Harga Minyak Anjlok di Tengah Sinyal Damai AS-Iran: Diplomasi Qatar Redakan Ketegangan
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak mentah Brent dan WTI turun lebih dari 1% setelah AS dan Iran mengisyaratkan pertemuan di Doha, mengurangi premi risiko geopolitik.
- Klaim Presiden Trump tentang permintaan pertemuan Iran dibantah oleh Wakil Menteri Luar Negeri Iran, menimbulkan ketidakpastian soal keseriusan negosiasi.
- Pasar tetap waspada terhadap potensi kenaikan suku bunga The Fed yang bisa menekan permintaan, di tengah volatilitas harga minyak jangka pendek.

Harga minyak mentah dunia ambles lebih dari satu persen pada Selasa (8/4/2025) setelah sinyal pertemuan antara Amerika Serikat dan Iran di Qatar memicu ekspektasi bahwa ketegangan di Timur Tengah bisa mereda. Brent tercatat di level 73 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) merosot 1,3 persen ke 69,86 dolar AS, turun dari posisi sebelumnya 70,75 dolar AS.
Presiden AS Donald Trump melalui akun Truth Social-nya mengklaim bahwa Iran yang meminta pertemuan dan akan berlangsung di Doha pada hari yang sama. Namun, pernyataan itu langsung dibantah Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi yang menegaskan tidak ada jadwal pembicaraan teknis dengan AS pekan ini. Ia hanya mengakui bahwa konsultasi dengan mediator masih berlangsung.
Sebelumnya, media Axios melaporkan bahwa kedua negara sepakat menyelesaikan sengketa di Selat Hormuz setelah serangan AS-Israel pada akhir Februari lalu. Selat yang menjadi jalur vital ekspor minyak global itu sempat ditutup Teheran sebagai buntut dari serangan tersebut. Para analis menilai bahwa prospek diplomasi ini mendorong investor untuk mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya menyangga harga minyak.
Bagi Indonesia, fluktuasi harga minyak global berdampak langsung pada anggaran subsidi energi dan harga bahan bakar domestik. Penurunan harga minyak bisa meringankan beban APBN, namun ketidakpastian pasokan dari Timur Tengah tetap menjadi risiko. Indonesia mengimpor sekitar 40% kebutuhan minyak mentahnya, dan Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi pasokan dari kawasan Teluk.
Di sisi lain, pasar juga mencermati kebijakan moneter AS. Ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga setidaknya sekali tahun ini membayangi prospek permintaan minyak. Kebijakan yang lebih ketat berpotensi memperlambat aktivitas ekonomi global dan menekan konsumsi energi, sehingga membatasi kenaikan harga lebih lanjut.
Analis memperkirakan volatilitas harga minyak akan berlanjut dalam waktu dekat. Meski ada optimisme dari sinyal diplomasi, pernyataan kontradiktif antara Trump dan pejabat Iran menunjukkan bahwa jalan menuju kesepakatan masih panjang. Pertanyaan besarnya adalah: akankah pertemuan di Doha benar-benar terjadi, atau hanya sekadar retorika politik yang membuat pasar terus berada dalam ketidakpastian?



