Pemecah Rekor NFL Chris Johnson Umumkan Diagnosis ALS, Serukan Riset Lebih Intensif
Baca dalam 60 detik
- Mantan bintang NFL Chris Johnson mengungkapkan bahwa ia didiagnosis ALS pada usia 39 tahun, penyakit neurodegeneratif yang belum ada obatnya.
- Johnson, yang masih memegang rekor yard dari scrimmage dalam satu musim, kini menggunakan alat bantu bicara dan mengikuti terapi eksperimental.
- Kasusnya menyoroti misteri penyebab ALS pada atlet dan mendorong seruan untuk deteksi dini serta pendanaan riset yang lebih besar.

Chris Johnson, mantan running back NFL yang namanya terukir dalam buku rekor liga, mengumumkan bahwa ia didiagnosis menderita amyotrophic lateral sclerosis (ALS) pada usia 39 tahun. Pengakuan ini ia sampaikan dalam wawancara dengan Good Morning America, tidak hanya untuk berbagi kisah pribadi tetapi juga untuk meningkatkan kesadaran publik tentang penyakit degeneratif yang masih diselimuti misteri.
Johnson, yang kini berusia 40 tahun, pertama kali merasakan kelemahan pada tangan kanannya. Gejala yang awalnya tampak sepele—seperti genggaman yang tidak lagi kuat—ternyata menjadi awal dari perjalanan panjang melawan ALS. Penyakit ini, menurut NHS Inggris, merupakan bentuk paling umum dari motor neurone disease (MND), bersifat progresif, dan hingga saat ini belum ditemukan obatnya. Tidak ada riwayat ALS dalam keluarganya, membuat diagnosis ini semakin mengejutkan.
Dalam kariernya yang cemerlang, Johnson terpilih tiga kali ke Pro Bowl dan memimpin NFL dalam yard rushing pada 2009 dengan 2.006 yard. Ia juga memegang rekor yard dari scrimmage dalam satu musim (2.509 yard), sebuah pencapaian yang belum terpecahkan. Namun, di balik gemerlap lapangan, ia kini harus berjuang melawan penyakit yang menyerang sel saraf motorik. Johnson mengaku bahwa ia kini menggunakan alat bantu bicara untuk berkomunikasi, sebuah realitas pahit yang ingin ia bagikan agar publik memahami betapa cepat ALS dapat melumpuhkan tubuh.
Keputusan Johnson untuk mencari pengobatan alternatif dipicu oleh wawancara dengan Dr. Merit Cudkowicz dan almarhum aktor Eric Dane, yang meninggal pada Februari lalu akibat ALS. "Dia bersedia berpikir lebih kreatif, menawarkan perawatan eksperimental yang mungkin membantu dan memajukan riset," kata Johnson. Sejak itu, ia bergabung dengan tim dokter tersebut, yang menurutnya mengubah arah perjuangannya. Namun, ia juga jujur bahwa meskipun telah melakukan segalanya, termasuk berpartisipasi dalam beberapa terapi eksperimental, ia bahkan tidak bisa memegang cangkir.
Kasus Johnson kembali memicu pertanyaan tentang hubungan antara olahraga profesional dan risiko ALS. Beberapa studi sebelumnya menunjukkan bahwa atlet, terutama mereka yang sering mengalami benturan kepala, mungkin memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit neurodegeneratif. Meskipun belum ada kesimpulan pasti, kisah Johnson menambah daftar panjang atlet yang harus berhadapan dengan ALS, termasuk legenda bisbol Lou Gehrig dan pemain sepak bola Steve Gleason.
Bagi Indonesia, berita ini menjadi pengingat akan pentingnya deteksi dini dan dukungan riset penyakit langka. Meskipun ALS tergolong jarang di Tanah Air, kesadaran publik terhadap MND masih rendah. Organisasi seperti Yayasan ALS Indonesia dan komunitas pasien MND terus berupaya mengedukasi masyarakat dan mendorong pemerintah untuk meningkatkan akses terhadap perawatan paliatif serta pendanaan riset. Kasus Johnson, dengan platform globalnya, bisa menjadi katalis untuk diskusi yang lebih luas tentang perlunya investasi dalam penelitian penyakit neurodegeneratif di negara berkembang.
Johnson menutup pernyataannya dengan seruan mendesak: "Deteksi dini, lebih banyak riset, dan perawatan yang lebih baik sangat penting. Kita harus memberi orang kesempatan yang lebih baik daripada yang tersedia saat ini." Pertanyaan yang kini menggantung: akankah pengakuan seorang atlet papan atas mampu menggerakkan perubahan nyata dalam pendanaan dan penelitian ALS, atau akankah penyakit ini terus menjadi salah satu misteri terbesar dunia medis?



