Kebocoran Amonia di Pabrik Es Singapura: Dua Orang Dirawat, Ratusan Dievakuasi
Baca dalam 60 detik
- Kebocoran amonia di Jurong Marine Cold Storage memicu evakuasi tiga gedung dan melukai dua pekerja.
- Tim HazMat berhasil menutup katup pipa yang bocor dalam waktu lima jam, memastikan tidak ada kebocoran lanjutan.
- Insiden ini menyoroti risiko keselamatan di industri pendingin yang menggunakan amonia sebagai refrigeran.

Kebocoran gas amonia di kompleks gudang pendingin di Fishery Port Road, Jurong, pada Senin (29/6) menyebabkan dua orang dilarikan ke rumah sakit dan memaksa evakuasi tiga bangunan di sekitarnya. Insiden yang terjadi sekitar pukul 11.45 waktu setempat ini menimbulkan kepanikan di kalangan pekerja dan menghambat operasional pengiriman es.
Pasukan Pertahanan Sipil Singapura (SCDF) segera merespons laporan kebocoran di 11 Fishery Port Road, lokasi pemasok es Jurong Marine Cold Storage. Begitu tiba, tim pemadam kebakaran mendeteksi adanya amonia di area kompleks. Sebagai langkah antisipasi, dua gedung tetanggaโ9 dan 15 Fishery Port Roadโjuga dikosongkan. Spesialis bahan berbahaya (HazMat) kemudian melacak sumber kebocoran pada sebuah pipa di dalam ruangan.
SCDF mengonfirmasi bahwa katup suplai ke pipa yang bocor telah dimatikan dan kebocoran ditutup rapat. Pembacaan terakhir dari detektor HazMat memastikan tidak ada kebocoran lebih lanjut. Para pekerja yang dievakuasi dari dua gedung tetangga diizinkan kembali setelah pukul 17.00. Sekitar pukul 16.30, kordon polisi sempat dibuka untuk selusin karyawan yang hendak memasuki area luar gedung.
Seorang karyawan yang enggan disebutkan namanya mengaku ketakutan saat mendengar kebocoran amonia. Menurutnya, meski jarang terjadi, insiden serupa pernah terjadi sebelumnya. Ia terpaksa menunggu di luar sejak pukul 15.00 bersama truk pengirimannya, dan khawatir tidak bisa memenuhi pengiriman es pada malam hari. Sekitar sepuluh truk es masih terparkir di sepanjang jalan saat kordon masih berlaku.
Amonia adalah gas tidak berwarna dengan bau menyengat yang banyak digunakan sebagai refrigeran di industri pendingin, pupuk, dan pembersih. Paparan kadar tinggi dapat mengiritasi kulit, mata, tenggorokan, dan paru-paru, serta menyebabkan batuk dan luka bakar. Di Indonesia, penggunaan amonia di pabrik es dan cold storage juga lazim, sehingga insiden ini menjadi pengingat pentingnya prosedur keselamatan dan deteksi dini kebocoran.
Ke depannya, regulator dan pelaku industri di kawasan Asia Tenggara mungkin perlu meninjau ulang standar pemeliharaan sistem pendingin berbasis amonia. Apakah insiden ini akan mendorong adopsi refrigeran alternatif yang lebih aman, atau justru memperketat inspeksi berkala? Jawabannya masih harus ditunggu.



