Wall Street Bangkit, Bursa Asia Terbelah: Yen Terpuruk di Level Terendah 40 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Saham teknologi Asia bangkit setelah aksi beli di Wall Street, namun pemulihan masih rapuh di tengah kekhawatiran valuasi dan suku bunga.
- Yen terus melemah ke level terendah sejak 1986, mendekati 162 per dolar AS, memicu spekulasi intervensi pemerintah Jepang.
- Pasar menanti data tenaga kerja AS yang bisa memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, memperlebar kesenjangan kebijakan moneter global.

Saham-saham teknologi di Asia berhasil memantul pada Selasa (30/6), meniru kenaikan di Wall Street setelah aksi jual besar-besaran dua pekan terakhir. Namun, penguatan ini belum mampu mengangkat seluruh bursa kawasan, sementara yen terus terpuruk di kisaran terendah dalam 40 tahun terhadap dolar AS.
Optimisme meredanya ketegangan AS-Iran dan kemungkinan dibukanya kembali Selat Hormuz mengalihkan perhatian pelaku pasar kembali ke kebijakan moneter bank sentral serta masa depan kecerdasan buatan (AI). Sektor teknologi yang selama ini menjadi motor penggerak rally global, dengan sejumlah perusahaan mencetak rekor tertinggi, belakangan tertekan oleh kekhawatiran valuasi yang terlalu mahal, suku bunga tinggi, dan ketidakpastian kapan investor akan menuai hasil investasi mereka.
Namun, aksi borong saham teknologi yang murah memicu lonjakan di New York. Dow Jones menembus rekor baru, sementara Nasdaq melesat lebih dari 2 persen. Tujuh saham unggulan—termasuk Amazon, Meta, dan Nvidia—menutup perdagangan dengan kuat. "Setelah rekor penjualan di saham teknologi besar pekan lalu, pembeli kembali ke nama yang sama yang baru saja mereka buang," ujar Stephen Innes dari SPI Asset Management. Ia menambahkan bahwa ini bukan berarti perdagangan AI telah sembuh total, melainkan "pasien berhenti berdarah cukup lama sehingga para dokter mulai menawar sahamnya kembali."
Di Asia, indeks Kospi Korea Selatan—yang menjadi tolok ukur dengan kinerja terbaik tahun ini—naik 1 persen, meski masih jauh di bawah rekor tertingginya sebelum aksi jual pekan lalu. Tokyo dan Taipei juga mencatat kenaikan signifikan, sementara Shanghai, Wellington, dan Bangkok turut menikmati minat beli. Saham Samsung Electronics dan Tokyo Electron masing-masing melonjak lebih dari 3 persen, sedangkan TSMC di Taipei naik 1 persen. Namun, Hong Kong, Sydney, Singapura, Manila, Mumbai, dan Jakarta justru tertekan. Bursa Eropa seperti London, Paris, dan Frankfurt semuanya menguat.
Pelemahan yen yang terus berlanjut menjadi sorotan utama. Mata uang Jepang sempat mencapai 162,40 per dolar AS di tengah ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga tahun ini. Pergerakan ini terjadi menjelang rilis data tenaga kerja AS pada Kamis; analis memperingatkan bahwa angka yang lebih kuat dari perkiraan dapat memicu spekulasi kenaikan suku bunga lebih awal. Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama, seperti dilaporkan media lokal, mengatakan Tokyo "akan mengambil tindakan yang tepat kapan pun diperlukan." Sebelumnya, pemerintah Jepang telah menggelontorkan dana 72,4 miliar dolar AS untuk menopang yen saat pertama kali jatuh di bawah 160 per dolar pada April-Mei lalu.
Menurut Axel Rudolph dari IG, katalis utama penguatan dolar adalah kedatangan Ketua Federal Reserve yang baru, Kevin Warsh, yang pernyataan publiknya dinilai lebih hawkish dari yang diharapkan Presiden Donald Trump. "Warsh terus menekankan pentingnya menjaga kredibilitas The Fed dalam memerangi inflasi dan memberi sinyal kesediaan untuk mempertahankan kebijakan restriktif jika tekanan harga tetap persisten," ujar Rudolph. Prospek suku bunga AS yang lebih tinggi telah memperlebar kesenjangan kebijakan yang diharapkan antara AS dan mitra dagang utamanya, meningkatkan permintaan aset-aset berdenominasi dolar.
Bagi Indonesia, pelemahan yen dan penguatan dolar AS berpotensi menekan rupiah serta meningkatkan biaya impor, terutama jika The Fed benar-benar menaikkan suku bunga. Di sisi lain, kenaikan bursa teknologi global bisa mendorong sentimen positif di pasar saham domestik, meski investor tetap waspada terhadap volatilitas. Harga minyak yang sedikit turun akibat meredanya ketegangan Timur Tengah juga memberi sedikit ruang bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia.
Ke depan, pasar akan mencermati data tenaga kerja AS dan sinyal dari pertemuan bank sentral. Apakah reli teknologi Asia mampu bertahan di tengah tekanan suku bunga dan valuasi yang masih tinggi? Ataukah ini hanya sekadar pemulihan sementara sebelum aksi jual berikutnya? Jawabannya akan sangat bergantung pada arah kebijakan The Fed dan kemampuan bank sentral Jepang untuk menstabilkan yen.



