Harga Minyak Dunia Bergejolak, Bursa Asia-Pasifik Tertekan: Konflik Hormuz dan Inflasi Bayangi Pasar
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak mentah global berbalik arah setelah sempat naik lebih dari 2% karena ketidakpastian kesepakatan AS-Iran soal Selat Hormuz, namun tetap berada di level tertinggi sejak awal Juni.
- Bursa saham Eropa dan Wall Street menguat tipis, sementara pasar Asia mixed, ditopang oleh ekspektasi penurunan suku bunga The Fed menyusul data tenaga kerja AS yang lemah.
- Rilis data inflasi AS pada Rabu akan menjadi penentu arah kebijakan The Fed, di tengah kekhawatiran kenaikan harga energi dapat memicu inflasi baru dan mengubah perhitungan investor.

Harga minyak mentah dunia kembali bergejolak pada perdagangan Selasa (11/8) waktu setempat, setelah sempat melonjak lebih dari 2% di awal sesi, sementara bursa saham global bergerak mixed. Investor tampak mencerna dua sinyal yang saling bertentangan: harapan pelonggaran kebijakan moneter AS yang meredup dan kekhawatiran gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah yang kembali menguat.
Kenaikan harga minyak yang sempat terjadi dipicu oleh buntunya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz. Washington dan Teheran saling menuntut pembayaran kompensasi, tanpa ada tanda-tanda kemajuan berarti. Akibatnya, kontrak minyak yang sempat naik signifikan akhirnya kehilangan momentum, meski secara keseluruhan harga masih tercatat naik sekitar 10% dalam lima hari terakhir dan berada di level tertinggi sejak awal Juni.
Fawad Razaqzada, analis pasar dari FOREX.com, menilai lonjakan harga minyak beberapa hari terakhir merupakan refleksi dari memudarnya harapan akan adanya kesepakatan AS-Iran yang mampu membuka penuh Selat Hormuz. Namun, ia juga mengingatkan bahwa sinyal yang keluar dari Washington dan Teheran masih kontradiktif, sehingga ketidakpastian tetap tinggi.
Di pasar saham, indeks Dow Jones dan S&P 500 di Wall Street menguat tipis, sementara Nasdaq yang sarat teknologi dibuka melemah. Bursa Eropa seperti Frankfurt, London, dan Paris juga mencatatkan kenaikan kecil pada perdagangan sore. Sementara itu, bursa Asia ditutup mixed, dengan Tokyo yang libur.
David Morrison, analis senior di Trade Nation, mengaitkan penguatan bursa dengan menurunnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed setelah laporan tenaga kerja AS yang lemah. Namun, ia juga menggarisbawahi bahwa kenaikan harga minyak dan penundaan pembukaan Selat Hormuz berpotensi memunculkan risiko inflasi baru yang bisa mengubah arah kebijakan moneter.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi langsung. Sebagai negara pengimpor minyak, kenaikan harga minyak dunia akan menekan anggaran subsidi energi dan berpotensi mendorong inflasi domestik. Pemerintah perlu mencermati pergerakan harga minyak ini, terutama dalam menentukan harga BBM bersubsidi dan dampaknya terhadap daya beli masyarakat.
Di sisi lain, pelemahan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dapat memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Namun, jika inflasi AS ternyata tinggi dan memaksa The Fed menaikkan suku bunga, tekanan pada mata uang emerging market, termasuk rupiah, bisa kembali menguat.
Patrick Munnelly dari Tickmill Group menilai situasi The Fed semakin pelik. Di satu sisi, mendinginnya pasar tenaga kerja bisa menjadi alasan untuk bersabar, tetapi di sisi lain, inflasi yang didorong oleh energi dapat mengikis kesabaran tersebut jika angka CPI utama, harga bensin, dan ekspektasi inflasi rumah tangga naik.
Perhatian pasar kini tertuju pada rilis data harga konsumen AS pada Rabu. Angka ini akan menjadi petunjuk penting bagi langkah The Fed selanjutnya. Jika inflasi menunjukkan penurunan, pasar bisa bernapas lega. Namun, jika sebaliknya, kekhawatiran akan kenaikan suku bunga yang lebih agresif dapat kembali menghantui pasar global.
Pertanyaannya, mampukah pasar bertahan di tengah ketidakpastian ganda ini? Atau justru koreksi tajam akan terjadi jika data inflasi AS mengecewakan? Semua mata tertuju pada data yang akan dirilis besok.



