Studi Jepang: Tekstur Gelas Kopi Bisa Ubah Persepsi Rasa Asam
Baca dalam 60 detik
- Peneliti Chuo University membuktikan bahwa tekstur sleeve gelas kopi memengaruhi penilaian rasa asam secara signifikan.
- Partisipan yang menyentuh sleeve kasar lalu halus menganggap kopi kedua kurang asam, sementara urutan sebaliknya tidak berdampak.
- Temuan ini membuka peluang bagi industri kopi dan konsumen untuk menyesuaikan preferensi rasa lewat pilihan tekstur wadah.

Sentuhan tangan pada permukaan gelas ternyata bisa mengubah cara otak menafsirkan rasa kopi. Tim riset dari Chuo University, Jepang, menemukan bahwa tekstur sleeve—lapisan luar gelas—secara langsung memengaruhi persepsi keasaman minuman, bahkan tanpa melibatkan indra penglihatan atau bibir.
Penelitian sebelumnya sudah mengonfirmasi bahwa warna, bentuk, dan material cangkir mempengaruhi penilaian rasa. Namun, peran indra peraba masih menjadi titik buta karena sulit memisahkan efek visual dan sentuhan bibir. Tim yang dipimpin profesor psikologi kognitif Atsunori Ariga merancang eksperimen untuk mengisolasi variabel tekstur.
Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Multisensory Research pada 3 Juni lalu, para peneliti menyiapkan dua jenis sleeve: satu berbahan amplas (kasar) dan satu dari kertas kraft (halus). Sebanyak 92 partisipan yang ditutup matanya diminta meminum kopi hitam bersuhu 68 derajat Celsius dari gelas yang dilengkapi sleeve tersebut secara berurutan.
Hasilnya menunjukkan pola yang konsisten. Partisipan yang pertama kali menyentuh sleeve kasar lalu beralih ke sleeve halus secara signifikan lebih cenderung menilai kopi kedua sebagai kurang asam. Sebaliknya, kelompok yang memulai dari sleeve halus lalu beralih ke kasar tidak melaporkan perubahan persepsi keasaman yang berarti.
Menurut tim peneliti, otak secara alami mengasosiasikan tekstur kasar dengan "asam kuat" dan tekstur halus dengan "asam ringan". Ketika seseorang menyentuh permukaan halus setelah permukaan kasar, asosiasi "asam ringan" muncul dan berpadu dengan adaptasi sensorik—penurunan sensitivitas rasa akibat paparan berulang—sehingga kopi terasa kurang asam. Namun, jika sentuhan kasar datang belakangan, asosiasi "asam kuat" justru meniadakan efek adaptasi, sehingga persepsi keasaman tidak berubah.
Profesor Ariga menekankan bahwa temuan ini memiliki implikasi praktis. "Penemuan ini bisa membuka cara baru dalam memilih cangkir atau sleeve yang sesuai dengan preferensi rasa pribadi. Membawa cangkir atau sleeve sendiri juga dapat mendorong perilaku konsumen yang lebih ramah lingkungan," ujarnya.
Bagi Indonesia, negara dengan budaya kopi yang kuat, riset ini relevan. Para pecinta kopi di Tanah Air kerap memperhatikan suhu, metode seduh, dan jenis biji, namun jarang mempertimbangkan tekstur wadah. Kedai kopi specialty di Jakarta, Bandung, atau Yogyakarta bisa memanfaatkan temuan ini untuk menyempurnakan pengalaman minum kopi—misalnya dengan menyediakan sleeve berbahan berbeda untuk menu espresso dan pour-over. Produsen gelas dan aksesori kopi lokal juga berpeluang mengembangkan produk inovatif yang menggabungkan fungsi dan sensori.
Pertanyaan selanjutnya: akankah industri kopi Indonesia mulai merancang wadah berdasarkan psikologi sentuhan, atau justru konsumen yang akan lebih selektif memilih gelas favorit mereka?



