Mendagri Tito Karnavian: Lulusan Vokasi Jangan Hanya Incar TNI/Polri, Wirausaha Lebih Menjanjikan
Baca dalam 60 detik
- Mendagri Tito Karnavian mendorong mahasiswa Politeknik 'Ben Mboi' Unhan NTT untuk tidak membatasi karier pada TNI, Polri, atau ASN, melainkan merambah kewirausahaan.
- Indonesia memiliki potensi sumber daya alam melimpah—tanah subur, ribuan sungai, dan iklim tropis—yang belum dimanfaatkan maksimal untuk sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan.
- Tito mencontohkan Selandia Baru yang sukses mengelola sektor agraris, dan menilai wirausaha di bidang tersebut bisa menghasilkan pendapatan lebih besar daripada menjadi aparatur negara.

Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian meminta mahasiswa Politeknik "Ben Mboi" Universitas Pertahanan (Unhan) di Nusa Tenggara Timur untuk tidak mempersempit pilihan karier hanya pada institusi keamanan atau birokrasi. Menurutnya, lulusan pendidikan vokasi justru memiliki peluang lebih besar untuk sukses jika berani merintis usaha sendiri, terutama di sektor agraris dan kelautan yang menjadi unggulan daerah.
"Saya ingin membuka pemikiran adik-adik. Vokasi ini penting, tapi jangan hanya berpikir satu pilihan, ingin menjadi TNI, polisi, ASN," ujar Tito saat mengunjungi kampus di Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, Sabtu (27/6). Pernyataan itu disampaikan di hadapan mahasiswa yang tengah menempuh pendidikan vokasi di bidang pertanian, perkebunan, perikanan tangkap, dan budidaya laut.
Tito menilai Politeknik "Ben Mboi" merupakan model pendidikan vokasi unggulan yang membekali mahasiswa dengan keterampilan terapan. Namun, ia mengingatkan bahwa kompetensi tersebut harus diarahkan pada penciptaan lapangan kerja, bukan sekadar mencari pekerjaan. "Negara kita lebih banyak membutuhkan wiraswasta," tegasnya, seraya menyebut posisi Indonesia sebagai anggota G20—kelompok 20 negara dengan pendapatan domestik bruto terbesar—menuntut lebih banyak wirausaha yang mampu mengolah kekayaan alam.
Mendagri memaparkan keunggulan geografis Indonesia yang jarang dimiliki negara lain. Sebagai negara tropis dan kepulauan, tanah di Nusantara sangat subur berkat aktivitas vulkanik. Berbeda dengan kawasan Jazirah Arab yang gersang, Indonesia memiliki puluhan ribu aliran sungai dan ribuan danau yang menyediakan air melimpah. "Sumber air kita cukup, tapi belum maksimal digunakan. Cukup bagus untuk pertanian, perkebunan," katanya.
Ia mencontohkan Selandia Baru yang berhasil membangun kesejahteraan melalui pengembangan sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan. Menurut Tito, Indonesia memiliki potensi yang tidak kalah besar karena dikaruniai sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan sepanjang tahun. "Potensi untuk berusaha di bidang pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan itu sangat terbuka dan bisa menghasilkan—osan (uang) di sini lebih banyak daripada jadi anggota TNI, Polri, ASN," ujar Tito menggunakan bahasa daerah setempat.
Pernyataan ini menjadi pengingat bagi mahasiswa vokasi di daerah perbatasan seperti Belu untuk tidak hanya bergantung pada formasi aparatur negara yang terbatas. Dengan kekayaan alam yang dimiliki, kewirausahaan di sektor primer justru menawarkan prospek jangka panjang yang lebih cerah. Pertanyaannya, sejauh mana ekosistem pendukung—seperti akses permodalan, teknologi, dan pasar—akan dihadirkan untuk mewujudkan potensi tersebut?



