Tiga Studi Terbaru Ungkap Jalan Baru Menurunkan Risiko Stroke
Baca dalam 60 detik
- Pola makan Mediterania terbukti menurunkan risiko stroke pada wanita berdasarkan studi terhadap lebih dari 105.000 partisipan.
- Vaksin herpes zoster dikaitkan dengan penurunan kejadian kardiovaskular mayor, meski hubungan sebab-akibat belum terbukti.
- Obat oral asundexian menjadi terobosan baru pencegahan stroke sekunder setelah lima dekade aspirin sebagai terapi utama.

Stroke masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia, namun tiga studi terbaru menawarkan harapan baru melalui pendekatan yang berbeda: pola makan, vaksinasi, dan obat oral. Temuan ini tidak hanya relevan bagi pasien di negara maju, tetapi juga memberikan implikasi penting bagi Indonesia, di mana angka stroke terus meningkat seiring perubahan gaya hidup.
Studi pertama yang dipublikasikan di jurnal Neurology Open Access pada 2026 melibatkan 105.614 wanita dan meneliti hubungan antara kepatuhan terhadap pola makan Mediterania dengan risiko stroke. Partisipan diberi skor berdasarkan seberapa dekat pola makan mereka dengan prinsip Mediterania—kaya buah, sayur, biji-bijian, lemak sehat, dan ikan. Hasilnya, wanita dengan skor tinggi memiliki risiko lebih rendah terkena stroke iskemik maupun hemoragik.
Hipertensi masih menjadi faktor risiko utama stroke, namun penelitian ini menegaskan bahwa intervensi diet dapat menjadi alat pencegahan yang kuat. Michelle Routhenstein, ahli diet terdaftar yang tidak terlibat dalam studi, menjelaskan bahwa penekanan pada minyak zaitun extra virgin, ikan kaya omega-3, serta kacang-kacangan dapat memperbaiki fungsi endotel, kualitas kolesterol, dan mengatur tekanan darah. Di Indonesia, adopsi pola makan serupa—misalnya dengan memperbanyak konsumsi sayur lokal dan ikan laut—bisa menjadi strategi pencegahan yang murah dan terjangkau.
Studi kedua, yang dipresentasikan pada Sidang Ilmiah Tahunan American College of Cardiology (ACC.26) Maret 2026, mengamati efek vaksin herpes zoster terhadap kesehatan jantung. Dengan melibatkan 275.304 penerima vaksin dan jumlah kontrol yang sama, peneliti menemukan bahwa kelompok yang divaksinasi mengalami lebih sedikit kejadian kardiovaskular mayor. Meski demikian, studi observasional ini belum dipublikasikan di jurnal peer-review, sehingga belum bisa menyimpulkan hubungan kausal. Cheng-Han Chen, kardiolog intervensi dari MemorialCare Saddleback Medical Center, menekankan bahwa temuan ini memperkuat rekomendasi vaksinasi bagi usia 50 tahun ke atas, terutama yang memiliki penyakit kardiovaskular.
Studi ketiga membawa angin segar bagi pencegahan stroke berulang. Dipublikasikan di New England Journal of Medicine pada April 2026, penelitian ini menguji asundexian, antikoagulan oral yang bekerja dengan menghambat faktor pembekuan XIa. Obat ini ditujukan bagi pasien yang pernah mengalami stroke iskemik non-kardiometabolik atau transient ischemic attack (TIA) berisiko tinggi. Ashkan Shoamanesh, peneliti utama dari Population Health Research Institute, menyebut temuan ini sebagai peningkatan signifikan pertama dalam pencegahan stroke sekunder setelah lima dekade aspirin menjadi andalan. Di Indonesia, di mana akses terhadap terapi antikoagulan masih terbatas, kehadiran asundexian bisa menjadi opsi baru yang menjanjikan—meski tantangan biaya dan distribusi masih perlu diatasi.
Ketiga studi ini, meski masih memerlukan validasi lebih lanjut, membuka pintu bagi strategi pencegahan stroke yang lebih personal dan berbasis bukti. Pertanyaan selanjutnya adalah: seberapa cepat temuan ini dapat diadopsi dalam praktik klinis di Indonesia, dan apakah kebijakan kesehatan masyarakat akan cukup responsif untuk mengintegrasikan vaksinasi dan intervensi diet sebagai prioritas?



