Leverkusen Rekrut Bek Timnas Argentina: Medina, Anak Fiorito yang Kini Jadi Tembok Baru Die Werkself
Baca dalam 60 detik
- Bayer Leverkusen resmi mengamankan jasa Facundo Medina, bek serbabisa Timnas Argentina, untuk musim 2026/27 setelah performa impresifnya di Piala Dunia 2026.
- Medina, yang lahir di kota kelahiran Diego Maradona, membawa pengalaman lima tahun di Ligue 1 dan fleksibilitas posisi yang dinilai cocok dengan skema taktis Leverkusen.
- Kedatangan Medina memperkuat lini belakang Leverkusen yang juga dihuni Piero Hincapié, menciptakan duet bek kiri Argentina-Ekuador yang potensial di Bundesliga.

Bayer Leverkusen memastikan perekrutan Facundo Medina, bek Timnas Argentina yang tampil menonjol di Piala Dunia 2026, sebagai bagian dari persiapan musim 2026/27. Langkah ini tidak hanya menambah kedalaman skuat, tetapi juga menghadirkan pemain dengan profil fleksibel yang diyakini mampu menjawab kebutuhan taktis pelatih Xabi Alonso.
Medina, yang kini berusia 27 tahun, bukanlah nama asing di Eropa. Sebelum bergabung dengan Leverkusen, ia menghabiskan lima musim di RC Lens dan sempat pindah ke Olympique Marseille pada 2025. Di Marseille, ia mencatatkan 26 penampilan di semua kompetisi dan membantu tim finis kelima Ligue 1. Namun, puncak kariernya terjadi di Piala Dunia 2026, di mana ia menjadi bagian dari skuat Argentina yang melaju hingga final, meski harus puas sebagai runner-up. Medina tampil dalam lima pertandingan, termasuk bermain selama 50 menit di partai puncak.
Kedatangan Medina ke Leverkusen menarik perhatian karena kesamaannya dengan Piero Hincapié, bek asal Ekuador yang sudah lebih dulu berseragam Die Werkself. Keduanya sama-sama bertinggi 183 cm, berposisi sebagai bek kiri atau bek tengah, dan memiliki kemampuan duel udara serta distribusi bola yang baik. Menariknya, keduanya juga memulai karier Eropa setelah menonjol di Talleres, klub Argentina. Direktur olahraga Leverkusen, Simon Rolfes, menyambut positif kehadiran Medina. Menurutnya, pemain berjuluk 'anak Fiorito' ini memiliki kualitas agresif dan tegas dalam duel satu lawan satu, yang dianggap sebagai tambahan penting bagi profil skuat.
Kisah hidup Medina juga menjadi sorotan. Ia tumbuh di Villa Fiorito, kawasan pinggiran Buenos Aires yang juga merupakan kampung halaman Diego Maradona. Sebelum menekuni sepak bola secara profesional, Medina sempat bekerja sebagai pemulung untuk membantu perekonomian keluarganya. Dalam wawancara dengan ESPN, ia mengungkapkan bahwa mengumpulkan kardus bekas bersama keluarga adalah rutinitas dari Senin hingga Jumat. "Kami punya makanan, tapi harus bekerja keras untuk mendapatkannya," ujarnya. Latar belakang ini memberikannya mentalitas baja yang kini menjadi modal berharga di pentas Eropa.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, perekrutan Medina menjadi sinyal bahwa Leverkusen tidak main-main dalam mempertahankan daya saing di Bundesliga dan Eropa. Dengan tambahan pemain sekaliber Medina, Leverkusen semakin solid di lini belakang, terutama dengan adanya opsi bermain dengan tiga bek atau empat bek. Kehadirannya juga bisa menjadi pembanding bagi pemain Indonesia yang bercita-cita berkarier di Eropa, bahwa kerja keras dan ketekunan dapat mengantarkan seseorang dari jalanan hingga panggung terbesar sepak bola dunia.
"Facundo dapat bertukar posisi dengan mulus antara empat bek dan tiga bek. Ia memiliki kecerdasan dan energi untuk beradaptasi, baik saat bertahan di sisi lebar maupun tengah." – Franck Haise, mantan pelatih Lens.
Leverkusen kini memiliki opsi menarik di lini belakang. Kombinasi Medina dan Hincapié di sisi kiri pertahanan bisa menjadi mimpi buruk bagi lawan, mengingat keduanya sama-sama kuat dalam duel dan mampu membantu serangan. Pertanyaannya, bagaimana Xabi Alonso akan meramu strategi dengan dua bek kiri sekaliber ini? Akankah salah satu dari mereka digeser ke posisi bek tengah, atau justru dimainkan bersamaan dalam skema tiga bek? Keputusan ini akan menentukan sejauh mana Leverkusen mampu bersaing di level tertinggi musim depan.



