsung Selasa (10/6), harga tiket premium masih bertengger di £110. Seorang penggemar, Chris Brown (40), yang mengabadikan deretan kursi kosong, menilai harga untuk sesi tengah pekan terlalu tinggi. "Harga £110 mungkin wajar untuk akhir pekan, tapi tidak untuk hari kerja," ujarnya. Ia juga menyoroti tiket termurah £26 yang justru paling laris, menunjukkan adanya kesenjangan antara harga dan daya beli publik.
Kekosongan stadion ini tidak hanya soal harga. Adam Hilton, pengunjung asal Manchester, mengaku kecewa dengan nilai yang ia dapatkan setelah membayar £120 untuk dua tiket. Ia juga menyoroti minimnya infrastruktur transportasi di sekitar stadion, dengan stasiun kereta terdekat berjarak 1,6 kilometer dan lahan parkir yang jauh. "Ini tren yang memprihatinkan, di mana penggemar semakin terpinggirkan dari acara yang seharusnya lebih mudah diakses," katanya. Kritik serupa disampaikan mantan atlet Olimpiade Sharron Davies yang menuntut harga tiket lebih terjangkau agar stadion penuh dan menginspirasi generasi muda. Bahkan, harga makanan di dalam stadion—seperti pork roll £18,50 dan hot dog £15—ikut menjadi sasaran kritik.
Di sisi lain, panitia Birmingham 2026 membantah adanya masalah. Juru bicara mereka menyatakan "senang" dengan penjualan tiket yang "jauh melampaui target", dengan sesi Jumat, Sabtu, dan Minggu malam mendekati sold out. Data internal menunjukkan okupansi stadion hanya 55% pada Senin pagi, 59% pada Senin malam, dan 56% pada Selasa pagi. Komentator BBC, Steve Cram, juga menyayangkan sepinya tribun belakang saat final 100 meter putri. "Saya yakin Birmingham akan segera berbenah," ujarnya di sela siaran langsung.
Fenomena ini sejalan dengan kekhawatiran global tentang komersialisasi olahraga yang berlebihan. Di Indonesia, pelajaran serupa bisa ditarik dari sepinya stadion pada beberapa ajang olahraga internasional, seperti Asian Games 2018 yang sempat menuai kritik serupa. Harga tiket yang tinggi, ditambah biaya transportasi dan akomodasi, seringkali membuat acara olahraga hanya dinikmati kalangan tertentu. Padahal, dampak positif olahraga—baik dari sisi kesehatan, ekonomi, maupun inspirasi generasi muda—akan lebih terasa jika stadion dipenuhi penonton dari berbagai lapisan masyarakat.
Ke depan, panitia perlu mengevaluasi ulang strategi penetapan harga, terutama untuk sesi hari kerja. Apakah mereka akan menurunkan harga tiket premium atau memberikan insentif lain seperti paket keluarga? Pertanyaan ini penting, karena jika tidak dijawab, bukan tidak mungkin tren kursi kosong akan terulang pada ajang-ajang berikutnya, termasuk Commonwealth Games yang akan digelar di Inggris dua pekan setelah kejuaraan ini. Publik tentu berharap bahwa kegembiraan atletik tidak hanya milik mereka yang mampu membayar mahal, tetapi juga milik semua yang mencintai olahraga ini.



