Likuiditas Pasar Modal Tertekan, Bos BEI Dorong Reformasi Struktural Bukan Sekadar Tambah Investor Ritel
Baca dalam 60 detik
- Rata-rata nilai transaksi harian BEI anjlok 38% dalam sebulan, mencapai Rp8,69 triliun pada perdagangan terakhir, jauh di bawah rerata historis.
- Direktur Utama BEI menilai likuiditas tidak bisa ditopang hanya oleh investor ritel; perlu keseimbangan antara emiten big cap dan diversifikasi investor institusi serta asing.
- Reformasi pasar modal tengah digenjot untuk memulihkan kepercayaan asing, dengan target menciptakan ekosistem yang lebih dalam dan stabil bagi perekonomian nasional.

Rata-rata nilai transaksi harian di Bursa Efek Indonesia (BEI) ambles hingga 38,06 persen dalam satu bulan terakhir, menembus level terendah di Rp8,69 triliun pada perdagangan kemarin. Di tengah tekanan likuiditas yang semakin nyata, Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menegaskan bahwa solusi jangka panjang tidak bisa hanya bertumpu pada pertumbuhan jumlah investor ritel yang selama ini menjadi andalan.
Menurut Jeffrey, struktur pasar yang sehat membutuhkan keseimbangan antara pasokan emiten berkualitas dan basis investor yang lebih beragam. โPenyerapannya tidak boleh dibebankan sepenuhnya kepada retail investor kita,โ ujarnya di gedung BEI, Selasa (30/6/2026). Ia menekankan bahwa dari sisi penawaran, pasar memerlukan lebih banyak perusahaan berkapitalisasi besar untuk melantai. Kehadiran emiten big cap dinilai mampu memperkuat daya tarik pasar sekaligus menyediakan pilihan investasi yang lebih likuid bagi pelaku pasar.
Sementara dari sisi permintaan, jumlah investor ritel Indonesia memang telah tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, Jeffrey mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada satu kelompok investor justru menimbulkan kerentanan. โStruktur investor yang ideal adalah ketika investor asing, investor institusi domestik, dan investor ritel sama-sama aktif berpartisipasi,โ jelasnya. Kombinasi ketiga kelompok itu, menurut dia, akan menciptakan dinamika perdagangan yang lebih sehat dan mengurangi risiko gejolak akibat arus keluar modal asing atau perubahan sentimen ritel.
BEI bersama para pemangku kepentingan saat ini tengah mendorong reformasi pasar modal untuk meningkatkan kepercayaan investor global. Jeffrey optimistis langkah-langkah tersebut akan menarik lebih banyak investor asing, yang pada gilirannya memperdalam pasar. โApa yang sedang kita lakukan tentu untuk menarik lebih banyak lagi investor asing. Dari situ pasar kita akan makin dalam dan kontribusinya terhadap perekonomian akan lebih nyata,โ ungkapnya.
Bagi pelaku pasar Indonesia, pernyataan ini menjadi sinyal bahwa otoritas bursa tidak lagi mengandalkan pendekatan jangka pendek seperti sekadar menambah jumlah investor ritel. Fokus kini beralih ke perbaikan fundamental: mendorong IPO emiten besar, memperkuat peran investor institusi domestik seperti dana pensiun dan asuransi, serta menciptakan iklim yang ramah bagi modal asing. Jika reformasi ini berhasil, likuiditas pasar modal Indonesia berpotensi pulih dan menjadi lebih stabil dalam jangka panjang. Namun, tanpa aksi nyata yang terukur, tekanan transaksi harian yang terus menurun bisa menghambat target BEI menjadi bursa yang kompetitif di kawasan.



