Gugatan Baru Menimpa Kylie Jenner: Koki Alami Keguguran Akibat Beban Kerja
Baca dalam 60 detik
- Seorang koki yang bekerja di kediaman Kylie Jenner menggugat setelah mengalami keguguran yang diduga akibat tuntutan pekerjaan yang ekstrem.
- Gugatan ini menjadi yang ketiga dalam waktu singkat yang dihadapi Kylie Jenner, menyoroti praktik ketenagakerjaan di kalangan selebritas.
- Kasus ini berpotensi memicu diskusi global tentang perlindungan pekerja hamil, termasuk di Indonesia yang memiliki regulasi ketenagakerjaan serupa.

Kylie Jenner kembali berhadapan dengan hukum. Seorang koki yang pernah bekerja di rumahnya menggugat selebritas tersebut, menuding kondisi kerja yang tidak manusiawi menyebabkan dirinya kehilangan janin yang dikandungnya. Gugatan yang diajukan di Pengadilan Tinggi Los Angeles ini menambah daftar panjang tuntutan hukum yang telah membayangi pengusaha kosmetik itu.
Menurut dokumen pengadilan yang diperoleh majalah People, koki tersebut โ yang identitasnya dirahasiakan โ dipekerjakan pada November 2024 saat usia kehamilannya memasuki tiga bulan. Manajemen disebut telah mengetahui bahwa ia memiliki kehamilan berisiko tinggi, namun tetap membebaninya dengan tugas berat. Dalam waktu beberapa minggu, ia mengalami kondisi darurat medis setelah diminta memindahkan bahan makanan berat di area perbukitan.
Kejadian itu memicu sesak napas parah hingga ia harus dibantu petugas keamanan. Ironisnya, alih-alih mendapat pertolongan, ia justru ditegur karena dianggap membuat bosnya tidak nyaman. Puncaknya terjadi pada 1 Februari 2025, saat ia bekerja di pesta ulang tahun salah satu anak Kylie Jenner. Koki itu mengaku tidak mendapat dukungan yang memadai dan permintaannya untuk bantuan diabaikan begitu saja.
Dalam pernyataan yang disertakan dalam berkas gugatan, koki tersebut menggambarkan bagaimana ia akhirnya runtuh secara emosional di kamar mandi saat acara berlangsung. โKarena kelelahan dan tekanan fisik yang luar biasa, ia menangis histeris,โ tulis dokumen itu. Keesokan paginya, ia mengalami pendarahan dan segera dilarikan ke rumah sakit, di mana dokter menyampaikan kabar tragis bahwa janinnya tidak dapat diselamatkan.
Alih-alih mendapat simpati, koki itu justru dituduh meninggalkan dapur dalam keadaan berantakan setelah acara di Palm Springs. Seminggu kemudian, ia kembali dirawat karena pendarahan hebat. Setelah itu, ia memutuskan pindah ke New York. Namun, manajemen menganggap kepindahan itu sebagai pengunduran diri sukarela. Pada 14 Maret 2025, ia diberitahu bahwa penugasannya di rumah Kylie Jenner dicabut, dengan tanggal efektif 31 Maret 2025.
Gugatan ini juga menyeret perusahaan manajemen Tri Star sebagai turut tergugat. Koki tersebut menuding adanya diskriminasi, pelecehan, pembalasan, perlakuan tidak adil terkait kehamilan, kegagalan menyediakan akomodasi yang layak, serta pelanggaran upah. Pengacaranya, Della Shaker, mengatakan bahwa langkah hukum ini diambil setelah pertimbangan matang. โKlien kami berharap pengalamannya bisa mendorong orang lain yang berada dalam situasi serupa untuk tidak takut bersuara,โ ujar Shaker.
Kylie Jenner sendiri sebelumnya telah menghadapi dua gugatan dari mantan karyawan lain, meskipun detail kasus tersebut belum banyak terungkap. Gugatan terbaru ini menambah tekanan pada citra publiknya sebagai pengusaha sukses di usia muda.
โKlien kami berharap pengalamannya bisa mendorong orang lain yang berada dalam situasi serupa untuk tidak takut bersuara.โ โ Della Shaker, pengacara penggugat
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya perlindungan bagi pekerja hamil. Undang-Undang Ketenagakerjaan Indonesia sebenarnya telah mengatur hak cuti melahirkan dan larangan diskriminasi berbasis kehamilan. Namun, implementasi di lapangan seringkali lemah, terutama di sektor informal dan rumah tangga. Kasus seperti ini bisa menjadi momentum untuk mendorong penegakan hukum yang lebih ketat dan kesadaran akan hak-hak pekerja hamil di Tanah Air.
Koki tersebut menuntut sejumlah ganti rugi, termasuk kompensasi atas penderitaan emosional, kehilangan pendapatan, dan tunjangan pekerjaan. Pertanyaan besarnya kini: apakah tuntutan ini akan membuka tabir praktik ketenagakerjaan di kalangan selebritas Hollywood, atau justru tenggelam dalam penyelesaian di luar pengadilan?



